Menampilkan postingan yang diurutkan menurut relevansi untuk kueri gebasan. Urutkan menurut tanggal Tampilkan semua postingan
Menampilkan postingan yang diurutkan menurut relevansi untuk kueri gebasan. Urutkan menurut tanggal Tampilkan semua postingan

Rabu, 30 Januari 2013

Budaya Jawa: Bersih Makam (Gebasan)


Desa Logandu Kecamatan Karanggayam Kabupaten Kebumen, kaya akan budaya dan tradisi yang masih terus berkembang sampai sekarang. Diantaranya adalah Bersih Makam atau menurut istilah lokal namanya “Gebasan”. Tradisi/adat Gebasan merupakan kegiatan ritual yakni membersihkan makam dan lingkungan sekitar makam para leluhur warga Logandu yang dilaksanakan 4 bulan sekali. Puncaknya adalah pada setiap bulan Ruwah (sya’ban).
Istilah Gebasan muncul dari istilah bahasa lokal (Logandu), Gebasan berasal dari kata Gebas yang artinya membersihkan. Sehingga gebasan berarti kegiatan bersama seluruh warga masyarakat untuk membersihkan makam para leluhur yang dilakukan setiap 4 bulan sekali.

Menurut penuturan salah satu tokoh budaya Desa Logandu (Mbah Kuswari) Gebasan pertama kali dilakukan pada masa Hayam wuruk Raja Kerajaan Majapahit pada tanggal 4 sya’ban sampai dengan 1 syawal kira-kira 1362 masehi. “Menurut cerita para leluhur gebasan pertama dilakukan oleh Hayam Wuruk Raja Majapahit yang saat itu dinamakan Sema srada yakni setiap bulan Ruwah menjelang bulan puasa Raja Hayam wuruk memerintahkan punggawanya untuk membersihkan makam raja-raja Majapahit terdahulu dan rakyatnya supaya membersihkan makam leluhurnya.
Ritual bersih makam para Raja Majapahit itu ditutup pada tanggal 1 syawal dengan mengadakan selamatan ketupat. Tradisi bersih makam itu kemudian menjadi adat sebagian orang Jawa (termasuk masyarakat Logandu tentunya) secara turun temurun sampai sekarang bahkan menjadi sebuah acara ritual yang dilakukan oleh warga Desa Logandu terutama pada bulan Ruwah (Sya’ban)

Secara lahiriyah Gebasan bertujuan membersihkan lingkungan makam untuk melatih hidup bersih, karena kebersihan sangat penting bagi kita semua. Seperti ajaran Islam pun sangat menganjurkan kepada kita semua untuk hidup bersih, karena kebersihan bagian dari iman.
Secara batiniyah gebasan oleh para sesepuh desa Logandu merupakan acara ritual untuk memohon berkah kepada para leluhur ataw sesepuh desa yang telah meninggal, Makanya pada acara gebasan itu selain membersihkan makam warga desa Logandu juga membakar kemenyan dimakam leluhurnya masing-masing.
Setelah bersih makam selesai, warga melakukan kenduri (selamatan) bersama di Balai Desa/di rumah Kepala Desa. Pada acara itu selain diadakan do’a bersama memohon keselamatan kepada Tuhan YME, juga menjadi media berkumpul untuk saling memberikan informasi dan komunikasi antara warga dengan pemerintah desa.

Gebasan menjadi sebuah tradisi yang dipegang teguh oleh warga Desa Logandu sehingga ada sebuah anggapan, kalau warga tidak melakukan Gebasan (bersih makam) secara lahiriyah akan berdampak pada : “Kebersihan kurang” maksudnya kalau tidak dilakukan gebasan, maka makam akan terlihat kotor, terlihat angker dan tidak enak dilihat.
Ada juga sebagian warga yang mempunyai keyakinan kalau tidak mengikuti tradisi gebasan itu, para leluhur akan murka dan “NYENDU “ (menurunkan bala’) kepada ahli warisnya.

