Tampilkan postingan dengan label tradisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tradisi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 20 Mei 2025

Pemulasaraan Jenazah (3) Tata cara Sholat dan mengubur Jenazah

Kaifiyah atau tata cara sholat jenazah dilakukan dengan 4 takbir tanpa ruku’, sujud dan duduk, tidak seperti sholat fardlu. Jika dilakukan dengan berjamaah, posisi imam sejajar kepala mayit (jika mayit laki-laki) dan sejajar dengan pusar (jika mayit perempuan).

Adapun tata cara sholat jenazah, sebagai berikut:

Pertama, NIAT.

Niat wajib digetarkan dalam hati. Apabila dilafalkan secara lisan akan berbunyi:

Untuk jenazah laki-laki:

اُصَلِّى عَلَى هَذَاالْمَيِّتِ اَرْبَعَ تَكْبِرَاتٍ فَرْضَ كِفَايَةِ اِمَامًا| مَأْمُوْمًا ِللهِ تَعَالَى

Sedangkan untuk jenazah perempuan:

اُصَلِّى عَلَى هَذِهِ الْمَيِّتَةِ اَرْبَعَ تَكْبِرَاتٍ فَرْضَ كِفَايَةِ اِمَامًا| مَأْمُوْمًا ِللهِ تَعَالَى

Kedua, takbir pertama dan dilanjutkan dengan membaca Surat al-Fatihah.

Ketiga, takbir kedua dan diteruskan dengan membaca shalawat Nabi:

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ

Lengkapnya disambung dengan:

كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، فِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيد

Keempat, takbir ketiga dan membaca doa untuk jenazah yang sedang dishalati:

Untuk jenazah laki-laki:

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ وَاجْعَلِ اْلجَنَّةَ مَثْوَاهُ. اللّهُمَّ ابْدِلْهُ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهِ، وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهِ وَأَهْلًا خَيْراً مِنْ أَهْلِهِ. اللَّهُمَّ إِنَّهُ نَزَلَ بِكَ وَأَنْتَ خَيْرُ مَنْزُوْلٍ بِهِ. اَللَّهُمَّ أَكْرِمْ نُزولَهُ ووسِّعْ مَدْخَلَهُ  

Untuk jenazah perempuan:

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهاَ وَارْحَمْهاَ وَعَافِهَا وَاعْفُ عَنْهاَ وَاجْعَلِ اْلجَنَّةَ مَثْوَاهاَ. اللّهُمَّ ابْدِلْهاَ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهَا، وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهَا وَأَهْلًا خَيْراً مِنْ أَهْلِهاَ. اللَّهُمَّ إِنَّهُ نَزَلَ بِكَ وَأَنْتَ خَيْرُ مَنْزُوْلٍ بِهاَ. اَللَّهُمَّ أَكْرِمْ نُزولَهاَ ووسِّعْ مَدْخَلَهاَ

Kelima, takbir keempat, membaca:    

}  Untuk jenazah laki-laki:

اللهُمّ لاتَحرِمْنا أَجْرَهُ ولاتَفْتِنّا بَعدَهُ

}  Untuk jenazah perempuan:

اللهُمّ لاتَحرِمْنا أَجْرَها ولاتَفْتِنّا بَعدَها


Keenam, mengucapkan salam secara sempurna:

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

 

 

TATA CARA MENGUBUR JENAZAH

Cara Minimal.

Mengubur jenazah pada lubang (luang lahat) yang dapat mencegah tersebarnya bau dan dari gangguan binatang buas, serta dengan menghadapkannya ke arah kiblat.

Sempurnanya mengubur jenazah

  1. Jenazah dikubur dalam lubang dengan kedalaman setinggi orang berdiri dengan tangan melambai ke atas (sadedeg sakpengawe) lebar seukuran satu dzira’ lebih satu jengkal.
  2. Diutamakan yang meletakkan jenazah ke liang kubur adalah orang terdekat dan yang paling disayangi oleh jenazah semasa hidupnya;
  3. Disunahkan menutupi liang kubur dengan kain/semisalnya. (menjaga aurat mayit)

*)) Adzan boleh atau ada yang dilakukan ketika mayat belum dimasukkan kedalam liang lahat, tetapi juga boleh/ada yang dilakukan setelah dimasukkan liang lahat sebelum tali dibuka.

  1. Siapkan 3 / 5 / 7 tanah yang dibulatkan “gethuk” (untuk mengganjal tubuh jenazah).

            Bacakan tanah pertama dengan:

مِنْهَا خَلَقْنٰكُمْ

            Tanah kedua dengan:

 وَفِيْهَا نُعِيْدُكُم

            Tanah ketiga:

وَمِنْهَا نُخْرِجُكُمْ تَارَةً اُخْرٰى

            Diteruskan dengan membaca QS Al Qodr:    3 / 7 kali.

