Tampilkan postingan dengan label CERITA INSPIRATIF. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CERITA INSPIRATIF. Tampilkan semua postingan

Senin, 24 Maret 2014

Cerita Inspiratif : Bosan hidup


Seorang pria setengah baya mendatangi seorang guru ngaji, “Ustad, saya sudah bosan hidup. Sudah jenuh betul. Rumah tangga saya berantakan. Usaha saya kacau, seolah-olah hidupku sudah hancur. Apapun yang saya lakukan selalu berantakan. Saya ingin mati.”
Sang Ustad pun tersenyum, “Oh, kamu sakit.”
“Tidak Ustad, saya tidak sakit. Saya sehat. Hanya jenuh dengan kehidupan. Itu sebabnya saya ingin mati.”
Seolah-olah tidak mendengar pembelaannya, sang Ustad meneruskan, “Kamu sakit. Dan penyakitmu itu sebutannya, ‘Alergi Hidup’. Ya, kamu alergi terhadap kehidupan.”
Banyak sekali di antara kita yang alergi terhadap kehidupan.
Kemudian, tanpa disadari kita melakukan hal-hal yang bertentangan dengan norma kehidupan. Hidup ini berjalan terus. Sungai kehidupan mengalir terus, tetapi kita menginginkan status-quo. Kita berhenti di tempat, kita tidak ikut mengalir. Itu sebabnya kita jatuh sakit. Kita mengundang penyakit. Resistensi kita, penolakan kita untuk ikut mengalir bersama kehidupan membuat kita sakit. Yang namanya usaha, pasti ada pasang-surutnya.
Dalam hal berumah-tangga, bentrokan-bentrokan kecil itu memang wajar, lumrah. Persahabatan pun tidak selalu langgeng, tidak abadi. Apa sih yang langgeng, yang abadi dalam hidup ini? Kita tidak menyadari sifat kehidupan.
Kita ingin mempertahankan suatu keadaan. Kemudian kita gagal, kecewa dan menderita.
“Penyakitmu itu bisa disembuhkan, asal kamu ingin sembuh dan bersedia mengikuti petunjukku.” demikian ujar sang Ustad.
“Tidak Ustad, tidak. Saya sudah betul-betul jenuh. Tidak, saya tidak ingin hidup.” pria itu menolak tawaran sang Ustad.
“Jadi kamu tidak ingin sembuh. Kamu betul-betul ingin mati?”
Ya, memang saya sudah bosan hidup.”
“Baik, besok sore kamu akan mati. Ambillah botol obat ini. Setengah botol diminum malam ini, setengah botol lagi besok sore jam enam, dan jam delapan malam kau akan mati dengan tenang.”
Giliran dia menjadi bingung. Setiap Ustad yang ia datangi selama ini selalu berupaya untuk memberikannya semangat untuk hidup. Tapi ustadz yang satu ini aneh. malah Ia bahkan menawarkan racun. Tetapi, karena ia memang sudah betul-betul jenuh, ia menerimanya dengan senang hati.
Pulang kerumah, ia langsung menghabiskan setengah botol racun yang disebut “obat” oleh Ustad edan itu. Dan, ia merasakan ketenangan sebagaimana tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Begitu rileks, begitu santai! Tinggal 1 malam, 1 hari, dan ia akan mati. Ia akan terbebaskan dari segala macam masalah.
Malam itu, ia memutuskan untuk makan malam bersama keluarga di restoran masakan Jepang.
Sesuatu yang sudah tidak pernah ia lakukan selama beberapa tahun terakhir. Pikir-pikir malam terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis. Sambil makan, ia bersenda gurau. Suasananya santai banget! Sebelum tidur, ia mencium bibir istrinya dan membisiki di kupingnya, “Sayang, aku mencintaimu.” Karena malam itu adalah malam terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis!
