Tampilkan postingan dengan label motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label motivasi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 27 Mei 2014

Pendidikan kita,,,,



Sebagai insan beriman di bulan Mei 2014 kita patut bersyukur kepada Alloh SWT. Karena pada bulan ini ada 3 peristiwa penting bagi bangsa Indonesia yang mayoritas muslim, yakni Peringatan Hari Pendidikan Nasional, Hari Kebangkitan Nasonal dan peringatan Isro' Mi'roj nabi Muhammad SAW.
 Dari ketiga peristiwa penting itu dapat kita korelasikan dan merupakan peringatan penting bagi kita semua. Sebagai muhasabah  kita bersama, ada pertanyaan penting yang mesti harus kita jawab bersama-sama juga.
1. Bagaimana pendidikan kita saat ini?
2. Dengan melihat realita generasi saat ini terkait dengan  dunia pendidikan, apa yang harus kita lakukan?
3. Apakah nilai-nilai pendidikan ketika dikorelasikan dengan nilai ajaran Islam utamanya yang terkandung dalam Isro' Mi'roj sudah ada titik keberhasilan?

Berbicara tentang Pendidikan nasional, berdasarkan UU RI No. 20 Th. 2003, Bab VI, Jalur, Jenjang dan Jenis Pendidikan, Bagian kesatu, Umum, pasal 13, jalur pendidikan terdiri atas pendidikan formal, nonformal, dan informal yang dapat saling melengkapi dan memperkaya.
Yang dimaksud dengan pendidikan formal adalah jalur, jenjang dan jenis pendidikan yang dikelola oleh pemerintah, pemerintah daerah dan/atau masyarakat. Adapun pendidikan nonformal adalah pendidikan yang dikelola oleh masyarakat, Sedangkan pendidikan informal adalah pendidikan yang dilakukan oleh keluarga dan lingkungan berbentuk kegiatan belajar secara mandiri.
Memperhatikan kepada UU tersebut sudah cukup jelas maksud dan tujuan yang hendak dicapai. Namun yang menjadi masalah adalah nuansa-nuansa pendidikan di luar ketiga jalur pendidikan di atas, yakni pendidikan yang secara tidak langsung seperti kegiatan politik yang tidak sehat, kegiatan-kegiatan yang berlangsung di masyarakat, siaran atau berita yang disampaikan melalui mess media cetak, audio visual telah membantuk moral baru bagi generasi muda, cenderung merusak kehidupan berbangsa dan bernegara.
Sebagai bentuk keperihatinan pendidikan yang merusak atau cenderung mempengaruhi kehidupan berbangsa dan bernegara yang kurang baik terhadap pembentukan moral bangsa adalah adanya persoalan-persoalan material, spritual, sosial, politik dan peradaban serta pemahaman sempit tentang pendidikan. Yang selama ini belum terpecahkan telah menganggu ketertiban pelaksanaan pendidikan.
Dengan demikian muncul persoalan-persoalan baru, yakni persoalan rasialisme, keamanan dabn meningkatkan angka kriminalitas, lapangan kerja, dan hilangnya berbagai standar nilai kemanusiaan. Di mana-mana terjadi kerusuhan, musibah silih berganti, semua itu telah mempengaruhi terhadap perkembangan jiwa generasi.
