Senin, 31 Oktober 2022

KIDUNG RUWAT

 


Kidung Ruwat masih banyak dilakukaan dibeberapa desa pinggiran di Jawa. Kidung ruwat adalah ritual jawa yang berupa kidung/tembang atau nyanyian dengan syair-syair yang berisikan doa atau permohonan kepada Sang Pencipta dan penguasa alam semesta agar terhindar dari bala’ atau bilahi. Kidung ruwat ada yang untuk ruwat (tolak bala’) perseorangan dan ada juga yang digunakan untuk tolak bala dalam cakupan yang lebih luas. Misalnya untuk ruwat tempat tinggal (pekarangan), dusun, desa bahkan Negara.

Benarkah kidung ruwat itu berupa do’a atau permohonan?

Dibawah ini ada beberapa bait kidung ruwat yang merupakan makna dari Al Qur’an Surat Al Fatehah, yang biasanya dibacakan sebagai pambuka / mengawali prosesi ruwat :

 

SEKAR DHANDHANGGULA

 

Kanthi nyebut ing Asmaning Gusti

Gusti Alloh ingkang Maha Mirah

Maha Asih sejatine

Puja lan puji iku

Amung Alloh ingkang ndarbeni

Gustining jagat raya

Lan alam sawegung

Maha welas asih cetho

Kang ngratoni dina ning agama yekti

Kukuding alam dunya;

 

 

Amung konjuk mring paduko gusti

Hamba nyembah soho ngumawulo

Angrengrepo dhepe-dhepe

Hamba  nyuwun pitulung

Tinedhahno margi kang yekti

Margining tiyang kathah

Ingkang bagyo tuhu

Paduko paringi nikmat

Sanes margi bebendu lan sasar sami

Amin tutuping donga;

Amurwani, kidungan puniki,

Kanthi nyadhong Sihing kang kuoso,

Berkah safangat Nabi-ne

Sawabing poro luhur,

Murakabi mring kito sami

Satemah dadi srana

Mring wargo sadarum,

Tinebihno sambekolo,

Subur makmur gemah ripah kang kaesthi

Panca baya suminggah


#bersambung

Jumat, 28 Oktober 2022

KENDURI "WEDUSAN"

 


Desa Logandu Kecamatan Karanggayam adalah sebuah desa di pinggiran utara kota Kebumen yang warga masyarakat memiliki cirikhas yang berbeda dengan warga desa yang lainnya. Diantaranya adalah budaya “sambatan” atau gotongroyong saat membangun rumah, menggarap sawah dan ladang, kerja bakti lingkungan masih sangat kental. Budaya “endhong-endhongan” jagongan bersama sambil bicara tentang ilmu pertanian, cerita tentang trah para leluhur dan sosial kemasyarakatan masih membudaya dilakukan dengan tanpa beban dan mengakar kuat di masyarakat.

Begitu juga pelaksanaan ritual dan tradisi “adat jawa” seperti tradisi wedusan, ruwat bumi, baritan/tayuban, kenduren wetonan atau hari lahir, gebasan/bersih makam, ziarah ke makam leluhur masih sangat kuat dan melekat secara turun temurun.

“Tradisi/adat jawa yang sudah diwariskan para leluhur dan sesepuh terdahulu, tidak hanya sebatas ritual dan  warisan budaya, tetapi mengandung nilai dan ajaran luhur yang tersirat dan harus kita lestarikan,” kata Mardiadi, pemerhati adat dan budaya Desa Logandu.

Seperti halnya yang dilakukan oleh warga Desa Logandu pada setiap masuk musim penghujan (bulan Oktober) yakni tradisi wedusan .

Tradisi wedusan, adalah  ritual yang rutin dilakukan oleh warga Desa Logandu pada setiap memasuki musim penghujan, (sebelum menggarap sawah), dengan waktu yang sudah ditentukan, yaitu hari Rabu kliwon-Kamis legi. Mengapa dinamakan tradisi wedusan?  Karena tradisi ritual ini dengan penyembelihan kambing yang dilanjutkan dengan kenduri oleh warga disetiap RT.