Demikian sekilas tentang budaya dan adat jawa yang ada di Desa Logandu, ada pelajaran positif (makna yang tersirat) yang tentunya bisa menjadi pendidikan bersama. Hanya terkadang kebanyakkan melihatnya secara lahiriyah. Ada pesan dari para leluhur dengan bahasa filosofis yang tidak terai dengan kata-kata.
,……………… wallahu a’lam.


Makam Mbah Suradiwangsa keturunan Mbah Kepadangan, tokoh yang ikut membuka Desa Logandu


Kondisi pemakaman umum sebelum di bersihkan (gebasan)





Senin, 28 April 2025

Mengenal adat istiadat dan budaya desa

Adat istiadat adalah sistem norma dan kebiasaan yang diwariskan secara turun-temurun dalam suatu masyarakat, yang menjadi pedoman perilaku dan tindakan dalam kehidupan sehari-hari. Ini mencakup berbagai aturan, tradisi, dan nilai yang memengaruhi kehidupan sosial, budaya, dan bahkan hukum di suatu wilayah. 

Tradisi adalah Kebiasaan/segala sesuatu yang di salurkan atau di wariskan dari masa lalu ke masa kini atau sekarang atau sebuah bentuk perbuatan yang dilakukan berulang-ulang dengan cara yang sama;

Adat istiadat selain berfungsi sebagai pedoman bagi individu dalam berinteraksi dengan orang lain, menyelesaikan masalah, dan menjalankan berbagai kegiatan sosial, budaya, dan ritual, adat istiadat juga memiliki fungsi penting dalam menjaga keharmonisan sosial, melestarikan nilai budaya, dan mengatur kehidupan masyarakat secara umum.

Setiap wilayah memiliki adat istiadat, tradisi dan budaya yang berbeda beda. Perbedaan tersebut menunjukkan khasanah budaya yang harus terjaga kelestariannya. "Perbedaan budaya seharusnya tidak memisahkan kita satu sama lain, melainkan keragaman budaya membawa kekuatan kolektif yang dapat bermanfaat bagi seluruh umat manusia."  Kata Robert Alan (sejarawan Amerika).

Adat istiadat dan tradisi Desa Logandu.

Desa Logandu Kecamatan Karanggayam adalah sebuah desa dengan cluster pegunungan yang terletak diperbatasan Kabupaten Kebumen dan Banjarnegara dengan mayoritas penduduknya adalah petani dan peternak. Seperti halnya desa-desa dipegunungan, Desa Logandu dikenal sebagai desa abangan karena masih kental dan masih menjaga adat istiadat dan tradisi para leluhurnya.

Dibawah ini adalah beberapa adat istiadat dan tradisi yang masih terjaga kelestariannya:

1. Kenduri

Kenduri adalah acara tasyakuran yang bertujuan untuk memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa (Allah SWT) agar diberikan keselamatan dan memohon agar dikabulkan hajatnya.

Ritualnya adalah: mengundang tetangga, menyediakan uborampe/persayaratan kenduri berupa makanan yang jenisnya telah ditentukan, mengikrarkan maksud dan tujuan kenduri (kabulan) ditutup dengan doa dan diakhiri dengan membagikan makanan kepada yang hadir.

Karena kenduri adalah media permohonan, maka setiap ada hajat/keperluan diawali dengan kenduri.