Disadari atau tidak bahwa efek samping kejadian dan peristiwa tersebut telah berpengaruh terhadap perkembangan moral/akhlak, sehingga dewasa ini sering muncul bentuk-bentuk kejahatan yang dirasakan dan cukup meresahkan kehidupan masyarakat, yakni menjamurnya bentuk-bentuk pemalsuan, penipuan, pencurian, penghianatan, tidak loyal pada janji dan tidak pula komitmen terhadap kebijakan, dan lain sebagainya. Belum bicara tentang merajalelanya mabuk-mabukan, pecandu obata-obatan terlarang, berkosaan, dan bentuk-bentuk pelanggaran terhadap kehormatan dan membudayanya perkataan kotor dan cacian, dan lain sebagainya.
Persoalan tersebut tidak lepas dari persoalan pendidikan yang kurang memperhatikan kepada pendidikan moral, di sekolah-sekolah mata pelajaran sejarah sudah ditiadakan, yang mana secara tidak langsung telah memberikan pengalaman hidup berbangsa dan bernegara yang seyogyanya menjadi bahan renungan bagi generasi muda untuk memperbaiki kehidupan berbangsa dan bernegara.
Secara UU pendidikan nasional memang pemerintah telah berusaha semaksimal mungkin untuk menyelenggarakan pendidikan dengan sebaik-baiknya, setiap tahun dan setiap ada pergantian pimpinan selalu berupaya menyempurnakan kurikulum, pola dan starategi pembelajaran, namun demikian penyempurnaan tersebut hanya terarah kepada pembinaan pengetahuan dan keterampilan, terarah pada pembinaan pola dan sterategi pembelajaran dan peningkatan mutu pendidikan. Akan tetapi menyangkut moral kurang perhatian, guru-guru agama di sekolah-sekolah umum kurang berperan dan jam/alokasi pelajarannyapun sangat terbatas. Dalam waktu 2 (dua) jam perminggu tidaklah cukup untuk menyelenggarakan pendidikan agama plus akhlak/kepribadian. Di samping itu pendidikan agama belum mampu mengimbangi kemajuan ilmu dan teknologi serta komunikasi.
KESIMPULAN
Berdasarkan uraian di atas dapatlah ditarik kesimpulan, bahwa :
1.       Pendidikan merupakan hal penting yang harus diperhatikan, tidak saja di kalangan pemerintah, akan tetapi menjadi perhatian bagi semua komponen bangsa.
2.       Penyelenggaraan pendidikan hendaknya tidak terfokus pada peningkatan mutu ilmu dan keterampilan saja melainkan juga harus memperhatikan segi moral yang didasarkan pada agama.
3.   Penyelenggaraan pendidikan tidak hanya menjadi tanggung jawab pada pendidik saja, melainkan juga orang tua khususnya dan masyarakat pada umumnya.
4.          Nuansa-nuansa pendidikan yang disiarkan dalam mess media cetak dan audio visual tidak hanya mengejar segi material saja, akan tetapi juga hendaknya dapat menunjang segi moral kehidupan berbangsa dan bernegara.
5.   Penanaman nilai, pembiasaan beribadah dan membangun kepedulian sosial hendaknya menjadi perhatian serius dan menjadi point penting dalam penyelenggaraan pendidikan, terlebih dengan "wacana" adanya kurikulum 2013 yang menekankan pada pendidikan karakter.