5.             Letakkan jenazah dengan pelan;

Pada saat meletakkannya di liang lahat disunahkan membaca:

بِسْمِ اللهِ وَعَلَى سُنَّةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

6.             Buka tali mulai dari bagian kepala;

7.             Disunahkan membuka bagian wajah dan kedua telapak kaki kemudian menempelkan ketanah;

8.             Wajib memiringkan jenazah ke sebelah kanan dan menghadapkannya ke arah kiblat;

9.             Mengganjal bagian kepala, punggung dan kaki dengan tanah;

10.         Pasang penutup jenazah/ “dhendheng ari” (papan/bambu);

11.         Urug dengan tanah galian.

12.         Pasang nisan diatas pusara dan taburkan bunga segar.

13.         Dibacakan talqin

Senin, 19 Mei 2025

Tata cara pemulasaraan jenazah (2)

 


Kewajiban orang yang masih hidup terhadap orang muslim yang mati ada 4, yaitu:

  1. Memandikan
  2. Mengkafani
  3. Mensholati
  4. Mengubur

Hukum ke-empatnya adalah fardlu kifayah. Kewajiban bagi sebagian orang Islam. Artinya jika sudah ada sebagian yang melaksanakan maka muslim yang lain sudah gugur kewajibannya, namun sebaliknya jika dalam satu kampung tidak ada satupun yang melaksanakannya maka semua umat Islam dikampung tersebut menanggung dosa.

Memandikan jenazah

Orang yang berhak memandikan jenazah laki-laki yang belum beristri:

  1. Laki-laki yang mempunyai hubungan waris ashobah (ayah, kakek, anak laki-laki, cucu laki-laki);
  2. Laki-laki kerabat, seperti: saudara laki-laki, paman, keponakan laki-laki, sepupu laki-laki;
  3. Laki-laki lain;
  4. Perempuan yang mempunyai hubungan mahrom dengan jenazah.

Jenazah laki-laki yang sudah beristri yang paling berhak memandikan adalah:

  1. Laki-laki yang mempunyai hubungan mahrom dengan jenazah;
  2. Laki-laki yang mempunyai kerabat yang bukan mahrom;
  3. Istri;
  4. Laki-laki lain;
  5. Apabila tidak ada laki-laki sama sekali maka yang memandikan adalah perempuan yang mempunyai hubungan mahrom. 

Jenazah perempuan:

Jenazah perempuan hanya boleh dimandikan oleh perempuan, kecuali suami dan laki-laki yang mempunyai hubungan mahram dengannya.

Hal-hal yang harus disiapkan sebelum memandikan jenazah:

  1. Siapkan tempat untuk memandikan jenazah: kamar mandi rumah/kamar mandi buatan untuk jenazah. (tertutup dan beratap);
  2. Siapkan air, daun bidara, sabun dan kapur barus, disebagian wilayah yang tidak ada daun bidara biasanya diganti dengan daun kelor dan bunga segar.
  3. Tutup jenazah dengan kain tipis (jarit), jangan pakai kain polos/putih, karena ketika kersiram air akan terawang atau memperlihatkan lekuk dan bentuk tubuh jenazah.
  4. Tebarkan parfum/ wewangian disekitar tempat pemandian.
  5. Tutup wajah jenazah selama memandikan. Kecuali jenazah yang mati ketika masih kondisi berihrom.
  6. Letakkan jenazah pada meja/ tempat yang telah disediakan untuk memandikan. (jika tidak ada tempat untuk memandikan, jenazah boleh dipangku oleh orang yang memandikan).
  7. Orang yang memandikan adalah orang yang amanah atau orang yang bisa menjaga rahasia. Hal tersebut dimaksudkan jika kondisi jenazah ada cacat atau sesuatu yang memang harus dirahasiakan dapat terjaga kerahasiaannya dan tidak dipublikasikan ke khalayak umum.
  8. Selain yang berkepentingan dilarang masuk area pemandian.

 Hal-hal yang harus dilakukan sebelum memandikan jenazah:

  1. Gunakan alat pelindung diri; (untuk antisipasi penyebaran penyakit yang diderita mayit tanpa disadari)
  2. Bersihkan gigi dengan jari telunjuk kiri dan lubang hidung dengan jari kelingking kiri, dengan menggunakan sarung tangan;
  3. Bersihkan kotoran yang ada dijarinya (kuku) dengan benda lunak;
  4. Bersihkan kotoran pada perut jenazah dengan cara:

Mayit diposisikan duduk agak condong ke belakang, tekan perut mayit berulang-ulang dari sampai bawah;

Saat menekan perut sebelah kanan, orang yang berada diposisi kaki, mengangkat kaki jenazah sebelah kiri, begitu sebaliknya;

Apabila menyentuh aurat jenazah, maka wajib menggunakan alas atau sarung tangan; (menggunakan alas atau sarung tangan hukumnya sunah)

  1. Bersihkan seluruh najis yang ada pada jenazah;
  2. Bersihkan dubur dan kemaluan jenazah dengan tangan kiri dan wajib menggunakan sarung tangan atau kain tipis;
  3. Wudlu-i jenazah sebagaimana wudlunya orang hidup.

(Saat membasuh muka, miringkan muka jenazah agar air tidak masuk ke dalam mulut. (terus baca niat mewudlukan jenazah).