Esoknya bangun tidur, ia membuka jendela kamar dan melihat ke luar. Tiupan angin pagi menyegarkan tubuhnya. Dan ia tergoda untuk melakukan jalan pagi. Pulang kerumah setengah jam kemudian, ia menemukan istrinya masih tertidur. Tanpa membangunkannya, ia masuk dapur dan membuat 2 cangkir kopi. Satu untuk dirinya, satu lagi untuk istrinya.
Karena pagi itu adalah pagi terakhir,ia ingin meninggalkan kenangan manis! Sang istripun merasa aneh sekali, “Mas, apa yang terjadi hari ini? Selama ini, mungkin aku salah. Maafkan aku, mas.”
Di kantor, ia menyapa setiap orang, bersalaman dengan setiap orang.
Stafnya pun bingung, “Hari ini, Bos kita kok aneh ya?”
Dan sikap mereka pun langsung berubah. Mereka pun menjadi lembut. Karena siang itu adalah siang terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis! Tiba-tiba, segala sesuatu di sekitarnya berubah. Ia menjadi ramah dan lebih toleran, bahkan apresiatif terhadap pendapat-pendapat yang berbeda. Tiba-tiba hidup menjadi indah. Ia mulai menikmatinya.
Pulang kerumah jam 5 sore, ia menemukan istri tercinta menungguinya di beranda depan.
Kali ini justru sang istri yang memberikan ciuman kepadanya, “Mas, sekali lagi aku minta maaf, kalau selama ini aku selalu merepotkan kamu.”
Anak-anak pun tidak ingin ketinggalan, “Ayah, maafkan kami semua. Selama ini, ayah selalu stres karena perilaku kami semua.”
Tiba-tiba, sungai kehidupannya mengalir kembali. Tiba-tiba, hidup menjadi sangat indah. Ia membatalkan niatnya untuk bunuh diri. Tetapi bagaimana dengan setengah botol yang sudah ia minum, sore sebelumnya?
” Ya Allah, apakah maut akan datang kepadaku. Tundalah kematian itu ya Allah. Aku takut sekali jika aku harus meninggalkan dunia ini “.
Ia pun buru-buru mendatangi sang Ustad yang telah memberi racun kepadanya.
Sesampainya dirumah ustad tersebut, pria itu langsung mengatakan bahwa ia akan membatalkan kematiannya. Karena ia takut sekali jika ia harus kembali kehilangan semua hal yang telah membuat dia menjadi hidup kembali.
Apa yg terjadi memb, melihat wajah pria itu, rupanya sang Ustad langsung mengetahui apa yang telah terjadi, sang ustad pun berkata
“Buang saja botol itu. Isinya air biasa kok..
Kau sudah sembuh, Apabila kau hidup dalam kepasrahan, apabila kau hidup dengan kesadaran bahwa maut dapat menjemputmu kapan saja, maka kau akan menikmati setiap detik kehidupan.
Leburkan egomu, keangkuhanmu, kesombonganmu. Jadilah lembut, selembut air. Dan mengalirlah bersama sungai kehidupan. Kau tidak akan jenuh, tidak akan bosan.
Kau akan merasa hidup. Itulah rahasia kehidupan. Itulah kunci kebahagiaan. Itulah jalan menuju ketenangan Percayalah .. Allah bersama kita.”
Lalu Pria itu mengucapkan terima kasih dan menyalami Sang Ustad, lalu pulang ke rumah, untuk mengulangi pengalaman malam sebelumnya. Ah, indahnya dunia ini ……