“Menurut cerita secara turun temurun, dan dari beberapa catatan tulisan dari sesepuh desa, pada awalnya tradisi penyembelihan kambing atau wedusan, dilakukan sebagai wujud persembahan memohon kepada Sanghyang Agung agar segera diturunkan hujan dari langit dan para petani dapat segera menggarap sawahnya”. Setelah Islam masuk ke Tanah Jawa, tradisi wedusan diubah atau dimodifikasi oleh para wali. Artinya tradisi wedusan (penyembelihan kambing) tetep berjalan, hanya saja yang awalnya kambing sebagai persembahan diubah dengan cara kambingnya disembelih dan dagingnya dimasak untuk kemudian dikenduri bersama.

Secara rinci tata cara atau tata urutan tradisi wedusan di Desa Logandu diawali dengan penyembelihan kambing pada hari Rabu Kliwon sore. Darah penyembihan dibiarkan mengalir ke bumi, sebagai symbol peresembahan kepada penguasa bumi atau dalam istilah jawa ibu pertiwi. Setelah disembelih, diambil atau diris-iris sebagaian tubuh kambing, mulai tanduk, telinga, lidah, kuku kaki dan ekornya. Potongan bagian-bagian tubuh kambing tersebut nantinya sebagai sesaji, sebagai symbol atau pengganti persembahan kambing kepada sanghyang Agung. Saat itu juga, salah satu kasepuhaan atau tokoh adat di desa, ziarah atau dalam bahasa warga Desa Logandu disebut tilik, ke makam tokoh pendiri desa dan para leluhurnya dengan memanjatkan doa memohon kepada Tuhan agar segera diturunkan hujan dan warga Desa Logandu yang mayoritas petani mendapatkan kekuatan untuk segera menggarap sawahnya. Dalam memanjatkan doa di makam para leluhurnya disertai dengan membakar kemenyan dengan menggunakan upet yakni obor yang dibuat dari serpihan mancung dan daun kelapa kering.

Hal yang unik pada tradisi wedusan ini, adalah pengolahan kambing mulai penyembelihan sampai dengan masaknya dilakukan oleh bapak-bapak dan dilakukan diluar rumah (dihalaman atau diteras rumah). Puncak dan inti tradisi wedusan diakhiri dengan kenduri, berdoa bersama agar yang menjadi hajat dan permohonan warga Desa Logaandu dapat terkabul dan dikabulakn oleh Tuhan yang Maha Kuasa.

Kamis, 27 Oktober 2022

BUDAYA JAGONGAN NGUPET

 SEJARAH

PENGANTAR

Desa Logandu Kecamatan Karanggayam adalah sebuah desa di pinggiran utara kota Kebumen yang warga masyarakat memiliki cirikhasyang berbeda dengan warga desa yang lainnya. Diantaranya adalah budaya “sambatan” (gotongroyong) saat membangun rumah, menggarap sawah dan ladang, kerja bakti lingkungan masih sangat kental. Budaya “endhong-endhongan” jagongan bersama sambil bicara tentang ilmu pertanian, cerita tentang trah para leluhur dan sosial kemasyarakatan masih membudaya dilakukan dengan tanpa beban dan mengakar kuat di masyarakat.

Dalam hal ritual keagamaan seperti peringatan hari besar Islam dan ritual “adat kejawen” seperti ruwat bumi setiap hari Rabu Kliwon bulan syura, “baritan” (tayuban) setelah panen padi, kenduren wetonan (hari lahir) setiap bulan syura, “gebasan” (bersih makam) setiap 4 (empat bulan sekali) yang dilanjutkan dengan kenduren bersama di Balai Desa, ziarah ke makam leluhur setiap mempunyai hajat dan keperluan dengan membakar kemenyan, dan masih banyak lagi yang lainnya masih sangat kuat dan melekat secara turun temurun.