Niat mewudlukan jenazah (laki-laki)

نَوَيْتُ الْوُضُوْءَ لِهَذَاالْمَيِّتِ للهِ تَعَالَى

Jika mayit perempuan

 نَوَيْتُ الْوُضُوْءَ لِهَذِهِ الْمَيِّتَةِ للهِ تَعَالَى

 Cara memandikan jenazah:

Cara minimal

Standar minimal memandikan jenazah adalah dengan meratakan air keseluruh tubuhnya

  1. Menghilangkan najis yang ada ditubuh mayit;
  2. Menyiramkan air secara merata ke tubuhnya.

Doa / niat memandikan jenazah:

Niat memandikan jenazah (laki-laki)

نَوَيْتُ الْغُسْلَ لِهَذَا الْمَيِّتِ لِلَّهِ تَعَالَى

Jika mayit perempuan

نَوَيْتُ الْغُسْلَ لِهَذِهِ الْمَيِّتَةِ لِلَّهِ تَعَالَى

Proses memandikan jenazah (Yang sempurna):

  1. Siram seluruh tubuh jenazah dengan air netral secara merata;
  2. Sampo kepala dan rambut jenazah (jika ada yang rontok dikumpulkan dan ikut dikuburkan);
  3. Siram seluruh tubuh jenazah dengan air yang sudah dicampur dengan sabun;
  4. Siram seluruh tubuh mayit dengan air bersih (bilas) menyiram dari sebelah kanan dimiringkan baru sebelah kiri. (cara memiringkan jenazah, jika miring kanan didahului dengan mengangkat kaki kiri diletakkan diatas kaki kanan (begitu sebaliknya)
  5. Menyiram jenazah dengan air yang telah dicampur dengan daun bidara.
  6. Siram seluruh tubuh mayit dengan air yang dicampur dengan kapur barus.

Ada perbedaan urutan penyiraman saat memandikan jenazah, antara satu daerah dengan lainnya.

Namun pada prinsipnya dalam memandikan jenazah mencakup 3 hal. Membersihkan, mewangikan, dan mengawetkan.

}  Air netral untuk membersihkan

}  Air sabun / dicampuri daun bidara berfungsi untuk mewangikan

}  Air kapur barus berfungsi untuk mengawetkan.

TATA CARA MENGAFANI JENAZAH

  1. Sunah menggunakan kain putih, dan makruh jika selain putih
  2. Setiap lembar kain tidak wajib menutupi seluruh badan jenazah, tetapi kombinasi (wajib dari ketiga lapis kain kafan menutupi badan jenazah);
  3. Kain kafan dipotong sesuai ukuran jenazah dan ditambah supaya kain mudah diikat;
  4. Taruhlah 5 – 7 tali untuk mengikat jenazah, dengan memanjangkan sebelah kanan;
  5. Rentangkan kain pertama ditengah, kain kedua geser disebelah kanan dan kain ketiga geser disebelah kiri jenazah. Atau kain pertama geser ke kanan, kain kedua dan ketiga geser ke kiri.
  6.  Letakkan baju kurung, sarung dan kerudung.*)
  7. Memberi wewangian.
  8.  Letakkan jenazah dikain kafan, dengan tetap tertutup auratnya;
  9.  Ikat kedua ibu jari, dan tangan disedekapkan dengan tangan kanan diatas tangan kiri. (menurut Imam Syafi’i boleh meluruskan kedua tangan disamping kanan dan kiri).
  10. Tutuplah lubang tubuh (dan persendian anggota sujud) dengan kapas;
  11.  Niat / berdoa mengkafani mayat :

بِسْمِ اللهِ وَعَلَى مِلَّةِ رَسُولِ اللهِ.نَوَيْتُ تَكفيْن هَذَا الْمَيِّتِ (هَذِهِ الْمَيِّتَةِ ) فرض كفاية لِلهِ تَعَالَى

12. Lipat kain dari sarung, kerudung, dan baju kurung;

13. Lipat kain dari yang paling atas dan seterusnya;

14. Bila jenazah dalam keadaan ihrom, maka bagian kepala tidak boleh ditutup.

15.  Ikat dengan ikatan yang mudah dibuka.

Minggu, 18 Mei 2025

Tata cara pemulasaraan jenazah (1)


Pengertian

Pemulasaraan berasal dari kata Pulasara (bahasa Jawa Kuno) yang berarti Merawat atau Mengurus. Sedang Jenazah berasal dari bahasa Arab yang berati jasad orang yang telah meninggal dunia. Pemulasaraan jenazah adalah proses perawatan jenazah yang meliputi kegiatan memandikan dan mengkafani.

Hukum pemulasaraan jenazah.

Mempelajari cara tajhizul janaiz  atau mengurusi mayit mulai dari memandikan, mengkafani, menshalati dan menguburkan adalah wajib bagi seluruh umat Islam.

Mengapa?

Karena setiap kita adalah ahli waris dari anggota keluarga kita dan kelak akan memiliki kewajiban untuk mengurusi jenazah anggota keluarga kita.

Hal-hal yang harus dilakukan ketika ada orang yang mendekati sakarotul maut

  1. Menidurkan miring (kanan) menghadap kiblat.

Jika kesulitan bisa dengan cara mengganjal (meninggikan) bagian kepala dengan bantal, sehingga menghadap kiblat, begitu juga kakinya.