Sumber: Islam itu baik

Minggu, 08 September 2013

Berjuang Agar Anak Desa Tak Telantar

Perjuangan seorang kawan,

Cita-cita Rodiyah menjadi guru kini sudah tercapai. Meski hanya lulusan SMP, ia bekerja keras untuk mengelola TK Penimbun di Kecamatan Karanggayam Kebumen sejak tahun 2005. Karena harus berjuang menjadi guru TK, Rodiyah pun melanjutkan sekolah kejar paket serta kuliah di Universitas Terbuka (UT).
Semua berawal pada saat Plan mulai berperan dengan menginisiasi pendirian TK untuk pembelajaran anak-anak di Penimbun. Plan sendiri masuk ke Penimbun pada tahun 2003. Setelah Plan memberikan pelatihan dan pengenalan untuk merencanakan pendirian TK, dua tahun kemudian, tepatnya pada 10 Januari 2005, TK Penimbun sudah mulai diterapkan pembelajaran. Ada dua guru yang mengelola, yakni Rodiyah dan Sarmi.
Karena belum punya gedung, TK menempati rumah salah satu penduduk. Kondisinya pun seadanya. Kala hujan, genting rumah bocor di sana-sini. Setahun kemudian, tepatnya pada Januari 2006 Plan membantu pembuatan gedung. Lahan untuk pembangunan TK itu wakaf dari salah satu warga.
Sejak dulu, guru TK Penimbun hanya ada dua. Tapi, hanya Rodiyah yang tak pernah ganti. “Guru yang lain sudah ganti tiga kali,” kata Rodiyah di sela-sela aktivitas mengajarnya, 2 Februari 2013 silam.
Bu Sarmi berhenti karena sakit. Selama enam bulan ia harus kontrol rutin karena sakit flek di paru-paru. Ia pun mengundurkan diri karena merasa kurang nyaman saat dekat dengan anak-anak. Guru kedua, pengganti Sarmi, juga pindah ke Kalimantan. Guru ketiga yang kini menemani Rodiyah.
“Kebetulan saja saya di sini terus. Tidak punya tempat lain,” kata Rodiyah. Sebab di desanya sangat sulit mencari pengajar di TK karena memang harus benar-benar ikhlas.
Sempat Bekerja Sebagai Buruh
Sebelum menjadi pengajar TK, Rodiyah sempat membanting tulang menjadi buruh. Ia pernah menjadi buruh pabrik sepatu di Jakarta pada 1996-1998 selama dua tahun dengan gaji Rp 60 ribu per bulan. Rodiyah juga pernah bekerja di konveksi di Pademangan Jakarta. Karena tidak punya kemampuan menjahit, ia bekerja di bagian packing, mengantar barang ke toko dan pemesan. Di pabrik konveksi, Rodiyah bertahan hingga empat tahun. Setelah itu, ia pulang ke Kebumen dan menikah.
Proses Rodiyah menjadi pengajar pun terbilang singkat. Kala itu, Plan menantang warga: jika didirikan TK ada tidak warga yang mau menjadi pengajar. Kebetulan Rodiyah saat itu hanya menjadi ibu rumah tangga. “Dari pada bengong di rumah mending jadi guru. Apalagi saya juga pernah punya cita-cita jadi guru,” kata perempuan kelahiran di Kebumen, 22 Juli 1980 tersebut.
Setelah mendapatkan izin keluarganya, Rodiyah pun tekun untuk menjadi guru TK. Dia mengikuti berbagai pelatihan yang diberikan Plan. “Saya benar-benar dari nol. Fasilitator dan narasumbernya dari Plan adalah orang-orang yang kompeten di pendidikan TK. Saya merasa tiba-tiba tahu lebih banyak,” kenang Rodiyah.
Karena menjadi guru, Rodiyah pun tertantang untuk meningkatkan kualitasnya. Maklum, ia cuma lulus SMP. Sempat sekolah SMA tetapi keluar. Pada 2008, ia melanjutkan sekolah SMA melalui kejar paket. Lulus kejar paket ia pun mendaftar di Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Terbuka di Purwokerto. Kini, ia baru semester enam. Tiap hari minggu ia harus meluncur ke Purwokerto untuk kuliah.
Awal-awal menjadi guru, Rodiyah mengakui banyak hambatannya. Apalagi, ia harus menghadapi warga desa yang belum sadar pentingnya pendidikan. Kata dia, ada warga yang meremehkan sekolah TK. “Buat apa sekolah TK,” kata Rodiyah menirukan salah satu ucapan warga.
