Sabtu, 19 April 2014

PEMIKIRAN PENDIDIKAN KH. AHMAD DAHLAN

               
A.  PENDAHULUAN

Banyaknya lembaga pendidikan berlabelkan Muhammadiyah dari Taman Kanak-kanak (TK) hingga perguruan tinggi juga pesantren, yang tersebar di seluruh penjuru Indonesia, bukan KH. Ahmad Dahlan pendirinya. Akan tetapi, ormas bernama Muhammadiyah yang menaungi semua lembaga pendidikan tersebut, Ahmad Dahlan lah yang mendirikannya. Berbicara tentang pendidikan di Indonesia, tak bisa lepas dari sosok Ahmad Dahlan. Dan berbicara tentang Ahmad Dahlan, tak bisa lepas dari perannya di dunia pendidikan. Wajar jika sebagian kalangan menilai, bahwa Ahmad Dahlan lah sejatinya bapak pendidikan Indonesia, bukan Ki Hajar Dewantoro yang nasib lembaga pendidikan Taman Siswanya tak jelas, bagaikan hidup segan mati tak mau. Sebagai salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia, bahkan di dunia, pendidikan telah menjadi trade-mark gerakan Muhammadiyah. Sebagai pendirinya, Ahmad Dahlan mempunyai peran yang sangat besar dalam hal ini. Sangat wajar, jika kemudian Ahmad Dahlan ditahbiskan sebagai seorang tokoh pembaru pendidikan oleh sebagian kalangan. Sepeninggalnya, pemikiran-pemikirannya tentang dan dalam dunia pendidikan diteruskan oleh para murid dan generasi pelanjutnya.

                       B.  Pemikiran Pendidikan Ahmad Dahlan
                       1. Sekilas tentang Ahmad Dahlan
Lahir di kampung Kauman Yogyakarta pada 1 Agustus 1868 M, Dahlan kecil diberi nama Muhammad Darwisy oleh kedua orangtuanya. Ia adalah anak keempat dari tujuh bersaudara yang semuanya perempuan, kecuali adik bungsunya. Keluarganya dikenal didaktis dan alim dalam ilmu agama. Ayahnya bernama KH. Abu Bakar, seorang imam dan khatib Masjid Besar Kraton Yogyakarta. Sementara ibunya bernama Siti Aminah putri KH. Ibrahim yang pernah menjabat sebagai penghulu di Kraton Yogyakarta.  Dalam silsilahnya, ia tercatat sebagai keturunan yang kedua belas dari Maulana Malik Ibrahim, salah seorang wali songo yang merupakan pelopor pertama dari penyebaran dan pengembangan dakwah Islam di Tanah Jawa. Silsilahnya lengkapnya ialah: Muhammad Darwisy bin KH Abu Bakar bin KH Muhammad Sulaiman bin Kyai Murtadla bin Kyai Ilyas bin Demang Djurung Djuru Kapindo bin Demang Djurung Djuru Sapisan bin Maulana Sulaiman Ki Ageng Gribig (Djatinom) bin Maulana Muhammad Fadlul'llah (Prapen) bin Maulana 'Ainul Yaqin bin Maulana Ishaq bin Maulana Malik Ibrahim. Sejak kecil Muhammad Darwisy dididik oleh ayahnya sendiri. Pendidikan dasarnya dimulai dengan belajar membaca dan menulis, mengaji Al-Qur`an dan kitab-kitab agama. Selain belajar pada ayahnya, Darwisy juga belajar fiqih pada KH. Muhammad Saleh, belajar nahwu pada KH. Muhsin, belajar ilmu falak pada KH. R. Dahlan, belajar hadits pada KH. Mahfuz dan Syaikh Khayyat Sattokh, dan belajar qiraat pada Syaikh Amin dan Syaikh Sayyid Bakri. Setelah menimba ilmu pada sejumlah guru di Tanah Air, Muhammad Darwisy berangkat ke tanah suci pada tahun 1883 M saat usianya menginjak 15 tahun. Lima tahun di sana, Darqis menuntut ilmu agama dan bahasa Arab.