  1. Jangan membicarakan kondisi penyakitnya atau menanyakan sesuatu yang tidak penting, seperti: kepengin makan apa, saya siapa?, secara terus-menerus sehingga mengganggu si sakit.
  2. Mengajari membaca syahadat atau kalimat thoyibah seperti: istighfar, tahmid, takbir ataupun tahlil dengan pelan dan tidak memaksakan untuk menirukannya. Cukup dibacakan secara terus menerus.
  3. Disunahkan membaca surat Yaasiin
  4. Berhusnuzhon kepada Alloh. Membisikkan kepada yang sedang sakit, untuk tidak membayangkan dosanya tetapi membayangkan bahwa ampunan Allah itu maha luas. Hal tersebut dimaksudkan untuk memberikan sugesti positif tentang kemurahan Allah SWT.
  1. Memberikan minum dengan air putih, jika sudah tidak mampu atau kesusahan untuk menelannya, setidaknya membasahi bibirnya dengan air.

Hal-hal yang harus dilakukan kepada orang yang baru saja meninggal:

  1. Memejamkan kedua matanya, dengan berdo’a:

بسم الله و على ملة رسول الله

Artinya: “Dengan menyebut nama Allah dan di atas agama Rasulullah”

Apabila mata jenazah sulit dipejamkan, maka usaplah mata jenazah dengan kain yang sudah dibasahi dengan air hangat.  Dan jika masih saja susah dipejamkan maka tariklah lengan tangan dan ibu jari bersamaan.

  1. Mengikat dagu, lutut dan ibu jari kaki dengan kain
  2. Melemaskan persendian. Jika orang yang meninggal tanpa sepengetahuan sehingga sudah kaku, maka gunakan air cuka, semprotkan ke persendian untuk melemaskannya.
  1. Baringkan jenazah ditempat yang lebih tinggi, semakin tinggi tempatnya semakin memperlambat proses pembusukkan.
  2. Lepaskan semua pakaian dan ganti dengan kain tipis (jarit). Jika kesulitan membukanya boleh menggunakan gunting dengan ijin ahli warisnya.
  1. Hadapkan jenazah ke arah kiblat.
  2. Tebarkan wewangian disekitar jenazah.
  3. Bayarkan hutang dengan segera. (jika mayit mempunyai hutang).
  4. Umumkan berita meninggalnya.

Kamis, 08 Mei 2025

Contoh Pranatacara MC Adat BARITAN


Assalamu ‘alaikum wr.wb

Bismillahirrahmanirrahiim

Alhamdulillahirobbil ‘alamiin

Washolatu wasalaamu ‘ala asrofil anbiyaa-i wal mursalin

Wa ‘ala alihi washohbihi ajma’in…

Lahaula wall quwwata illa billahil ‘aliyyil ‘azhim, amma ba’du

Dumateng poro sesepuh, aji sepuh, pini sepuh soho kasepuhan, ingkang anggung amastuti dhateng pepoyaning kautaman ingkang tuhu saktuhu kito bekteni;

Poro pangemban pangembating projo, kasatriyaning nagari minongko pangayomaning poro kawulo dasih ingkang tuhu pantes sinudarsono;

Dhumateng poro pangarsaning agami, pangarsaning adat lan budaya ingkang tuhu kinurmatan.

Sagunging poro pilenggah kakung putri, wredo mudo, lan poro pamiyarso sedoyo ingkang satuhu bagyo mulyo

Purwakaning atur, monggo sesarengan angaturaken pujo puji lan syukur wonten ngarso dalem Alloh SWT, ingkang sampun paring kanugrahan, kabegjan lan kabagaswarasan kito sedoyo katitik ing titi wanci meniko saged makempal manunggal wonten ing pahargyan wekdal puniko  kanti pinaringan widodo nir ing sambekolo.

Donga Sholawat lan salam mugio tansah kaluberaken dumateng Nabi panutan kito Kanjeng Nabi Muhammad SAW ingkang tansa kito ajeng-ajeng pitulunganipun wontening dinten akhir.

Sagung poro pilenggah kakung soho putri ingkang bagyo mulyo.

Tuhu linepatno ing deduko, tinebihno ing tulaksarik dene kulo cumanthoko ngadeg ngabyantoro wonten ngarso panjenengan sedoyo, awrat netepi jejibahan saking panitia Tradisi Baritan Desa Logandu, supados nderekaken runtut reroncening acara ing titiwanci meniko.

Sakderengeringipun adicoro baritan kaleksanan, kepareng kulo anturaken menggah runtut reroncening adicoro ingkang badhe kalampahan ing titiwanci dalu meniko.

  1. Sepisan pambuko
  2. Ongko kalih atur pambagyo harjo saking Panitia
  3. Ongko tigo Pamedhar sabdo saking Sesepuh Adat
  4. Ongko sekawan Pamedhar sabdo saking Kepala desa
  5. Ongko gangsal Donga panutup

Mekaten menggah runtuting adicoro ingkang badhe kalampahan ing titiwanci dalu meniko. Ngengeti wekdal ingkang sampun sakwetawis dalu, pramilo sumonggo kita wiwiti acara ndalu meniko kanthi ngunjukaken pandonga wonten ngarso dalem Gusti ingkang akaryo jagat Allah SWT, ingkang ngrasuk agami Islam sarono ndonga Basmallah sesarengan, wondene ingkang ngrasuk agami sanes kasuwun anjumbuhaken……

Matur nuwun, mugio kanthi waosan donga Basmallah meniko acara Baritan ndalu meniko, saking purwo madyo lan wasono lumampah kanthi gangsar lancar tan manggih rubedo setunggal menopo… Aamiin.