Namun seiring dengan perkembangan jaman yang melaju dengancepat, arus teknologi dan komunikasi melesat deras masuk ke semua penjuru dunia tanpa melihat kota dan desa. Pertukaran budaya, adat istiadat dan gaya hidup merasuk ke semua lapisan masyarakat tanpa bisa dibendungnya. Tanpa sadar dan disadari sangat berperan dalam pergeseran norma dan budaya bangsa. Belum lagi dari sisi religius (pengaruh keagamaan) ikut mewarnai sendi kehidupan.

Kondisi kemampuan, wawasan dan keilmuan warga masyarakat yang cenderung berlatar belakang pendidikan dan wawasan yang kurang bahkan sangat kurang, maka tidak mampu memfilter (memilah dan memilih) mana yang berpengaruh positif dan mana yang berdampak negatif. Dari sisi pengaruh agamapun demikian, tidak mampu memilih mana yang benar-benar sesuai dengan syareat Islam mana yang justru merusak sendi-sendi ke-Islam-an dan merongrong sendi-sendi kerukunan berbudaya, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Semuanya masuk ikut mewarnai bahkan mempengaruhi tata nilai, norma, kearifan lokal dan budaya yang sudah melekat di masyarakat. Dampaknya adalah budaya gotong royong mulai luntur, budaya endhong-endhongan mulai jarang terdengar dan pelaksanaan ritual keagamaan dan ritual adat budaya jawa-pun hanya seremonial yang hanya terlaksana tanpa makna.

Apa dan mengapa “JAGONGAN NGUPET”

Selain kondisi yang sebagaimana disebutkan diatas, maraknya issu penyebaran agama Islam yang cenderung mengarah pada kerenggangan sosial, dan bertentangan dengan faham “ahlus sunah wal jama’ah annahdliyah” (NU) seperti faham yang mengatakan bahwa kenduren, ziarah kubur (ngupet), sidekah/kenduren selamatan orang yang meninggal, kenduren weton haram, semakin menimbulkan kecemasan dan kekhawatiran dari sejumlah tokoh di Desa Logandu, sebab akan berdampak pada permasalahan sosial dan in-toleransi. sampai akhirnya berkumpulah 3 tokoh desa yang terdiri dari:

1.    Mbah Sumarjo (Tokoh/sesepuh desa dan mantan Kepala Desa Logandu era Tahun 1965);

2.    Mbah Kuswari (Tokoh adat dan budaya sekaligus Kaum Desa) dan;

3.    Mardiadi (Kiai Muda dan pemerhati adat dan budaya sekaligus pencetus lahirnya Gendhing Tanpa Aran / GTA)

Selama 3 (tiga) malam mereka berdiskusi apa yang harus dilakukan untuk menjaga dan mengembalikan nilai-nilai keagamaan dan kelestarian adat dan budaya yanga ada di Desa Logandu. Dari diskusi mereka bertiga muncul beberapa gagasan, diantaranya:

1.  Pentinganya mengetahui/membongkar tentang sejarah Desa Logandu. Dengan memahami sejarah diharapkan akan menggugah semangat untuk mewarisi apa yang telah diwariskan oleh para leluhurnya;

2.   Pentingnya menggali pesan yang tersimpan/nasehat mulia dari para leluhur melalui ritual adat dan tradisi.

3.    Pentingnya media “belajar merdeka” bagi warga masyarakat yang menyatukan antara tokoh agama, adat dan budaya agar tercipta keharmonisan dalam masyarakat.

Berawal dari gagasan itulah kemudian disepakati jagongan warga merdeka selapanan (setiap malam Ahad Wage), yang kemudian dinamakan “JAGONGAN NGUPET”

JAGONGAN NGUPET artinya Jagongan (duduk bersama) untuk NGUDARI PEPETENG (melepas/menghilangkan kegelapan/kebodohan) dengan mengkaji korelasi antara Agama, adat dan budaya. Slogan yang digunakan adalah, “NJAGONG BARENG DADI GAYENG, NGANGSU KAWRUH DADI WERUH”. Jagongan NGUPET mulai pertama kali dilaksanakan pada malem Ahad Wage , tanggal 1 Oktober 2017 / 9 Sura 1951 saka, dengan mengambil tema, “Kenduren dan ruwat bumi”.