Kamis, 24 April 2014

Antara cinta dan nafsu

       
Sudah banyak kalangan yang mendefinisikan arti cinta. Mulai dari para pemikir Islam seperti al-Ghazali, ilmuwan, penyair, ahli tafsir, kalangan orang tua, orang muda, dan bahkan berbagai pengertian parsial-individual pun mencoba memaknai arti cinta. Tidak mengherankan, dengan tafsiran parsial-individual itu banyak muda mudi yang terjerumus ke lembah kemaksiatan, zina (seks bebas) yang mengatas namakan cinta.
Puguh Hendrawan dalam buku The Pillow of love kembali menjelajah polemik tersebut. Mengurai arti cinta. Mulai dari pengertian, kemunculan, pembinaan, dan hingga kehancuran atau keharmonisan dalam dunia ini. Cinta adalah persaan sayang kepada lawan jenis. Perasaan ingin memiliki dan menghabiskan waktu bersamanya. Dari pernyataan itu, dapat diketahui bahwa cinta tidak sama dengan seks. Pada kenyataannya, banyak orang yang jatuh cinta dan menunjukkan cintanya dengan seks. Berarti ia tidak dapat memahami arti cinta yang sesungguhnya. Kasih sayang adalah dua hal yang menjadi satu, yang dicurahkan kepada orang yang dicintainya. Sedangkan cinta tidak ada hubungannya dengan seks (The Pillow of love Hal. 97).
Begitulah kiranya orang-orang dan para pemuda dan pemudi mengartikan cinta. Jika sudah cinta berarti segala kepemilikannya menjadi milik pasangannya. Termasuk dalam hal ini alat pemuas nafsu yang diincar. Dan tak jarang pula tren dunia modern sekarang memaknai cinta sama dengan nafsu. Jika sudah cinta berati ada kesukarelaan dalam menikmati tubuh seorang gadis. Sehingga terjadi pergaulan seks bebas. Hamil di luar nikah, yang laki-laki menghilang setelah gadis yang dicintainya dihamili di luar nikah. Setelah itu, penyesalan baru terasa oleh para pemudi yang hamil di luar nikah.
Saat ini, banyak orang menjadikan cinta sebagai alasan untuk melakukan yang di luar batas. Dalam pacaran, sering terjadi kontak fisik saat berduaan, bahkan memilih tempat sepi untuk berduaan. Oleh karena itu, banyak pasangan terjerumus dalam hal negatif karena tidak mampu mengendalikan diri. Hubungan yang mulanya istimewa, berubah menjadi hubungan yang penuh dosa dan menghancurkan masa depan keduanya. Biasanya mereka melakukan semua itu dengan alasan cinta, padahal tidak seharusnya cinta melakukannya (The Pillow of love Hal. 99).
Cinta bukan segalanya yang harus merusak kehidupan ini. Namun, cinta memberi segalanya yang mampu membangun bahterah kehidupan ini. Tentunya melalu cinta yang murni bukan karena pengaruh apapun. Jika cinta hanya karena nafsu belaka, maka cinta itu tidak akan bertahan lama. Jika cinta hanya karena sesuatu yang diinginkan, maka cinta itu akan cepat goyah ketika yang menjadi objeknya tercapai. Cinta dan nafsu tentulah berbeda. Jika cinta, tidak harus melakukan hubungan seksual yang berdasar pada nafsu belaka.
Cinta bukan untuk melakukan perbuatan dosa, tetapi cinta merupakan anugerah Tuhan yang harus dijaga kesuciannya. Cinta sejati tidak menimbulkan kewajiban, tetapi menimbulkan tanggung jawab, tidak menuntut balasan, tetapi lebih banyak memberi. Banyak penjelasan tentang cinta yang tentu saja tidak sama dengan seks. Seks terjadi karena cinta yang menuntut pamrih atau yang digerakkan oleh nafsu. Nafsu tidak bisa mengendalikan dirinya. Sehingga banyak orang melakukan perbuatan yang menyakiti hati orang lain. Orang menjadi sakit hati karena tidak memahami cinta yang sebenarnya (The Pillow of love Hal. 100).
Terkadang pada saat ini para pemuda dan pemudi mengartikan cinta bukan lagi melihat pada masa depan yang akan dijalani. Namun, mayoritas cinta diartikan sebagai bentuk kesetiaan dengan menyerahkan apa yang dimilikinya, utamanya oleh kaum perempuan yang sering mendapata ancaman akan diputus jika tidak mau diajak bersenggapa. Dan tak jarang pula ketika tidak mau melakukan hal tersebut, seorang pemuda akan berkata “kamu sudah tidak cinta lagi padaku”. Ketika begitu, dengan mudah seorang pemudi yang dirinya ingin menunjukkan kesetiaan dan rasa cintanya ia harus kehilangan keperawanannya saat usia muda belia tanpa jalan yang sah (nikah). Sehingga terkadang akibatnya ia harus aborsi, atau masa depannya buram hingga tak jelas arahnya. Dari sini, sudah jelas cinta jangan dimaknai segalanya. Cinta bukan segalanya, cinta itu suci dan tidak akan menodai pemiliknya.
Sering kita mendengar sebuah pepatah yang menyatakan bahwa “cinta itu buta”. Itu merupakan kata-kata yang sering digunakan sebagai alasan. Sebab, cinta membuat seseorang tidak mampu berpikir rasional dan nyata. Jika kita menganggap bahwa cinta itu buta, maka kita harus berhati-hati dalam mengambil langkah agar tidak jatuh jauh ke dalam lubang dan terjerumus ke jalan yang salah (The Pillow of love Hal. 104).
Dalam upaya menanggapi berbagai pamaknaan tentang cinta, arah dan tujuan cinta itu yang yang secara moral disalah artikan, buku ini mengajak para pembaca, khususnya para pemuda dan pemudi yang suka bercinta agar tidak terjerumus ke jurang kenistaan dalam hidup ini. Karena memang banyak teori mengenai cinta, namun masih banyak orang yang kesulitan dalam mendefinisikannya. Maka dari itu, buku ini sebagai alternatif dalam mengupas tentang cinta. Mulai dari pencarian, pemilihan, penyesuaian, hingga cara menjaga keutuhannya.
Peresensi : Junaidi Khab Wakil Direktur Gerakan IAIN Sunan Ampel Menulis (Gisam) IAIN Sunan Ampel Surabaya.
See more at:  suar.okezone.com