Ndungkap adicoro ingkang ongko kalih, nenggih atur pambagyo harjo saking Panitia, ingkang badhe kasaliro dhumateng panjenenganipun bopo ……………… dhumateng panjenenganipun bopo …… sasono woro kasumanggaken.

…………………………………………………………….

Saktuhu tatas, titis, tetes atur pangandiko saking bopo………… Dhumateng panjenenganipun kaaturaken agunging panuwun.

Ndungkap adicoro ingkang ongko tigo, nenggih Pamedhar sabdo saking sesepuh adat, ingkang badhe kawedhar sabdo dening panjenenganipun bopo ………… dhumateng panjenenganipun bopo ………… sasono woro kasumanggaken…

Gamblang wijang wewentehan pamedhar sabdo saking panjenenganipun bopo ………….. minongko sesepuh adat desa ……………. Dhumateng panjenenganipun kaaturaken agunging panuwun.

Ndungkap adicoro ingkang ongko sekawan, nenggih Pamedhar sabdo saking Kepala Desa …….. dhumateng panjenganipun bopo…… saksono woro katur…….

Mekaten atur pangandiko saking bopo Kepala Desa….. dhumateng panjenenganipun kaaturaken agunging panuwun.

Sagung poro pilenggah kakung soho putri ingkang bagyo mulyo.

Lajuning adicoro ndungkap adicoro ingkang pungkasan, nenggih donga panutup. Namung sakdereningipun dipun pungkasi, kulo ingkang piniji minongko pambiyoworo mbok bilih anggenipun nderekaken runtut reroncening adicoro saking purwo madyo lan wasono, kathah atur ingkang kirang trapsilo, tan jangkeping totoboso, kiranging subosito, mboten namung tansah nyadhong lumunturing sih pangaksomo.

Sumonggo kito pungkasi adicoro meniko kanthi donga hamdallah sesarengan.

Dhumateng sakgunging poro pilenggah katuran lenggah kanthi mardikaning penggalih sinambi mriksani beksan lengger barit dumugi paripurno.

Katur pangarsaning barit kasumanggaken ngantos purnaning pahargyan ing dalu meniko.

Wallohul muwafiq, ila aqwamith thoriq

Wassalaamu ‘alaikum wr.wb

Nuwun…nuwun……...nuwun

 

 

Sabtu, 03 Mei 2025

Tradisi: SADRAN ATAU NYADRAN


Nyadran berasal dari kata Sadran, mendapat akhiran “an” menjadi Sadranan adalah tradisi masyarakat Islam Jawa berupa membersihkan makam para leluhur yang dilanjutkan dengan kenduri dan doa bersama  yang dilakukan di bulan Sya’ban (menjelang bulan suci Ramadlan).

Menurut penuturan Prof. DR. KH. Raden Ngabehi Agus Sunyoto, M.Pd (Sejarawan  dan Penulis sejarah Walisanga), dalam bukunya “Sejarah masuknya Islam ke Nusantara” disebutkan bahwa istilah atau sebutan sadran berasal dari bahasa sansekerta Sadara yang artinya mengingat roh para leluhur (Ngeling-eling marang leluhur). Atau ada yang mengatakan Seradaan atau Shraddha yang artinya menghormati ruh para leluhur (Ngurmati marang para leluhur). Dari dua sebutan itu kemudian menjadi istilah Sadran/nyadran yang artinya memanjatkan doa atau menaikkan doa kepada arwah para leluhur agar diterima oleh Tuhan Yang Maha Esa Allah SWT. Dan oleh masyarakat Islam Jawa di Desa Logandu Kecamatan Karanggayam disebut unggah-unggahan.

Sejarah

Pada mulanya sadran/shraddha adalah ajaran Kapitayan, berupa tradisi membersihkan makam dan memberikan persembahan kepada roh leluhur yang dilakukan setiap tahun pada hari dan pasaran meninggalnya. Upacara persembahan dilakukan sebagai bentuk penghormatan kepada ruh para leluhurnya dengan keyakinan bahwa ruh para leluhur yang telah memberikan perlindungan keselamatan (ngayomi) dan memberikan anugrah rejeki. Setelah masuknya Islam di tanah Jawa yang dibawa dan disebarkan oleh walisanga,  tradisi Sadran tetap dipertahankan namun ada beberapa perubahan, diantaranya:

  • Sadran menjadi tradisi bersama-sama yang dilaksanakan pada bulan Sa’ban (Ruwah).
  • Acara persembahan menjadi kenduri selamatan (bancakan).
  • Mendoakan roh para leluhur dan bertawashul kepadanya.