Karena pendidikan Rodiyah saat itu masih minim maka ia pun merasa kesusahan. “Sempat mengurangi kepercayaan diri saya,” kata dia. Dengan ketekunan, Rodiyah menghadapi itu semua. Pelan-pelan ia memberi pemahaman ke warga akan pentingnya pendidikan untuk anak. Bersama perangkat desa dan guru sekolah dasar, Rodiyah melakukan sosialisasi terus menerus. Ada kerjasama dengan guru SD untuk sosialisasi ke wali murid mengenai urgensi pendidikan anak usia dini.
Ada juga pertemuan guru SD, kepala SD, komite dengan wali murid. “Katanya setelah ada TK, hasilnya bagus untuk anak SD. Anak mengerti bagaimana sekolah, belajar, dan berkawan,” papar Rodiyah.
Sekarang wali murid dan masyarakat juga sudah sangat mendukung keberadaan TK. Jika TK butuh apa-apa, masyarakat berinisiatif turun tangan. Pada saat tanah di belakang TK berpotensi longsor, warga berinisiatif memperbaikinya.
Kurikulum Berbasis Desa
Soal pembuatan kurikulum, Rodiyah memakai panduan dari kabupaten. Pada saat kurikulumnya Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), TK menerima kurikulum yang sudah jadi. Setelah itu, kurikulum diganti Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dengan sistem semua pelajaran dibuat sendiri disesuaikan dengan lingkungan sendiri.
Ia mencontohkan, karena TK di desa maka ada pembuatan bahan ajar berbahan alam. Beberapa waktu lalu, anak-anak TK diajak menanam padi bersama para petani. Juga ada penanaman jagung dan kacang di halaman belakang TK. “Potnya pakai bekas gelas kemasan. Karena desa kami juga dekat dengan pertanian,” kata Rodiyah.
Di TK Penimbun ada lima bidang pengembangan, yakni bahasa, moral emosional, kognitif, seni, dan kemandirian. Masuk mulai dari hari Senin hingga Sabtu pukul 07.30 hingga 10.00 WIB, Rodiyah kadang menambah ekstra sedikit berupa baca Iqro, menari, dan drum band. Alat drum band ini merupakan bantuan dari Plan PU Kebumen.
Karena sudah lama beroperasi, alat-alat permainan di TK Penimbun pun sudah aus. “Mainan-mainan dari besi perlu dicat ulang biar tidak berkarat dan aman bagi anak,” tutur Rodiyah. Kamar mandi yang posisinya miring juga perlu disangga dengan balok kayu. Tapi karena belum ada dana maka perbaikan belum dilakukan.
Maklum, sumber dana di TK Penimbun sangat minim. Ada sumber dana dari bantuan desa serta sumbangan komunitas perantauan. “Tapi jumlahnya sangat sedikit,” kata Rodiyah.
TK Berbiaya Murah
Sumber pendanaan lainnya dari wali murid. Itu pun sangat sedikit. Sebab, wali murid hanya dibebani membayar SPP saja. Ia membandingkan di TK lain biasanya kalau ada kegiatan maka akan memungut biaya dari wali murid. “Kalau kami tidak. Hanya mengandalkan anggaran satu tahunan itu saja. mau ada lomba atau tidak, tetap disiasati dari TK,” ujarnya.
Honor untuk pengajarnya sendiri dari SPP. Rodiyah mengaku sempat masuk di bagian Kesra di Pemda Kebumen. Tapi tahun 2012 ini dibatalkan (dicancel). Dari 23 guru di Kecamatan Karanggayam, sebanyak 13 guru dibatalkan. “Katanya sih ada pengurangan kuota. Tapi kami juga tidak menanyakan lebih jauh. Mungkin memang belum rezekinya. Kecuali ada upaya lain dari Diknas,” kata Rodiyah.
Rodiyah juga mengkritik adanya diskriminasi antara TK dengan Pendidikan Usia Dini (PAUD). Saat ini, kata Rodiyah, PAUD sedang digalakan pemerintah. Akibatnya, TK agak ditelantarkan dan jarang dilirik lagi. “Kalau PAUD bikin proposal kegiatan, sering digolkan,” kata Rodiyah.
Tetapi, Rodiyah merasa masih sangat beruntung. Sebab, warga dan komite sekolah sangat mendukung keberadaan TK Penimbun. Jika TK ada kekurangan, komite langsung bergerak. Ia mencontohkan, pada saat TK kekurangan guru maka komite melobi dari rumah ke rumah mencari guru. Karena tak mendapatkan gaji memadai, tak banyak warga yang mau menjadi guru.
Rodiyah belum punya rencana ke depan untuk pengembangan TK-nya. Kini, Rodiyah hanya punya satu harapan: TK yang ia kelola bisa tetap berjalan, tidak berhenti beroperasi. “Sehingga anak-anak desa tidak telantar,” kata Rodiyah.