Selasa, 15 April 2014

Mengelola stres dan amarah

Guru adalah salah satu faktor yang sangat menentukan proses dan hasil pendidikan. Untuk mencapai proses dan hasil yang bermutu dibutuhkan pula guru yang bermutu, baik dari segi pengetahuan, sikap dan kepribadian sesuai dengan tuntutan profesi seorang guru. Dalam kaitan menciptakan lingkungan sekolah yang bebas dari kekerasan maka aspek sikap dan kepribadian guru menjadi sangat penting.
Kenyataan menunjukkan bahwa ada guru yang telah sangat matang dalam hal pengetahuan dan menonjol dalam ketrampilan mengajar tetapi belum tentu mampu mengelola sisi emosinya. Guru adalah manusia biasa. Ia bisa lelah, stres, dan bisa didesak ledakan amarah. Tetapi sifat manusia normal ini tidak bisa dijadikan sebagai alasan untuk mentolerir perilaku guru yang bertindak kurang tepat terhadap anak didiknya. Penyelesaian untuk keterbatasan guru adalah mengembangkan guru agar lebih baik lagi mengelola diri, termasuk belajar mengatasi stres dan ledakan amarah.
Unit ini memberikan gambaran bagaimana mengelola stres dan amarah dengan mencoba melakukan beberapa latihan praktis.
Guru adalah manusia biasa. Ia bisa didera masalah, merasa stres dan mengalami desakan untuk marah jika ada hal-hal yang tidak diperkenan di hatinya. Masalahnya bagaimana kita menghadapi ledakan amarah apalagi jika hal itu kerap dialami di saat menghadapi anak didik kita ? Bagaimana guru bisa meningkatkan efektifitas pribadinya sehingga mampu menangkal stres dan menjalani kehidupan dengan optimis dan suka cita?
Pertama-tama ingatlah bahwa salah satu tujuan perkembangan anak usia SD adalah menjadi pribadi yang produktif (menurut Erikson). Anak ingin terlibat dalam berbagai aktivitas yang mengasah ketrampilan hidupnya khususnya di lingkungan sekolah. Ia ingin merasa sukses/kompeten dan membangun citra diri/harga diri yang positif sebagai anak yang bisa/berprestasi/kompeten. Ia juga ingin mendapat penerimaan dari teman sebaya. Mereka juga ingin menyelesaikan tugas dan melakukan aktivitas bersama teman-temannya. Oleh karena itu pada dasarnya mereka akan melakukan apa saja untuk menunjukkan kompetensinya, jika perlu secara negatif. Apapun beban yang ditanggung, guru memang dituntut untuk tetap mampu menyediakan lingkungan yang kondusif bagi perkembangan anak secara optimal. Itulah tugas guru.
Agar mampu menjalankan tugas itu dengan baik, guru perlu mengasah kecerdasan emosionalnya. Secara sederhana, yang dimaksud dengan kecerdasan emosional adalah  kemampuan seseorang untuk memahami emosi, baik dirinya sendiri maupun pada orang lain, serta mampu mengendalikannya sehingga mendorong ketrampilannya untuk berhubungan dengan orang lain serta beradaptasi dengan tuntutan lingkungan.

A.          Kecerdasan Emosional

Beberapa aspek kecerdasan emosional menurut Goleman adalah :

a.           Kemampuan mengenali emosi/perasaan/suasana hati diri sendiri:

Kemampuan ini sifatnya sangat mendasar karena merupakan bekal utama untuk bisa masuk ke kemampuan lainnya. Tanpa pengenalan diri sendiri, kita akan sulit pula belajar mengenal/memahami orang lain, tak tahu apa yang harus kita kelola pada diri kita dan bagaimana kita hendak mengarahkan diri kita.