Sadranan masyarakat Desa Logandu

Tradisi sadranan bagi masyarakat Islam di Desa Logandu:

  • Puncak dari acara bersih makam (gebasan) yang dilaksanakan setiap 4 bulan sekali.  Baca: https://babehmardiadi.blogspot.com/search?q=gebasan+
  • Ritual Sadranan atau nyadran diawali dengan membuat sesaji dirumah masing-masing dilanjutkan dengan membersihkan makam secara bersama-sama, dan ditutup dengan kenduri di Balai Desa atau rumah Kepala Desa/Kepala Dusun..
  • Membakar kemenyan dengan menggunakan ‘upet” di makam leluhurnya sebagai sarana permohonan / tawashul kepada Allah SWT Tuhan Yang Maha Esa.
  • Upet alat untuk membakar kemenyan adalah alat yang terbuat dari mancung (manggar kelapa yang sudah kering), klari (daun kelapa yang kering) yang diikat dengan tali. Makna yang tersirat, mancung artinya manungsa mesthi arep dikuncung (dipocong) alias mati, klari artinya selagi masih hidup manusia harus selalu “nglalari” menyambung silaturahim dengan sanak saudara. Dua hal tersebut diikat dengan tali, artinya selagi masih hidup manusia harus “hablum minalloh” membangun hubungan baik dan selalu ingat kepada Allah SWT Tuhan Yang Maha Esa dan “hablum minannas” membangun hubungan baik dengan sesama manusia.
  • Pulang dari makam harus minum kopi (ngopi).
  • Dilaksanakan di hari Jum’at terakhir bulan Sya’ban (menjelang bulan suci ramadlan).
  • Sadranan disebut dengan unggah-unggahan, karena adanya keyakinan bahwa selama bulan Ramadlan ruh para leluhurnya tidak berada di makam, tetapi  sedang “munggah” ke langit, sehingga  selama bulan ramadlan tidak baik untuk ziarah “tilik” para leluhurnya.

Mengapa tradisi sadranan dipertahankan?

Tradisi sadranan adalah warisan para leluhur yang didalamnya ada beberapa pelajaran penting dalam kehidupan sosial dan kehidupan beragama, yaitu:

  1. Mengingat dan mengetahui sanak saudaranya, lantaran yang ikut bersih makam adalah yang masih ada hubungan nasab;
  2. Menjaga kerukunan dan mempererat tali persaudaraan;
  3. Mengingat akan adanya kematian;
  4. Mendoakan para leluhurnya sebagai bentuk birrul walidain (berbakti kepada orangtua)
  5. Ajaran bersedekah terhadap sanak saudara. (kgta)

 

Selasa, 29 April 2025

Mengenal adat istiadat dan budaya desa: SELAMATAN WETONAN

Dikalangan masyarakat pada umumnya peringatan ulang tahun biasanya diperingati pada setiap tanggal dan bulan kapan peristiwa itu terjadi atau waktu kelahirannya. Berbeda dengan tradisi jawa (Desa Logandu), peringatan hari ulang tahun kelahiran, tidak diperingati pada setiap tanggal dan hulan kelahiran, tetapi diperingati setiap hari dan pasaran kelahirannya dan dilaksanakan di bulan Sura (menggunakan penanggalan kalender Aboge) yang dinamakan wetonan. Misalnya ada seseorang yang lahir pada hari Ahad wage, 27 April 2025 atau 28 Sawal 1446 H/1958 saka (penanggalan aboge). Peringatan hari ulang tahun (wetonan) tidak dilaksanakan pada setiap 27 April atau 28 Sawal, tetapi dilaksanakan setiap hari Ahad wage di bulan Sura.  Wetonan dilaksanakan dengan mengadakan kenduri, selamatan, bancakan sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT Tuhan Yang Maha Esa karena telah terlahir didunia, dan memohon (berdoa) kepada Allah SWT, semoga umur yang diberikan menjadi umur yang barokah bermanfaat  dan selalu mendapatkan keselamatan dunia dan akhiat. Kenduri/bancakan mengundang para tetangga dengan menyiapkan uborampe (perlengkapan kenduri) yang telah ditentukan secara turun temurun.


Adapun beberapa uborampe (perlengkapan) selamatan wetonan yang harus disiapkan antara lain:

Tumpeng.

Nasi yang berbentuk kerucut yang dibentuk menggunakan kukusan, sehingga bentuknya seperti bangun segitiga sama sisi. Tumpeng, yen wis metu kudu mempeng. Artinya ketika manusia sudah terlahir ke dunia harus semangat dalam bekerja dan berusaha dalam rangka menjaga fitrah dan tujuan hidup manusia yakni keselamatan dan kebahagiaan dunia dan akhirat.

Tumpeng ada yang menamakan buceng, nyebuto sing kenceng. Artinya dalam kehidupan manusia harus selalu menyebut asma Allah SWT (eling marang Pengeran) sebagai perwujudan rasa syukur karena telah menciptakan manusia dan dapat terlahir di dunia.

Tumpeng dengan bentuk kerucut atau segitiga sama kaki, artinya dalam kehidupan dunia, manusia harus memegang teguh 3 dimensi pokok manusia. Yaitu dimensi iman sebagai dasar, dimensi Islam dan Ihsan pada kedua sisinya, dan dari ketiga dimensi itu mengerucut menuju pada satu titik yakni keridloan Allah SWT (Tuhan Yang Maha Esa).

Ingkung.