Beberapa kenduri dan waktu pelaksanaannya.

a.   Wedusan: dinamakan Wedusan karena kenduri dengan menyembelih kambing dimasing-masing RT yang dilaksanakan untuk menjemput musim hujan atau akan memulai menggarap sawah untuk tanam padi. Baca: Kenduri Wedusan.   https://babehmardiadi.blogspot.com/search?q=wedusan

b.      Nututi tandur kenduri yang dilaksanakan setelah selesai menanam padi.

c.    Jabelan, kenduri yang dilaksanakan ketika padi sudah menguning dan siap untuk dipanen. (Penjelasannya pada edisi berikutnya).

d.  Lubaran, kenduri yang dilaksanakan setelah selesai panen padi yang diteruskan dengan acara/tradisi baritan, sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa dan penghormatan kepada hewan ternak (sapi) yang telah membantu proses menggarap sawah. Baca: Tradisi dan budaya baritan.  https://babehmardiadi.blogspot.com/2025/04/tradisi-dan-budaya-baritan.html

e.    Kasaban, kenduri yang dilaksanakan setelah panen padi sebagai ungkapan rasa syukur atas anugrah panen padi.

f.  Wetonan adalah kenduri hari dan pasaran kelahiran seseorang (hari ulang tahun) yang dilaksanakan setahun sekali di bulan Sura (Muharram)

g.  Nylameti pekarangan, kenduri yang dilaksanakan sebagai permohonan maaf kepada bumi yang ditempati dan rasa syukur kepada Allah SWT Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan keselamatan dan menjauhkan dari segala mara bahaya (bilahi) selama setahun yang telah dilewati.

h.   Selamatan/sidhekah orang yang meninggal, yaitu selamatan yang dilaksanakan ketika ada orang yang meninggal, mulai dari nyaur tanah (sebelum prosesi pemakaman), 3 hari, 7 hari, 40 hari, 100 hari, setahun (mendhak sepisan), 2 tahun (mendhak kapindho/meling), terakhir 1.000 hari. baca: Sidhekah. https://babehmardiadi.blogspot.com/search?q=selamatan+orang+meninggal+

i.     Nyameti pedhet, kenduri yang dilaksanakan oleh para peternak ketika sapinya melahirkan. (mempunyai pedhet)

j.   Ngapati, kenduri dan ritual yang dilaksanakan ketika istri/perempuan mengandung 4 bulan.

k.   Mitoni/tingkeban/keba, adalah kenduri dan ritual yang dilaksanakan ketika istri/perempuan mengandung 7 bulan. baca: Perlindungan anak dalam kontek budaya   https://babehmardiadi.blogspot.com/search?q=tingkeban%2Fkeba.

l.      Gebasan, adalah kenduri dan ritual yang dilaksanakan setiap 4 bulan sekali yang didahului dengan bersih makam. (baca: Bersih makam : Gebasan)    https://babehmardiadi.blogspot.com/search?q=gebasan+

m. Sadranan/Syabanan, adalah kenduri dan ritual yang dilaksanakan hari jumat terakhir di bulan Sya’ban (Ruwah) menjelang datangnya bulan suci Ramadlan dan didahului dengan bersih makam. (Penjelasannya pada edisi berikutnya).

n.     Kenduri awal ramadlan, kenduri yang dilaksanakan setiap awal atau memasuki bulan suci Ramadlan, selain sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT karena telah diberikan umur dan kesempatan untuk beribadah puasa Ramadlan dan sholat Taraweh, juga permohonan semoga diberikan kekuatan untuk beribadah selama bulan Ramadlan.

o.  Kenduri maleman atau likuran, yakni kenduri yang dilaksanakan pada malam tanggal 21 ramadlan/bulan pasa (dalam kalender aboge). Jika malam tanggal 21 ramadlan/pasa bertepatan dengan malam Senin maka diganti pada tanggal-tanggal ganjil akhir ramadlan. Kenduri dilaksanakan untuk permohonan kepada Allah SWT semoga di berikan kesempatan untuk beribadah di malam Laelatul Qodar.

p. Kenduri akhir bulan Ramadlan, kenduri yang dilaksanakan pada hari terakhir bulan Ramadlan atau malam 1 syawal. Kenduri dilaksanakan sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT, karena telah diberikan kekuatan dan keselamatan dapat menjalankan ibadah ramadlan sampai akhir (selesai).