b.           Kemampuan mengelola emosi

Ketika kita sudah tahu kita sedang senang, atau jengkel, atau kecewa, marah dan sebagainya, kini saatnya kita mengatur diri kita agar hidup kita tak dikendalikan oleh emosi melainkan oleh nalar dan pemikiran pula. Memang ada bagian dalam otak kita yang mengatur emosi (sistem limbik) dan tak sepenuhnya bisa dikontrol. Namun dengan menyadarinya secara tak langsung kita memaksa informasi emosi itu untuk masuk ke bagian otak (korteks) yang mengolah semua informasi dengan penalaran. Dengan demikian walaupun kita marah besar, karena kita mengenali datangnya amarah, kita kini belajar untuk mengontrolnya.
c.            Memotivasi diri sendiri
Lebih lanjut orang yang cerdas secara emosional akan mampu mengarahkan diri menuju ke hal yang positif, mengusahakan pencapain tujuan hidup dan berfungsi secara adaptif dalam kehidupannya. Orang semacam ini akan menjadi lebih produktif.
d.           Mengenali emosi pada orang lain
Di samping memahami ke dalam diri sendiri, orang yang memiliki kecerdasan emosi menunjukkan juga ciri mampu memahami orang lain. Ia mengembangkan empati dan bersikap pro-sosial.
e.           Mengelola hubungan dengan orang lain
Pada akhirnya orang yang cerdas emosi adalah orang yang akan mampu untuk mengembangkan hubungan baik dengan orang lain atas dasar ketrampilan-keterampilan di atas.
Jelas sekali bahwa setiap orang perlu mengembangkan kecerdasan emosional, terutama guru. Selain untuk meningkatkan efektifitas pribadinya untuk dirinya sendiri, guru tak bisa dipungkiri adalah model yang ditiru anak serta pihak yang bertanggungjawab untuk mengatur dirinya agar mampu menyediakan lingkungan perkembangan yang baik bagi anak. Kedua hal yang lebih disorot adalah kemampuan mengelola stres dan kemampuan menghadapi ledakan marah.

B.          Mengelola stres

Stres sudah merupakan bagian dari hidup manusia masa kini. Tak seorangpun yang tak pernah dihinggapi oleh stres. Entah presiden, tukang sapu, manajer, ibu rumah tangga, guru, bahkan anak-anakpun sudah bisa merasakan stres. Perbedaannya ada orang yang peka terhadap stres dan ada yang kurang peka; juga ada yang pandai mengelola stres dan ada pula yang kurang siap menghadapi stres sehingga terganggu kesejahteraan hidupnya, menjadi tertekan, uring-uringan, atau putus asa, depresi bahkan sampai bunuh diri.
Stres adalah reaksi fisik dan emosional kita sebagai respon/tanggapan terhadap sebuah keadaan yang mengandung stresor (sumber stres). Stresor (sumber stres) bisa bermacam-macam; yang ringan dan bersifat fisik, misalnya kita sedang berjalan di tepi jalan, tiba-tiba sebuah sepeda motor lewat dengan membunyikan klakson dengan keras di samping kita. Kita terkejut dan melompat ke pinggir. Bentuk lain misalnya ketika kita menghadapi masalah dengan kepala sekolah sehingga kita jadi sulit tidur di malam hari karena memikirkan bagaimana menyelesaikan persoalan tersebut, atau kita hendak menikah atau baru saja kehilangan orang yang kita cintai. Bisa juga kita stres karena kita menuntut standar yang terlalu