Peraturan Desa tentang Batas Desa

Cerita dari seorang kawan:
Berharganya Tiap Jengkal Tanah Desa

Ukur-mengukur tanah di Desa Penimbun itu seru! Di balik aktivitas berbau teknis itu, tersimpan cerita menarik dari para pelakunya. Mereka memang bukan petugas ukur tanah, hanya warga biasa. Mungkin itu pula yang membuat pengalaman mereka jadi tak terlupakan.
Salah satu warga Desa Penimbun yang bersedia membagi kisahnya adalah Haminah. Perempuan kelahiran 5 Mei 1977 ini memang aktif di desa. Ia tidak hanya menjadi pegiat Kelompok Perlindungan Anak Desa (KPAD), tapi juga tergabung bersama 3 perempuan dan 11 laki-laki dalam Tim Penyusun Perdes Partisipatif Batas Desa. Tim ini terdiri dari unsur perangkat desa dan lembaga desa.
Pembuatan Perdes Partisipatif Batas Desa ini dipicu oleh adanya sengketa tanah gege di perbatasan desa antara Penimbun dan Ginandong. Tanah gege adalah tanah peninggalan zaman pemerintahan Belanda. Ketika Indonesia merdeka, status tanah tersebut milik pemerintah Indonesia. Namun, tanah tersebut justru dimiliki oleh perseorangan. Sengketanya sudah berlangsung lama. Teredam sesaat, kemudian muncul lagi. Tak kunjung selesai.
Selain itu, seorang peneliti yang datang ke Penimbun mengatakan bahwa batu-batu yang ada di desa ini mengandung mineral tertentu. Orang-orang kemudian datang sesuka hati untuk mengambilnya. Tentu saja, itu memunculkan amarah warga karena aset mereka diambil tanpa izin.
Hal itulah yang kemudian menginisiasi Badan Permusyawaratan Desa Penimbun agar pemerintah desa membuat Perdes Partisipatif Batas Desa pada tahun 2010. Plan pun memfasilitasi mereka dengan mengadakan focused group discussion yang menghadirkan pihak Agraria, Bapermasdes, juga FORMASI sebagai narasumber. “Perdes ini untuk melindungi aset yang ada di desa. Jadi, ketika kita mau mengatur aset desa, kita harus tahu dulu batas wilayah kita mana saja,” terang Haminah.
Hal ini sejalan dengan Permendagri Nomor 27 Tahun 2006 bahwa batas-batas wilayah bagi desa mempunyai peran penting sebagai batas wilayah yurisdiksi pemisah wilayah penyelenggaraan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan suatu desa. Oleh karena itu, kegiatan penetapan dan penegasan batas desa perlu dilakukan untuk memberikan kepastian hukum terhadap batas-batas desa. Hal tersebut juga untuk mencegah tidak terjadinya tumpang tindih aset desa.
Penetapan batas pun dilakukan oleh Tim melalui serangkaian tahapan penelitian dokumen batas, penentuan peta dasar, dan delineasi garis batas secara kartometrik di atas peta dasar. Penegasan batas desa dilakukan melalui tahapan penentuan dokumen penetapan batas, pelacakan garis batas, pemasangan pilar batas, pengukuran batas dan pilar batas, penentuan koordinat titik-titik batas dan pilar batas, serta pembuatan peta batas wilayah desa.

Sebagai bagian dari proses penyusunan Perdes tersebut, mereka mau tak mau harus turun ke lapangan. Menyusuri sungai, mendaki bukit, turun ke lembah, melalui setapak yang tak biasa, bahkan membabat hutan dengan golok untuk buka jalan baru. Selama melakoni aktivitas tersebut, Haminah dan tiga perempuan lainnya bertugas membawa bekal. Para pria yang babat alas dan mengukur dengan meteran.