                       2.  Pemikiran Pendidikan Ahmad Dahlan
Membaca kisah hidupnya, KH. Ahmad Dahlan adalah seorang pendidik, muballigh, dan organisatoris sejati Namun dalam masalah ide dan pemikiran, tampaknya Ahmad Dahlan tidak sehebat yang digambarkan oleh warga Muhammadiyah yang hampir-hampir mengultuskannya. Mungkin dikarenakan kesibukannya yang luar biasa dalam berdakwah dan mengajar, –sepengetahuan kami– tidak ada satu buku pun yang ditulis oleh Ahmad Dahlan sebagai peninggalan karya ilmiah intelektualnya. Ahmad Dahlan memang seorang pelaku atau praktisi. Dia mendirikan sendiri model lembaga pendidikan yang diinginkannya; sekolah yang menerapkan pengajaran ilmu agama Islam sekaligus ilmu pengetahuan umum. Pada tahun 1910, bertempat di ruang tamu rumahnya sendiri yang berukuran 2,5 m x 6 m, sekolah itu pun terwujud. Sekolah pertama itu dimulai dengan delapan orang siswa di mana Ahmad Dahlan sendiri bertindak sebagai guru.
Semula, proses belajar mengajar belum berjalan lancar. Selain ada pemboikotan masyarakat sekitar, para siswa yang hanya delapan orang tersebut juga sering tidak masuk sekolah. Untuk mengatasinya, Ahmad Dahlan tidak segan-segan datang ke rumah para siswanya dan meminta mereka masuk kembali. Dan pada tahun 1911, sekolah yang didirikan Ahmad Dahlan diresmikan dan diberi nama Madrasah Ibtidaiyah Diniyah Islamiyah. Ketika diresmikan, sekolah itu mempunyai 29 orang siswa, dan enam bulan bertambah menjadi 62 orang Ini adalah sekolah pertama yang didirikan Ahmad Dahlan sekaligus cikal bakal sejumlah sekolah yang di kemudian hari juga beliau dirikan bersama Muhammadiyah. Kemudian, pada tanggal 1 Desember 1911 Ahmad Dahlan mendirikan sebuah Sekolah Dasar di lingkungan Keraton Yogyakarta. Di sekolah ini, pelajaran umum diberikan oleh beberapa guru pribumi berdasarkan sistem pendidikan gubernemen. Sekolah ini barangkali merupakan sekolah Islam swasta pertama yang memenuhi persyaratan untuk mendapatkan subsidi pemerintah.
Selanjutnya, pada tahun 1913Ahmad Dahlan mendirikan sekolah di Karangkajen, Yogyakarta. Lalu, pada tahun 1915 mendirikan sekolah di Lempuyangan, Yogyakarta. Tahun 1916 mendirikan sekolah di Pasargede (sekarang Kotagede). Dan pada tahun 1918 mendirikan sekolah bernama Al-Qismul Arqa di Kauman Yogyakarta. Sekolah terakhir ini selanjutnya pindah ke Patangpuluhan dan berganti nama menjadi Hogere Muhammadijah School, kemudian berubah lagi menjadi Kweekschool Islam, dan menjadi Kweekschool Muhammadijah, yang akhirnya pada tahun 1941 berganti nama menjadi Madrasah Mu'allimin Muhammadiyah sampai sekarang. Berikutnya, pada tahun 1920, Ahmad Dahlan mendirikan gerakan kepanduan bernama Padvinders Muhammadiyah, di mana kemudian atas usul KRH Hadjid, nama pandu itu diganti menjadi Hizbul Wathon. Namun demikian, sekalipun Ahmad Dahlan banyak mendirikan sekolah, bukan berarti Ahmad Dahlan "mewajibkan" warga Muhammadiyah agar bersekolah di lembaga pendidikan yang dia dirikan. Justru Ahmad Dahlan mengatakan, "Muhammadiyah sekarang ini lain dengan Muhammadiyah yang akan datang. Maka teruslah kamu bersekolah, menuntut ilmu pengetahuan di mana saja. Jadilah guru, kepada Muhammadiyah. Jadilah meester, insinyur, dan lain-lain dan kembalilah kepada Muhammadiyah."