tinggi bagi diri kita sendiri. Selain itu kita bisa juga stres akibat kesibukan sehari-hari, misalnya pagi-pagi kita terlambat bangun, anak-anak bermalas-malas untuk bersiap berangkat sekolah, suami/istri kita sibuk menanyakan di mana handphonenya, nasi goreng yang kita buat terlalu asin karena terburu-buru, lalu ketika akhirnya hendak berangkat kerja ternyata sepeda motor kita kempes bannya.... hari itu jam belum menunjukkan pukul 8 pagi tapi kita serasa sudah habis energi! Kita tidak antusias menghadapi hari itu....nah, itulah tanda-tanda kita sudah mengalami stres karena tekanan kegiatan hidup sehari-hari. Stres yang semacam ini justru sekarang makin banyak menghinggapi kita tanpa kita sadari karena begitu lekat dengan keseharian kita.
Stres pada tingkat yang rendah mungkin justru baik untuk membuat kita waspada. Namun ketika stres sudah menggejala membuat kita malas pergi ke kantor karena di sana kita punya masalah, atau punggung terasa tegang, kepala sakit, kita merasa ingin marah-marah terus tanpa sebab jelas, kita sudah harus berhati-hati karena kita sudah masuk pada tahap tertekan (distres). Pada tahap yang lebih berat kita bisa “dilumpuhkan” oleh stres. Oleh karena baik untuk mencermati kehidupan kita dan melakukan refleksi sejenak, seberapa banyak stresor dalam kehidupan kita; kemudian menyusun rencana untuk menghadapinya.
Banyak cara untuk menghadapi stres. Salah satu  upaya pencegahannya adalah belajar mensyukuri berkah yang kita terima sekecil apapun dan mengatakan hal positif kepada diri kita sendiri. Cara pandang positif membantu kita untuk menangkal stres. Kita juga bisa belajar mengenali tanda stres yang biasa kita rasakan, seperti jantung berdebar, sulit tidur, bahu tegang, sering sakit kepala atau sakit flu misalnya. Setelah kita sadar, tentu mulailah mawas diri dan atasi sumber stres jika bisa. Jika tidak, maka sedikitnya berupayalah memberikan makna positif terhadap keadaan itu.
Cara lain adalah upaya untuk menangkal stres akibat aktivitas sehari-hari. Untuk itu tinjaulah penggunaan waktu kita sehari-hari; apa yang kita kerjakan sehari-hari. Sudahkah hidup kita seimbang, antara waktu yang kita gunakan untuk penyelesaian tugas, waktu untuk membina hubungan-hubungan, dan waktu untuk diri sendiri. Apakah kita proporsional dalam membagi waktu urusan kerja, hobi, ibadah, dsb. Stephen Covey juga mengajukan inspirasi penting dalam pengelolaan waktu untuk menangkal stres dan meningkatkan efektifitas pribadi kita: first thing first! Maksudnya, selalu buat prioritas hal-hal yang harus kita lakukan dalam hidup kita. Lalu mulailah mengatur waktu dan kegiatan kita dengan hal yang paling penting dan mendesak terlebih dahulu. Hindarkan untuk melakukan atau mempersoalkan hal-hal yang tidak penting dan bukan menjadi prioritas hidup kita. Tak ada yang sempurna dalam hidup ini, jadi jangan menuntut diri sendiri melebihi kapasitas yang ada; walaupun ini tidak boleh diartikan bahwa kita tak perlu bersusah payah mengukir prestasi. Kita juga bisa berlatih relaksasi untuk mengatasi stres.