“Kami mengukur batas desa itu lama lho! Butuh waktu lebih dari sebulan. Berangkat pagi, pulang sore. Kadang melewati jurang atau berjalan di tebing. Tapi, saya salut dengan teman-teman. Meskipun capek luar biasa, tapi semangatnya juga luar biasa,” tutur Haminah.
Padahal selain medan yang menantang, mereka juga dihadapkan pada masalah yang tidak sepele dengan pihak lain. Misalnya, ketika mau menemui kepala desa sebelah dan tidak berjumpa, mereka datang lagi keesokan harinya. Saat bertemu, mereka malah dimarah-marahi. “Dia bilang, urus saja desamu sendiri. Tapi, karena kami santai saja, tidak menganggap itu sebagai masalah. Maklum, masing-masing kepala desa kan karakternya berbeda-beda,” jelas ibu dua anak ini.
Kendala lainnya adalah miskomunikasi yang terjadi antara pihak Perhutani dengan pihak desa. Sebelum pengukuran batas desa dilakukan, tim berkomunikasi dulu dengan Perhutani. Sebab, di beberapa bagian tanah desa ada yang bersisian dengan wilayah hutan milik Perhutani. Ketika tim turun ke lokasi, muncul konflik dengan petugas lapangan Perhutani. “Mereka mengira warga desa mau menguasai lahan. Padahal maksud kami adalah untuk mengetahui batas desa. Mana hutan yang masuk wilayah Penimbung, mana yang masuk wilayah Perhutani. Nah, orang-orang Perhutani di lapanan mengira kami mau menguasai,” terang Haminah.
Situasi yang menegangkan tersebut muncul di beberapa titik. Ada petugas Perhutani yang memang sudah paham maksud kehadiran mereka. Ada juga yang belum. Namun, setelah persoalan dipahamkan dan koordinasi kembali dilakukan, situasi pun mencair. “Itulah sisi seru dan menariknya. Ada kenikmatan sendiri. Kami jadi tahu desa kami seperti apa. Batasnya bagaimana. Kami benar-benar keliling saat pengukuran dan pematokan batas desa,” ucap perempuan lulusan Paket C ini.
Apa yang dikerjakan oleh Tim Perdes Partisipatif Batas Desa ini memang dilandasi oleh motivasi yang kuat, yakni menjaga aset-aset desa dan mencegah konflik batas desa yang telah terjadi sejak dulu. “Kami membayangkan apa yang kami lakukan ini akan bermanfaat beberapa puluh tahun ke depan bagi anak cucu kami. Bahwa, mereka tahu batas desa mereka sampai di sini dan di situ. Ini juga karena kami tidak ingin mengulangi kesalahan peninggalan orangtua kami.”
Sejauh ini, setelah Perdes jadi, tidak ada konflik yang berarti lagi. “Meskipun begitu, kalau sampai terjadi sesuatu di desa kami terkait aset desa, kami lebih mudah mengatasinya,” ucapnya.
Masyarakat Penimbun yang berbatasan wilayah dengan Desa Poh Kumbang, Kenteng, Ginandong, Kalirejo, Karangmojo, dan Karanggayam pun merasakan manfaat dari adanya Perdes ini. Manfaat paling nyata adalah ketika ada sengketa tanah gege antara Penimbun dan Ginandong. Setelah ada Perdes ini, terbukti kalau tanah gege tersebut milik Desa Penimbun. Meskipun saat ini masih di tangan perseorangan, tapi Penimbun sudah tahu kalau itu tanah mereka. Hal yang lagi dipikirkan adalah cara mengembalikan kepemilikan tanah itu.
Di Kabupaten Kebumen sendiri, sejauh ini baru Penimbun yang punya Perdes Partisipatif Batas Desa. Sebuah terobosan yang patut diacungi jempol karena didukung sepenuhnya oleh masyarakat. Dukungan tersebut tentunya muncul dari kesadaran yang telah tertanam kuat bahwa tiap jengkal tanah desa itu sangat berarti.