q.   Kenduri hari raya, yakni kenduri yang dilaksanakan setiap hari raya Idul Fitri dan Idul Adha. Kenduri yang dilaksanakan bersama-sama di masjid musholla pada hari raya berdasarkan kelender hijriyah dan dilaksanakan di balai desa hari raya berdasarkan kalender aboge. Dan setelah acara kenduri dilaksanakan halal bihalal.

r.  Kenduri membangun rumah, kenduri dilaksanakan dimulai dari ketika akan menggali pondasi (sebelum proses pembangunan dilaksanakan, ketika pasang rangka kayu, ketika mayu (pasang genteng dan ketika pembangunan telah selesai.

s.   Dan masih banyak lagi jenis tradisi kenduri, seperti: puputan (pemberian nama bayi), ketika punya hajat, Muludan (tanggal dan bulan kelahiran nabi berdasarkan kelender aboge) dll.

Bersambung….

Kamis, 27 Oktober 2022

BUDAYA JAGONGAN NGUPET

 SEJARAH

PENGANTAR

Desa Logandu Kecamatan Karanggayam adalah sebuah desa di pinggiran utara kota Kebumen yang warga masyarakat memiliki cirikhasyang berbeda dengan warga desa yang lainnya. Diantaranya adalah budaya “sambatan” (gotongroyong) saat membangun rumah, menggarap sawah dan ladang, kerja bakti lingkungan masih sangat kental. Budaya “endhong-endhongan” jagongan bersama sambil bicara tentang ilmu pertanian, cerita tentang trah para leluhur dan sosial kemasyarakatan masih membudaya dilakukan dengan tanpa beban dan mengakar kuat di masyarakat.

Dalam hal ritual keagamaan seperti peringatan hari besar Islam dan ritual “adat kejawen” seperti ruwat bumi setiap hari Rabu Kliwon bulan syura, “baritan” (tayuban) setelah panen padi, kenduren wetonan (hari lahir) setiap bulan syura, “gebasan” (bersih makam) setiap 4 (empat bulan sekali) yang dilanjutkan dengan kenduren bersama di Balai Desa, ziarah ke makam leluhur setiap mempunyai hajat dan keperluan dengan membakar kemenyan, dan masih banyak lagi yang lainnya masih sangat kuat dan melekat secara turun temurun.

Namun seiring dengan perkembangan jaman yang melaju dengancepat, arus teknologi dan komunikasi melesat deras masuk ke semua penjuru dunia tanpa melihat kota dan desa. Pertukaran budaya, adat istiadat dan gaya hidup merasuk ke semua lapisan masyarakat tanpa bisa dibendungnya. Tanpa sadar dan disadari sangat berperan dalam pergeseran norma dan budaya bangsa. Belum lagi dari sisi religius (pengaruh keagamaan) ikut mewarnai sendi kehidupan.

Kondisi kemampuan, wawasan dan keilmuan warga masyarakat yang cenderung berlatar belakang pendidikan dan wawasan yang kurang bahkan sangat kurang, maka tidak mampu memfilter (memilah dan memilih) mana yang berpengaruh positif dan mana yang berdampak negatif. Dari sisi pengaruh agamapun demikian, tidak mampu memilih mana yang benar-benar sesuai dengan syareat Islam mana yang justru merusak sendi-sendi ke-Islam-an dan merongrong sendi-sendi kerukunan berbudaya, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Semuanya masuk ikut mewarnai bahkan mempengaruhi tata nilai, norma, kearifan lokal dan budaya yang sudah melekat di masyarakat. Dampaknya adalah budaya gotong royong mulai luntur, budaya endhong-endhongan mulai jarang terdengar dan pelaksanaan ritual keagamaan dan ritual adat budaya jawa-pun hanya seremonial yang hanya terlaksana tanpa makna.