C.           Menghadapi ledakan amarah

Marah adalah suatu perasaan yang sah dan tak dapat disalahkan. Namun kemarahan perlu dikendalikan agar tidak merusak. Hal ini sangat penting khususnya bagi guru dan orangtua/pengasuh, karena saat kita tak lagi bisa mengendalikan amarah maka kita cenderung melakukan kekerasan pada anak yang kesejahteraannya menjadi bagian dari tanggungjawab kita.
Mulailah dengan memikirkan : seberapa sering kita marah dalam seminggu ini ? Kalau di awal pelatihan kita sudah mengeksplorasi sisi peserta didik (baik pengalaman kita dulu sebagai peserta didik maupun suara anak masa kini), kini apa saja yang telah membuat kita marah (pada sisi guru) ?
Kenalkah kita tanda-tanda saat kita mulai dilanda ledakan amarah ? Misalnya srrt..darah serasa meruap dari bawah ke atas secepat kilat, badan gemetar, dsb. Kenalkah kita di saat kapan kita biasa mengalami hal itu atau cenderung sering mengalami hal itu ? Misalnya untuk kaum perempuan di saat mendekati masa haid, dsb.
Setelah kita mengenali “kebiasaan” ledakan amarah, kita bisa mulai memikirkan beberapa cara untuk menanggulangi ledakan amarah. Lihatlah gambar kemungkinan bagaimana orang bereaksi terhadap amarah. Apakah kita meledak jika marah, atau kita bisa memiliki cara penyaluran, atau kita menekan dalam-dalam kemarahan kita ? Menekan amarah sama sekali bisa merusak ke dalam diri kita sendiri, namun membiarkannya meledak tak terkontrol akan merusak orang lain, anak dalam hal ini.
Salah satu anjuran ketika kita merasakan desakan amarah adalah “time-out”; yaitu tinggalkan kejadian saat anda merasa hendak mengalami ledakan amarah; turunkan emosi misalnya dengan cara relaksasi singkat (paling tidak tarik nafas dalam dan hembuskan dengan melemaskan otot sesaat/ beberapa kali) lalu baru kita bisa kembali dan mendiskusikan/menyampaikan “kemarahan” kita saat emosi (ketergugahan fisiologis) sudah menurun. Sekali lagi, perasaan marah adalah sah. Marah yang tak bisa ditolerir adalah ketika diekspresikan dengan emosi kuat dan cenderung membuat kita “melukai” anak-anak.  Ingatlah tugas kita sebagai guru yang menjadi pelaku utama dalam menyediakan lingkungan perkembangan yang sehat bagi anak di sekolah. Untuk itu saat menyampaikan kemarahan kita, usahakan untuk menggunakan pesan “saya” dan nyatakan secara eksplisit harapan kita kepada anak. Misalnya “Saya marah sekali karena kamu berdua saling memukul. Saya harap kalian menyelesaikan persoalan dengan cara damai, negosiasikan”. Pada prinsipnya, jauhkan emosi dari pernyataan kemarahan kita, karena emosi mengaburkan pesan pendidikan yang hendak kita sampaikan kepada si anak. Ketika kita masih diwarnai emosi kuat, yang cenderung akan muncul misalnya adalah sumpah serapah atau tangan melayang untuk memukul. Dengan cara ini anak sering hanya menangkap emosi kemarahan kita dan menerjemahkannya menjadi rasa tidak senang/sayang dari si guru/orangtua kepada mereka dan mereka justru tidak belajar perilaku yang seharusnya mereka ubah.
Ada sebagian orang yang menurunkan ledakan amarah dengan mendengar/memainkan musik, memukul karung/guling pasir atau bantal atau melakukan latihan “kesetrum” (di tempat yang tidak menimbulkan gangguan dan/atau tanda tanya bagi orang lain tentunya), dan cara-cara lain yang intinya menghindari ledakan langsung kepada anak. Program mengelola ledakan amarah (anger management) dari IMHI (Institute for Mental Health Initiatives) menganjurkan cara RETHINK (secara harfiah berarti pikirkan kembali, tetapi ini juga merupakan akronim dari langkah-langkah mengelola ledakan amarah).
Upaya RETHINK ini mengindikasikan kenyataan bahwa emosi (termasuk kemarahan) diproses awalnya di bagian otak yang disebut amygdala, tetapi proses ini bisa ditarik ke bagian otak yang menganalisis (korteks). Dengan demikian manusia bisa bertindak tanpa dikontrol oleh emosinya semata.
Langkah-langkah cara RETHINK untuk mengelola ledakan amarah sebagai berikut:
1.              Recognize : kenali saat anda marah, apa pemicunya, apa yang anda pikirkan, saat apa dan kepada siapa anda marah.
2.              Empati : belajarlah merasakan apa yang dirasakan/dipikirkan orang lain. Mulai dari diri anda dan gunakan pesan “saya” untuk menunjukkan kepada sasaran amarah anda apa yang anda rasakan dengan tenang.
3.        Think : pikirkan kata-kata yg anda ucapkan, bisakah diucapkan dengan cara lain, adakah sisi lucu dari apa yg anda alami.
4.        Hear : dengarkan apa yg dikatakan orang lain. Kaitannya dengan empati, anda coba memahami apa yg coba dikomunikasikan melalui perbuatan/perkataan orang lain kepada anda.
5.        Integrate : tunjukkan bahwa ekspresi marah anda bukan merupakan ekspresi perasaan anda kepada anak, melainkan pada perilaku yang ditampilkannya. Kemarahan yang sesuai biasanya tidak diikuti oleh emosi tinggi pada ybs.
6.   Notice : kenali tanda tubuh saat anda marah misalnya dada/jantung anda, tengkuk/leher, dsb.
7.      Keep the problem at present and proportional. Saat kita marah kita sering sekali membawa-bawa urusan masa lalu atau hal lain yang tidak relevan dengan keadaan/kesalahan anak saat itu. Ini tidak sehat baik bagi kita maupun bagi anak. Fokuskan kemarahan kita hanya pada perilaku anak atau situasi saat itu saja. Pilih dengan seksama situasi yang akan kita permasalahkan – fokus pada hal yang keterlaluan dan di mana kontrol perubahan terdapat pada diri anak, hindari dorongan untuk merujuk kejadian masa lampau.
Teruslah berlatih karena ketrampilan ini tidak bisa muncul begitu saja, apalagi jika kita sebelumnya terbiasa membiarkan amarah kita meledak begitu saja.
*** Disarikan dari berbagai sumber.