Kisah Inspiratif: Latar Belakang Kurang Menyenangkan, Picu Selami Dunia Anak


Cerita dari seorang kawan;
“Dulu saya hanya tahu kalau punya anak, saya hanya perlu beri makan, pakaian, dan sekolahkan. Tapi, sekarang saya paham kalau anak juga harus diberi kesempatan untuk menyampaikan pendapatnya.”
Haminah sampai pada kesimpulan itu setelah sembilan tahun berproses bersama Plan. Ia menyadari, anak-anak punya pikiran dan dunianya sendiri. Mereka juga punya cara khas untuk mengutarakan pendapat. Pemahaman itulah yang coba ia suntikkan pada warga di sekitarnya.
Haminah mengawali kiprahnya sebagai relawan desa sejak 2004 ketika Plan masuk di Desa Penimbun, Kecamatan Karanggayam. Saat itu, ada kegiatan dari Plan yang melibatkan anak-anak. Ketentuannya, anak-anak tersebut harus ada pendamping laki-laki dan perempuan. Secara tiba-tiba, ia ditunjuk Kades Penimbun untuk mendampingi anak-anak berproses.
“Saya tidak tahu kalau itu namanya pendamping anak. Sejak itu, tiap kali ada kegiatan Plan, saya dilibatkan. Lama-kelamaan saya ditetapkan jadi pendamping anak karena saya yang sering berproses dengan mereka. Tidak ada acara pengangkatan secara formal,” tuturnya.
Anak-anak berproses, menurut Haminah, adalah mereka yang melakukan kegiatan, seperti mengadakan pertemuan atau membuat sesuatu, baik itu karya fisik maupun bukan. Misalnya, ketika ada perencanaan desa dan anak-anak dilibatkan, Haminah-lah yang mendampingi dan memfasilitasi mereka.
“Kalau pembangunan di desa, perencanaannya berbeda. Jika harus menggali informasi dari orang dewasa, ya sumbernya orang dewasa. Sumber informasi dari anak-anak juga ada. Saya yang mengadvokasi pemerintah desa agar melibatkan anak-anak,” ujar perempuan kelahiran 5 Mei 1977 ini.
Lingkungan keluarga yang kurang paham tentang pendidikan, membuatnya putus sekolah saat kelas 2 SMP lalu menjadi pembantu rumah tangga di Jakarta. Latar belakang itulah yang memotivasinya untuk menyelami dunia anak-anak.
“Saya ingin mendapatkan ilmu dan menerapkannya setidaknya untuk anak-anak saya sendiri,” kata ibu dua anak ini.
Ia gencar menyampaikan agar anak-anak tidak sampai putus sekolah lantas bekerja. Karena ia sudah merasakan pahit getirnya. Kendati demikian, ia tidak pernah menyesali salah satu fase dalam perjalanan hidupnya itu. Tekadnya cuma satu, jangan sampai anaknya bernasib sama sepertinya.
Didorong oleh Plan, ia pun menyambung rantai pendidikannya dengan mengambil Kejar Paket B pada 2011 yang dilanjutkan dengan Kejar Paket C. Ini salah satu caranya pula untuk memacu anak-anaknya agar tetap semangat sekolah.
Selain sebagai pendamping anak dan ibu rumah tangga, Haminah juga aktif di berbagai forum dan organisasi. Ia menjadi sekretaris Lembaga Ketahanan Masyarakat Desa (LKMD). Ia ditugasi sebagai pemberdaya masyarakat desa dalam Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM). Ia juga tergabung sebagai Tim Komite Sekolah di SDN Penimbun.
“Saya malah tidak masuk PKK. Biar saya tidak ada di mana-mana. Biar ibu-ibu yang lain juga bisa berperan secara merata,” ucapnya sembari tersenyum.
Dinilai vokal dalam menyampaikan aspirasi anak-anak, ia pun dimasukkan ke bidang advokasi dalam Kelompok Perlindungan Anak Desa (KPAD) Penimbun. Keterlibatannya di KPAD membuatnya merasa lebih paham dan fokus pada upaya perlindungan hak anak. Salah satunya adalah hak untuk memberikan pendapat.
“Kini, kalau mau melakukan apa-apa, saya harus diskusi dengan anak-anak. Apalagi suami saya tidak di rumah, mencari nafkah di Jakarta. Jadi, segala keputusan harus dipertimbangkan dengan anak-anak,” jelasnya.
Ia juga mengaku kalau pelan-pelan di dalam dirinya terjadi perubahan cara pandang terhadap hak anak.
“Sebelum 2004, saya bergaul dengan orang-orang kota. Saya berpikir bahwa untuk mengasuh anak harus punya banyak duit. Untuk menyekolahkan anak, misalnya. Dari dulu saya berpikir sekolah itu penting. Kalau punya anak, jangan sampai tidak sekolah.”
Haminah sebenarnya menyesal bukan belakangan ini. Kala memutuskan keluar dari kelas 2 SMP dan bekerja, ia sudah menyesal. Oleh karena itulah, saat kerja di Jakarta, ia pun gigih membiayai sekolah adiknya sampai lulus SMK.
“Pandangan saya bahwa untuk menyekolahkan anak harus punya duit banyak, sedikit demi sedikit terkikis. Kalau kita tidak punya uang banyak, sementara niat kita kuat, Insya Allah ada jalan. Saya yakin kalau kita berusaha jadi orang bermanfaat buat orang lain, pasti ada yang membalas,” pungkasnya mantap.

Minggu, 02 Desember 2012

Desaku tercinta

Cinta tanah air dan bangsa, seolah sirna dari bayangan generasi muda.

apa hya??
Dewasa ini banyak generasi muda yang enggan tinggal di desanya.
Urbanisasi, Transmigrasi bahkan sampai bekerja keluar negeri menjadi TKI menjadi trend generasi masa kini.

Ko' bisa?
Alasan tidak tersedianya lapangan pekerjaan, masa depan yang tidak menjanjikan, malas dengan pekerjaan yang hanya begituan, sampai pada ketakutan tidak bisa mengikuti trend kemajuan zaman.

mengapa??
Gaya hidup yang terpola "konsumtif",
berdampak sirna-lah sifat "Kreatif",
apalagi "inovatif",
Justru yang terjadi lahirnya pola pikir yang "primitif".

Terus,,, harus bagaimana??
Orangtua, untuk memberi bimbingan dan tauladan,
Lingkungan memberikan dorongan,dan
Memberikan fasilitas, peran dari Pemerintah dan pemangku kewajiban.