Rabu, 26 Oktober 2022

Pembawa acara Pengajian Rutin Ranting Muslimat NU

 

Assalamu'alaikum warahmatullahi wa barakatuh.

Bismillah/ alhamdulillaah / washolatu wasalamu ‘ala rasulillaah/ sayyidina muhammadibni ‘abdillah/ wa laa haula wala quwwata illah billah, amma ba’dah.

 

Yang kami hormati, para alim ulama di Desa Logandu, wabil khusus Al Mukarrom Bapak Kiai ….  Yang senantiasa kita harapkan barokah ilmunya.

Yang kami hormati Kepala Desa ................. beserta jajaran perangkatnya.

Yang kami hormati Ibu Ketua Ranting Muslimat Nahdlatul Ulama Desa Logandu beserta anggotanya.

Yang kami hormati ibu-ibu muslimat Nahdlatul Ulama Ranting Desa ............ serta jama’ah pengajian rahimakumullah.

 

Pertama-tama marilah kita panjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT, yang telah memberikan kita kesehatan sehinggga dapat berkumpul dan menghadiri acara pengajian rutinan muslimat Nahdlatul Ulama siang hari ini dalam keadaan sehat wal afiat. Allahumma amiin./

 

Sholawat serta salam semoga tetap terlimpahkan kepada Baginda kita Nabi Besar Muhammad SAW yang selalu kita nantikan syafaatnya di hari akhir nanti,// Allahumma amin.

 

Hadirin dan hadirot yang kami hormati,

Ijinkan saya selaku pembawa acara untuk membacakan susunan acara pengajian rutin pada hari ini.

1.   Pembukaan

2.   Menyanyikan lagu Indonesia Raya, Mars muslimat, himne muslimat dan ya lal wathon.

3.   Sambutan-sambutan

4.   Pengajian

5.   Penutup/do’a

 

Hadirin dan hadirot yang kami hormati,

Marilah kita mulai acara kita dengan acara yang pertama/ yaitu tahlil singkat yang akan di imami oleh ibu ……..

Kepadanya dipersilahkan/

## terima kasih kepada Ibu …. Yang telah memimpin tahlil, semoga diterima oleh Alloh SWT sebagai amal jariyah dan menjadikan acara kita pada hari ini dapat berjalan dengan lancar. Allohumma …// Aamiin.

 

Hadirin rahimakumullah,

Marilah kita lanjutkan acara yang kedua yakni menyanyikan lagu Indonesia Raya dilanjutkan Mars mulimat NU, Yaa lal wathon./ Kepada yang bertugas kami persilahkan//

Hadirin dimohon berdiri!

 

##Hadirin dimohon duduk kembali.

 

Hadirin hadirat yang kami hormati...


Kita lanjutkan pada acara yang ketiga yakni sambutan-sambutan.

Sambutan yang pertama dari Ketua Ranting NU Desa ..............,/ yang akan disampaikan oleh Ibu…../ kepada beliau kami persilahkan//

 

## terima kasih kepada Ibu ….. yang telah memberikan sambutannya.

 

Acara yang keempat yaitu pengajian/ dilanjutkan dengan doa penutup, yang akan disampaikan oleh Bapak Kiai …….

 

Namun sebelum acara pengajian dan do’a penutup dimulai, / saya selaku pemabawa acara / apabila dalam menyampaikan susunan acara / dari awal sampai akhir / banyak tutur kata yang kurang berkenan / saya mohon maaf yang sebesar-besarnya./

 

Wabillahi taufiq wal hidayah, waridlo wal inayah

Wassalamu 'alaikum wr. Wb

 

## Kepada Bapak Kiai ….. waktu dan tempat kami persilahkan secukupnya.

Minggu, 23 Oktober 2022

PRANATA ACARA (MC) PELEPASAN SISWA

 Assalamu’alaikum Warahmatullaahi wabaraakaatuh

 

Bismillah/ alhamdulillaah / washolatu wasalamu ‘ala rasulillaah/ sayyidina muhammadibni ‘abdillah/ wa laa haula wala quwwata illah billah, amma ba’dah.