Memberikan teladan bagi pendidik adalah suatu keniscayaan. Tak ada pendidikan yang berhasil tanpa contoh dari si pendidik. Demikian yang dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, dan demikian pula yang hendak dipraktikkan oleh KH. Ahmad Dahlan. H. Hadjid menuturkan bahwa Ahmad Dahlan membagi pelajaran menjadi dua bagian, yaitu [1] belajar ilmu, yakni pengetahuan atau teori; dan [2] belajar amal, yakni mengerjakan atau mempraktikkan. Menurut Ahmad Dahlan, semua pelajaran harus dengan cara sedikit demi sedikit, setingkat demi setingkat. Demikian pula dalam belajar amal, harus dengan cara bertingkat. Kalau setingkat saja belum dapat mengerjakan, tidak perlu ditambah. Kyai Dahlan lalu menjelaskan bahwa maksud mengamalkan surat Al-Ma’un bukan menghafal atau membaca, tapi lebih penting dari itu semua, adalah melaksanakan pesan surat Al-Ma’un dalam bentuk amalan nyata. Lalu Ahmad Dahlan berkata, “Oleh karena itu, setiap orang harus keliling kota mencari anak-anak yatim, bawa mereka pulang ke rumah, berikan sabun untuk mandi, pakaian yang pantas, makan dan minum, serta berikan mereka tempat tinggal yang layak. Untuk itu pelajaran ini kita tutup, dan laksanakan apa yang telah saya perintahkan kepada kalian.” Menurut Ahmad Dahlan, istilah mengamalkan bukan saja sebatas menghafal dan menjadikan surat pendek dalam al-Qur`an itu dibaca dalam setiap shalat, melainkan menjadikannya sebagai pedoman dan sekaligus dijalankan dalam kehidupan sehari-hari.
Pendidikan Tauhid, Tauhid di atas segalanya. Demikianlah seharusnya. Allah menciptakan manusia dan jin tak lain hanya untuk menyembah-Nya. Menyembah Allah harus mentauhidkan-Nya. Manusia sama sekali tak menyertakan makhluk lain selain-Nya dalam beribadah kepada-Nya. Ini adalah syirik, di mana pelakunya tak diampuni oleh-Nya jika belum bertaubat hingga ajal menjemput. Segala sesuatu yang dilakukan oleh seorang hamba, harus ikhlas hanya diperuntukkan kepada-Nya.  KH. Ahmad Dahlan mengatakan, bahwa manusia dilarang menghambakan diri kepada siapa pun atau benda apa pun juga, kecuali hanya kepada Allah semata. Barangsiapa yang menghambakan diri kepada hawa nafsunya, artinya mengerjakan apa saja yang diinginkan dengan didorong oleh hawa nafsu, itu musyrik namanya. Barangsiapa yang mengikuti kebiasaan yang menyalahi hukum Allah Yang Maha Agung, itulah yang disebut menyembah hawa nafsunya. Padahal kita manusia, tidak diperbolehkan menaruh rasa cinta kepada siapa pun juga melebihi rasa cinta kasihnya terhadap Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang.
Pendidikan Kepribadian, Memisalkan dengan Sayyid Ahmad Khan (tokoh pembaru Islam di India), Prof. Abuddin menyebutkan bahwa Ahmad Dahlan mempunyai pandangan yang sama dalam hal pentingnya pembentukan kepribadian dalam pendidikan. Ahmad Dahlan berpandangan, bahwa untuk mencapai tujuan materil, bekal ketrampilan juga merupakan hal yang penting dimiliki oleh siswa didik, selain ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, pendidikan yang baik adalah pendidikan yang sesuai dengan tuntutan masyarakat di mana siswa itu hidup.  Dengan demikian, secara tak langsung sesungguhnya Ahmad Dahlan telah mengkritik kaum tradisionalis yang menjalankan model pendidikan yang diwarisi secara turun temurun tanpa mencoba melihat relevansinya dengan perkembangan zaman.