Ingat!!!
Di pundak generasi mudalah, nasib bangsa di masa mendatang,
Wahai generasi muda,, singsingkan lengan;
Tataplah jauh ke depan;
di sana secercah harapan dan impian;
Teringat sebait lagu nan sahdu;
Desaku yang ku cinta;
Pujaan hatiku;
Tempat ayah dan bunda;
Dan handai taulanku.
Tak mudah ku lupakan;
Tak mudah bercerai;
Selalu ku rindukan;
Desa ku yang permai.

Sabtu, 31 Desember 2011

CERITA INSPIRATIF AYAH,,,,

KISAH KUDA HITAM,

Saat aku termenung sndiri, aku teringat masa kecilku dimana setiap mau tidur ayahku selalu bercerita yang waktu itu aku anggap hanya sebagai penghantar tidurku. Namun setelah aku besar ternyata banyak pelajaran berharga dari cerita ayahku, salah satunya cerita tentang "KUDA HITAM".
Masih terngiang jelas ditelingaku cerita ayah,,,
Anakku,,,,
Dahulu ada seekor kuda hitam ditengah padang pasir kelaparan dan kehausan. Dia berjalan tertatih-tatih mencari air. Tiba-tiba melihat ada bangunan rumah, dengan sekuat tenaga dia berjalan mendekati bangunan itu, namun yang ditemukan ternyata hanya bangunan rumah yang kelihatan sepi tanpa penghuni. Kuda hitam mencari kesana kemari memanggil tuan rumahnya. Tanpa disadarinya ternyata di belakang rumah ada jurang, ketika sedang mencari tuan rumah dia terperosok masuk jurang.
Kuda hitam itu berteriak minta tolong. “tolong,,,, toloooonnnggggg!!!!
Penghuni rumah yang ternyata seorang tua renta berlari mencari sumber suara dan hendak menolong. Melihat ada orang yang datang, kuda tadi merasa senang dengan anggapan akan segera ditolong. Namun orangtua itu justru kebingungan karena tidak bisa menolong sendirian.. Orangtua tadi mencari orang-orang untuk membantunya. Melihat keberadaan banyak orang kuda hitam merasa senang sekali dengan anggapan segera mandapat pertolongan.
Setelah banyak orang berkumpul ditepi jurang, dan hendak menolong kuda hitam, orangtua bertanya kepada kuda hitam, siapa tuanmu?
Kuda menjawab: tidak punya.
Orangtua tadi lalu menanyakan kepada orang-orang yang ada disekitar. “Kalau kuda hitam ini tertolong siapa yang mau menjadi majikannya”??
Tidak ada seorangpun yang mau menjawab dan mau menjadi tuan si kuda hitam.
Mereka berkomentar, “ Untuk apa menolong kuda yang sudah tua kurus dan tidak bisa dimanfaatkan apa-apa, ebih baik kita kubur hidup-hidup saja? Akhirnya Orang-orang tidak jadi menolong kuda hitam malahan sepakat untuk menimbun kuda hitam itu hidup-hidup.
Kuda hitam berfikir keras, bagaimana caranya bisa selamat dari timbunan orang-orang tadi. Timbullah ide si kuda hitam dengan menaiki setiap tanah yang ditimbunkan. Sampai akhirnya kuda hitam itu selamat.
Setelah selamat orang-orang pada bingung dan berfikir, “wahhh ternyata kuda ini meskipun kurus ternyata pinter juga”.
Akhirnya orang-orang malah berebut ingin menjadi tuannya. Tetapi si kuda hitam itu pergi begitu saja tanpa menghiraukan orang-orang disekitarnya yang sedang memperebutkan dirinya……

Di akhir cerita ayah bertanya, "apa pelajaran yang dapat kamu ambil dari cerita tadi anakku????
Aku menjawab, "gak tahu yaaahhhh",,
Dengan bahasa sederhana dan penuh kesabaran ayahku menjelaskan,,,
Anakku,,,cerita tadi memberikan pelajaran bagi kita,
1. Jadi manusia itu jangan melihat orang lain dari tampilan fisiknya, karena kita akan tertipu oleh penampilannya.
2. Jadi orang itu jangan mudah menyerah dengan keadaan, semangatlah! Raihlah masa depanmu!
3. Cara pandang seseorang itu berbeda-beda, terkadang NIAT YANG BAIK BELUM TENTU DITERIMA DENGAN BAIK.
Tanpa terasa airmataku menetes haru, dalam hatiku berbisik,,, Terima kasih ayah,, aku bangga memiliki ayah sepertimu,, aku berjanji akan menjadi anakmu yang baik. Doa restumu,, ku harap slalu, ,,,,,,,