 

Wonten pangarsanipun poro ‘alim ulama, poro Kiai ingkang tansah kito ta’dzimi langkung-langkung dhumateng almukarom Bp Kiai …… ingkang kito ajeng-ajeng barokah donga lan ilmu nafi’ipun //

Dhumateng poro pangemban pangembating projo / kasatrianing nagari, linangkung Ibu Kepala Desa Clapar / sak pamong prajanipun ingkang tuhu pantes sinudarsono //

Dhumateng poro tamu undangan (Bapak/Ibu Kepala Sekolah) ingkang tuhu kinurmatan //

Dhumateng Ketua Yayasan Kepadangan Clapar sak anggotanipun ingkang kulo hormati //

Dhumateng Ketua Komite MTs Kepadangan sak anggotanipun ingkang kulo hormati //

Dhumateng Bapak Kepala Madrasah dalah sedoyo dewan guru lan karyawan MTs Kepadangan kulo hormati //

Dhumateng Bapak/Ibu wali siswa kelas 9 ingkang tuhu kinurmatan//

Sagunging poro pilenggah kakung soho putri dalah konco-konco siswa-siswi MTs Kepadangan rohimakumulloh////

 

Purwakaning atur/ monggo sesarengan/ ngaturaken raos syukur dhumateng Allah SWT/ ingkang sampun paring kanugrahan/ hidayah/ lan inayahipun// Katitik/ing titiwanci meniko/ kita saged makempal/ wonten Madrasah punika/ kanthi mboten wonten alangan saktunggal menapa.

 

Shalawat lan salam/ tansah katur kagem Rasul junjungan kita/ Nabi Agung Muhammad SAW/ ingkang cahyanipun kados surya wekdal siang/ lan kados rembulan ing wayah dalu/ mugia kita sedoyo/ tansah pikantuk Syafaatipun Nabi saking dunya dumugi mbenjang wonten Yaumul Qiyamah/ Alloohummaa Aaamiiin

 

Para hadirin poro tamu / ingkang bagya Mulya

 

Tuhu linepatno ing deduko/ tinebihna ing tulak sarik/ dene kulo cumanthoko ngadeg wonten ngarso panjenengan sedoyo/ mboten namung netepi dawuh  / minangka / juru wicara utawi pranata adicara / ingkang saperlu / badhe ngaturaken susunan acara / ing wedal siang menika. 

 

1.     Ingkang sepindah / inggih menika Pambuka;

2.     Ingkang angka kalih / nglantunaken Lagu Indonesia Raya;

3.     Ingkang kaping  tiga / inggih menika / waosan ayat suci al-qur'an;

4.        Ingkang kaping sekawan / inggih menika / atur pambagyo harjo saking Panitia penyelenggara pelepasan siswa kelas 9 ………………….

5.        acara  ingkang kaping gangsal / inggih menika / atur pangandikan (pengumuman kelulusan lan atur pasrah saking Kepala Madrasah ………………………………………

6.        acara  ingkang kaping enem atur panampi saking perwakilan wali siswa kelas 9

7.        Acara kaping pitu / inggih menika/ saklimah atur / saking perwakilan kelas 8 / 7

8.        acara  ingkang kaping wolu / saklimah atur pepisahan perwakilan / saking kelas 9

9.        Acara kaping sanga atur pangandikan/ atur pangayobagyo / saking Kepala Desa Clapar

10.     Acara ingkang kaping sedoso mau’idlotul hasanah saking Pengawas Madrasah Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kebumen

11.     Minangka acara ingkang pungkasan/ inggih peniko/ Panutup kalajengaken Do’a

 

Para hadirin / / ingkang kula hormati

 