Ayam (jengger) yang dipanggang utuh (tidak dipotong-potong) dengan kepala ditundukkan, kaki dan  badannya diikat sehingga ketika disajikan mirip seperti orang sujud dalam sholat. Ingkung dari kata “jinangkung” artnya mengayomi atau melindungi, atau dari kata “manekung” yang artinya memanjatkan doa. Dalam tradisi jawa (Desa Logandu) ayam ingkung dinamakan ayam rasulan (ayam jantan yang masih suci) sebagai symbol kebaktian/ketaatan kepada Nabi Muhammad SAW dengan melaksanakan sujud sembahyang/sholat.

Jenang abang putih.

Bubur beras warna merah (dengan gula merah) dan warna putih (original/tanpa campuran apapun). Menandakan bahwa manusia lahir dari bapak (jenang abang, symbol keberanian) dan dari seorang ibu (jenang putih sebagai symbol kesucian).

“Kethengan dan srunthul”

Makanan berbentuk bulat seperti onde-onde dengan ukuran yang berbeda yakni besar dan kecil. Kethengan lebih besar dan terbuat dari beras, sedangkan srunthul lebih kecil dan terbuat dari besar yang dicampuri dengan ampas kelapa. Bahwa hidup di dunia ini bulat dan berputar seperti cakra manggilingan. Kesadaran bahwa roda kehidupan terus berputar, kadang diatas artinya hidup dalam kesenangan, dan rejeki melimpah, tetapi adakalanya dibawah, artinya sedang dalam keadaan susah rejekinya, susah kesehatannya. Hal itu harus disadari dan dipahami sebagai sunatullah yang pasti akan terjadi pada setiap manusia.

“Rondean”

Makanan/lalapan yang terdiri dari petai, jengkol, kacang panjang, dan kecambah kacang hijau. Symbol bahwa dalam hidup banyak rasa, banyak corak dan warna.

Srudeng

Makanan yang terbuat dari ampas kelapa yang digoreng. Dalam hidup pasti akan menemui permasalahan, sekecil apapun masalah jangan disepelekan tetapi harus diselesaikan.

Rakan

Makanan dari Pala pendhem, seperti singkong, ubi, jono wari (tales), uwi dll. Pelajarannya bahwa didalam bumi tersimpan rejeki. Rawat, pelihara dan olah bumi dengan baik, niscaya akan memberikan rejeki untuk kelangsungan hidup manusia.

Selengkapnya baca: https://babehmardiadi.blogspot.com/2025/04/tradisi-kabulan-bagian-pertama-dalam.html

Setelah uborampe selamatan/bancakan tersedia, kemudian diumumkan (kabulan/diujudaken/ diikrarkan) dan diakhiri dengan doa. (kgta)

 

Senin, 28 April 2025

Mengenal adat istiadat dan budaya desa

Adat istiadat adalah sistem norma dan kebiasaan yang diwariskan secara turun-temurun dalam suatu masyarakat, yang menjadi pedoman perilaku dan tindakan dalam kehidupan sehari-hari. Ini mencakup berbagai aturan, tradisi, dan nilai yang memengaruhi kehidupan sosial, budaya, dan bahkan hukum di suatu wilayah. 

Tradisi adalah Kebiasaan/segala sesuatu yang di salurkan atau di wariskan dari masa lalu ke masa kini atau sekarang atau sebuah bentuk perbuatan yang dilakukan berulang-ulang dengan cara yang sama;

Adat istiadat selain berfungsi sebagai pedoman bagi individu dalam berinteraksi dengan orang lain, menyelesaikan masalah, dan menjalankan berbagai kegiatan sosial, budaya, dan ritual, adat istiadat juga memiliki fungsi penting dalam menjaga keharmonisan sosial, melestarikan nilai budaya, dan mengatur kehidupan masyarakat secara umum.

Setiap wilayah memiliki adat istiadat, tradisi dan budaya yang berbeda beda. Perbedaan tersebut menunjukkan khasanah budaya yang harus terjaga kelestariannya. "Perbedaan budaya seharusnya tidak memisahkan kita satu sama lain, melainkan keragaman budaya membawa kekuatan kolektif yang dapat bermanfaat bagi seluruh umat manusia."  Kata Robert Alan (sejarawan Amerika).

Adat istiadat dan tradisi Desa Logandu.

Desa Logandu Kecamatan Karanggayam adalah sebuah desa dengan cluster pegunungan yang terletak diperbatasan Kabupaten Kebumen dan Banjarnegara dengan mayoritas penduduknya adalah petani dan peternak. Seperti halnya desa-desa dipegunungan, Desa Logandu dikenal sebagai desa abangan karena masih kental dan masih menjaga adat istiadat dan tradisi para leluhurnya.

Dibawah ini adalah beberapa adat istiadat dan tradisi yang masih terjaga kelestariannya:

1. Kenduri

Kenduri adalah acara tasyakuran yang bertujuan untuk memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa (Allah SWT) agar diberikan keselamatan dan memohon agar dikabulkan hajatnya.

Ritualnya adalah: mengundang tetangga, menyediakan uborampe/persayaratan kenduri berupa makanan yang jenisnya telah ditentukan, mengikrarkan maksud dan tujuan kenduri (kabulan) ditutup dengan doa dan diakhiri dengan membagikan makanan kepada yang hadir.

Karena kenduri adalah media permohonan, maka setiap ada hajat/keperluan diawali dengan kenduri.