Rabu, 02 April 2014

Keutamaan Sholat Berjama'ah


Shalat jama'ah hukumnya adalah sunnah mu'akkad, bagi setiap muslim yang sudah baligh.
Ada beberapa keutamaan shalat jama'ah, yang dapat menjadi motivasi bagi kita untuk lebih meningkatkan kuantitas dan kualitas sholat berjama’ah.

1. Pahala langkah kaki
Seseorang yang berjalan ke masjid, maka tiap langkah kakinya akan diberikan satu pahala, dihapuskan satu dosa, dan dinaikkan satu derajat oleh Allah SWT.
(Ibnu Majah: 277, Muslim: 1068 dan 1065).

2. Pahala menunggu waktu shalat
Banyak diantara kita yang berangkat ke masjid ketika adzan sudah berkumandang bahkan ketika iqomat baru berangkat dengan tujuan supaya bisa cepet selesai. Dan sering kali kita bosan menunggu waktu iqamah dikumandangkan, dan tidak jarang nunggu iqamat dengan  bermain HP, atau bahkan ngrumpi dengan teman yang lain.
Perlu diperhatikan bahwa kita akan mendapat pahala yang besar kalau kita menunggu waktu sholat dengan ber-iktikaf dengan memperbanyak dzikir.
Orang yang menunggu sholat di masjid diberi pahala seperti sedang sholat (Hadits Bukhari: 611)

3. Di do'akan oleh para Malaikat
Seorang yang menunggu shalat, yakni mulai dari masuk masjid sampai dengan waktu shalat, maka dia akan didoakan oleh malaikat dengan doa : "Ya Allah Ampunila dia, Ya Allah ampunilah dia", tanpa henti sampai waktu shalat.
Kita mungkin pernah minta didoakan oleh orang yang menurut kita lebih beriman, lebih bertakwa, dan lebih tinggi derajat keimanannya dengan harapan do’anya akan diijabah oleh Alloh SWT.
Dengan menunggu sholat kita akan dido’akan oleh malaikat makhluk Allah yang dimuliakan yang tidak pernah ingkar/membangkang perintah Allah. Subhanallah!

4. Mendapat naungan dihari kiamat
Ada tujuh golongan orang yang mmendapat naungan Alloh di hari kiamat, salah satunya adalah orang yang hatinya terpaut dengan masjid. Seorang pemuda yang hatinya terikat dengan masjid, orang orang itulah yang akan mendapat perlindungan dari Allah saat kiamat kelak. (Al-Bukhor: 620)

5. Doa malaikat ketika di shaf terdepan
Selain di doakan malaikat ketika menunggu waktu shalat, orang yang ada di shaf terdepan juga didoakan oleh malaikat.
“Sesungguhnya Allah dan para Malaikat memberikan sholawat kepada orang-orang yang berada di shaf pertama.” HR. Ibnu Hibban no.2157).

6. Subuh dan 119 pahala
Seseorang yang melaksanakan shalat subuh berjamaah, maka orang itu akan mendapatkan pahala 119 kali dibanding shalat sendiri. (Muslim:1049).

7. Isya dan 59 pahala
Seseorang yang melaksanakan shalat isya berjamaah, maka dia bakal dapat pahala 59 kali lipat. (Muslim:1038)

8. Dzuhur, Ashar, Magrib dan 27 pahala
Kalau shalat dzuhur jamaah, ashar jamaah, dan magrib jamaah, masing masing dilipatgandakan 27 kali kalau kita laksanakan secara jamaah. (Muslim: 1038)

9. Pahala ketika sakit
(Dengan menjaga shalat jama’ah) Ketika kita tidak bisa ke masjid dan shalat di rumah, kita akan dapat pahala yang sama seperti waktu shalat di masjid. (Abu Daud:2687)

10. Terhindar dari sifat munafiq
Tidak ada sholat yang lebih berat bagi orang-orang munafiq dari pada sholat subuh dan isya. Seandainya mereka tahu nilai yang terkandung di dalam kedua sholat itu, pastilah mereka mendatangi (masjid tempat) kedua sholat itu meskipun dengan merangkak. orang yang mampu melaksanakan (melanggengkan) shalat berjama’ah itu, niscaya akan terhindar dari sifat munafiq. (Al-Bukhori: 617)

* disarikan dari berbagai sumber