Mekaten kala wau / menggah runtuting adicara ing wedal siang menika,/ lan / minangka acara ingkang ongko sepindah/ inggih menika / pambuka / kanthi waosan umul kitab / ingkang badhe dipun imami dening / Bapak Lasmin, S.Pd, / sumonggo


## Matur nuwun,/ mugi-mugi / kanthi waosan surat al fatihah kala wau/ saget andadosaken / lancaring adicara/ ing wedal siang menika.//

 

Acara kaping kalih / inggih menika nembangaken Lagu Indonesia Raya / dhumateng sedoyo poro rawuh katuran jumeneng/ hadirin katuran lenggah.

 

Ingkang kaping  tiga / inggih menika / waosan ayat suci al-qur'an, ingkang badhe kawaosaken dening …….., dumateng panjenenganipun kasumanggaaken/

Mekaten kala wau / kumandange ayat suci al-qur'an / mugio saget nambah iman lan taqwa kita /dumateng Allah, / aamiin

 

Ingkang kaping sekawan / inggih menika / atur pambagyo harjo saking Panitia penyelenggara pelepasan siswa kelas 9 / ingkang badhe kaaturan dening Bp. …..…………………./ dhumateng panjenenganipun sasono woro kasumanggaken..

 

## mekaten atur pangandikan saking ……………………………….. dhumateng panjenenganipun kaaturaken agunging panuwun…..

 

acara  ingkang kaping gangsal / inggih menika / atur pangandikan (pengumuman kelulusan lan atur pasrah saking Kepala Madrasah.

dhumateng panjenenganipun Bp. Mardiadi, S.Pd.I sasono woro kasumanggaken.

 

## mekaten atur pangandikan saking ……………………………….. dhumateng panjenenganipun kaaturaken agunging panuwun…..

 

acara  ingkang kaping enem inggih meniko atur panampi/ sesulih saking wali siswa kelas 9/ ingkang badhe kawedar sabdo dening panjenenganipun Bp. ……………………………/ dhumateng panjenenganipun sasono woro kasumanggaken.

 

## mekaten atur pangandikan saking ……………………………….. dhumateng panjenenganipun kaaturaken agunging panuwun…..

 

Acara kaping pitu / inggih menika/ saklimah atur/ saking sesulih kelas 8 / 7, ingkang bade kaaturaken dening ………………………. / dhumateng panjenenganipun sasono woro kasumanggaken.

 

## mekaten atur pangandikan saking ……………………………….. dhumateng panjenenganipun kaaturaken agunging panuwun…..

 

acara  ingkang kaping wolu / saklimah atur pepisahan / sesulih saking  saking kelas 9, ingkang bade kaaturaken dening ………………………. / dhumateng panjenenganipun sasono woro kasumanggaken.

 

## mekaten atur pangandikan saking ……………………………….. dhumateng panjenenganipun kaaturaken agunging panuwun…..

 

Acara kaping sanga atur pangandikan/ atur pangayobagyo / saking Kepala Desa Clapar, , ingkang bade kawedhar sabdoaken dening ………………………. / dhumateng panjenenganipun sasono woro kasumanggaken.

 

## mekaten atur pangandikan saking ……………………………….. dhumateng panjenenganipun kaaturaken agunging panuwun…..

 

Acara ingkang kaping sedoso inggih meniko mau’idlotul hasanah , katerasaken adicoro panutup do’a/ ingkang bade kawedhar sabdoaken dening  dening ………………………. / saking Pengawas Madrasah Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kebumen .

Namung sakderengipun adicoro kaleksanan, kulo ingkang kajibah minongko pranata adicoro mbok bilih anggenipun nderekaken runtuting adicoro/ saking purwo/ madyo lan wasana / kathah atur ingkang kirang trapsilo/ kirang jangkeping tatakrama// mboten namung kulo nyuwun lumunturing sih samudra pangaksama.

Puput pepuntoning atur/kito pungkasi

 

Wabillahi taufiq wal hidayah, waridlo wal inayah

Wassalamu 'alaikum wr. wb