Beberapa kenduri dan waktu pelaksanaannya.

a.   Wedusan: dinamakan Wedusan karena kenduri dengan menyembelih kambing dimasing-masing RT yang dilaksanakan untuk menjemput musim hujan atau akan memulai menggarap sawah untuk tanam padi. Baca: Kenduri Wedusan.   https://babehmardiadi.blogspot.com/search?q=wedusan

b.      Nututi tandur kenduri yang dilaksanakan setelah selesai menanam padi.

c.    Jabelan, kenduri yang dilaksanakan ketika padi sudah menguning dan siap untuk dipanen. (Penjelasannya pada edisi berikutnya).

d.  Lubaran, kenduri yang dilaksanakan setelah selesai panen padi yang diteruskan dengan acara/tradisi baritan, sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa dan penghormatan kepada hewan ternak (sapi) yang telah membantu proses menggarap sawah. Baca: Tradisi dan budaya baritan.  https://babehmardiadi.blogspot.com/2025/04/tradisi-dan-budaya-baritan.html

e.    Kasaban, kenduri yang dilaksanakan setelah panen padi sebagai ungkapan rasa syukur atas anugrah panen padi.

f.  Wetonan adalah kenduri hari dan pasaran kelahiran seseorang (hari ulang tahun) yang dilaksanakan setahun sekali di bulan Sura (Muharram)

g.  Nylameti pekarangan, kenduri yang dilaksanakan sebagai permohonan maaf kepada bumi yang ditempati dan rasa syukur kepada Allah SWT Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan keselamatan dan menjauhkan dari segala mara bahaya (bilahi) selama setahun yang telah dilewati.

h.   Selamatan/sidhekah orang yang meninggal, yaitu selamatan yang dilaksanakan ketika ada orang yang meninggal, mulai dari nyaur tanah (sebelum prosesi pemakaman), 3 hari, 7 hari, 40 hari, 100 hari, setahun (mendhak sepisan), 2 tahun (mendhak kapindho/meling), terakhir 1.000 hari. baca: Sidhekah. https://babehmardiadi.blogspot.com/search?q=selamatan+orang+meninggal+

i.     Nyameti pedhet, kenduri yang dilaksanakan oleh para peternak ketika sapinya melahirkan. (mempunyai pedhet)

j.   Ngapati, kenduri dan ritual yang dilaksanakan ketika istri/perempuan mengandung 4 bulan.

k.   Mitoni/tingkeban/keba, adalah kenduri dan ritual yang dilaksanakan ketika istri/perempuan mengandung 7 bulan. baca: Perlindungan anak dalam kontek budaya   https://babehmardiadi.blogspot.com/search?q=tingkeban%2Fkeba.

l.      Gebasan, adalah kenduri dan ritual yang dilaksanakan setiap 4 bulan sekali yang didahului dengan bersih makam. (baca: Bersih makam : Gebasan)    https://babehmardiadi.blogspot.com/search?q=gebasan+

m. Sadranan/Syabanan, adalah kenduri dan ritual yang dilaksanakan hari jumat terakhir di bulan Sya’ban (Ruwah) menjelang datangnya bulan suci Ramadlan dan didahului dengan bersih makam. (Penjelasannya pada edisi berikutnya).

n.     Kenduri awal ramadlan, kenduri yang dilaksanakan setiap awal atau memasuki bulan suci Ramadlan, selain sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT karena telah diberikan umur dan kesempatan untuk beribadah puasa Ramadlan dan sholat Taraweh, juga permohonan semoga diberikan kekuatan untuk beribadah selama bulan Ramadlan.

o.  Kenduri maleman atau likuran, yakni kenduri yang dilaksanakan pada malam tanggal 21 ramadlan/bulan pasa (dalam kalender aboge). Jika malam tanggal 21 ramadlan/pasa bertepatan dengan malam Senin maka diganti pada tanggal-tanggal ganjil akhir ramadlan. Kenduri dilaksanakan untuk permohonan kepada Allah SWT semoga di berikan kesempatan untuk beribadah di malam Laelatul Qodar.

p. Kenduri akhir bulan Ramadlan, kenduri yang dilaksanakan pada hari terakhir bulan Ramadlan atau malam 1 syawal. Kenduri dilaksanakan sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT, karena telah diberikan kekuatan dan keselamatan dapat menjalankan ibadah ramadlan sampai akhir (selesai).

q.   Kenduri hari raya, yakni kenduri yang dilaksanakan setiap hari raya Idul Fitri dan Idul Adha. Kenduri yang dilaksanakan bersama-sama di masjid musholla pada hari raya berdasarkan kelender hijriyah dan dilaksanakan di balai desa hari raya berdasarkan kalender aboge. Dan setelah acara kenduri dilaksanakan halal bihalal.

r.  Kenduri membangun rumah, kenduri dilaksanakan dimulai dari ketika akan menggali pondasi (sebelum proses pembangunan dilaksanakan, ketika pasang rangka kayu, ketika mayu (pasang genteng dan ketika pembangunan telah selesai.

s.   Dan masih banyak lagi jenis tradisi kenduri, seperti: puputan (pemberian nama bayi), ketika punya hajat, Muludan (tanggal dan bulan kelahiran nabi berdasarkan kelender aboge) dll.

Bersambung….