Apa dan mengapa “JAGONGAN NGUPET”

Selain kondisi yang sebagaimana disebutkan diatas, maraknya issu penyebaran agama Islam yang cenderung mengarah pada kerenggangan sosial, dan bertentangan dengan faham “ahlus sunah wal jama’ah annahdliyah” (NU) seperti faham yang mengatakan bahwa kenduren, ziarah kubur (ngupet), sidekah/kenduren selamatan orang yang meninggal, kenduren weton haram, semakin menimbulkan kecemasan dan kekhawatiran dari sejumlah tokoh di Desa Logandu, sebab akan berdampak pada permasalahan sosial dan in-toleransi. sampai akhirnya berkumpulah 3 tokoh desa yang terdiri dari:

1.    Mbah Sumarjo (Tokoh/sesepuh desa dan mantan Kepala Desa Logandu era Tahun 1965);

2.    Mbah Kuswari (Tokoh adat dan budaya sekaligus Kaum Desa) dan;

3.    Mardiadi (Kiai Muda dan pemerhati adat dan budaya sekaligus pencetus lahirnya Gendhing Tanpa Aran / GTA)

Selama 3 (tiga) malam mereka berdiskusi apa yang harus dilakukan untuk menjaga dan mengembalikan nilai-nilai keagamaan dan kelestarian adat dan budaya yanga ada di Desa Logandu. Dari diskusi mereka bertiga muncul beberapa gagasan, diantaranya:

1.  Pentinganya mengetahui/membongkar tentang sejarah Desa Logandu. Dengan memahami sejarah diharapkan akan menggugah semangat untuk mewarisi apa yang telah diwariskan oleh para leluhurnya;

2.   Pentingnya menggali pesan yang tersimpan/nasehat mulia dari para leluhur melalui ritual adat dan tradisi.

3.    Pentingnya media “belajar merdeka” bagi warga masyarakat yang menyatukan antara tokoh agama, adat dan budaya agar tercipta keharmonisan dalam masyarakat.

Berawal dari gagasan itulah kemudian disepakati jagongan warga merdeka selapanan (setiap malam Ahad Wage), yang kemudian dinamakan “JAGONGAN NGUPET”

JAGONGAN NGUPET artinya Jagongan (duduk bersama) untuk NGUDARI PEPETENG (melepas/menghilangkan kegelapan/kebodohan) dengan mengkaji korelasi antara Agama, adat dan budaya. Slogan yang digunakan adalah, “NJAGONG BARENG DADI GAYENG, NGANGSU KAWRUH DADI WERUH”. Jagongan NGUPET mulai pertama kali dilaksanakan pada malem Ahad Wage , tanggal 1 Oktober 2017 / 9 Sura 1951 saka, dengan mengambil tema, “Kenduren dan ruwat bumi”.

Jumat, 28 Oktober 2022

KENDURI "WEDUSAN"

 


Desa Logandu Kecamatan Karanggayam adalah sebuah desa di pinggiran utara kota Kebumen yang warga masyarakat memiliki cirikhas yang berbeda dengan warga desa yang lainnya. Diantaranya adalah budaya “sambatan” atau gotongroyong saat membangun rumah, menggarap sawah dan ladang, kerja bakti lingkungan masih sangat kental. Budaya “endhong-endhongan” jagongan bersama sambil bicara tentang ilmu pertanian, cerita tentang trah para leluhur dan sosial kemasyarakatan masih membudaya dilakukan dengan tanpa beban dan mengakar kuat di masyarakat.

Begitu juga pelaksanaan ritual dan tradisi “adat jawa” seperti tradisi wedusan, ruwat bumi, baritan/tayuban, kenduren wetonan atau hari lahir, gebasan/bersih makam, ziarah ke makam leluhur masih sangat kuat dan melekat secara turun temurun.

“Tradisi/adat jawa yang sudah diwariskan para leluhur dan sesepuh terdahulu, tidak hanya sebatas ritual dan  warisan budaya, tetapi mengandung nilai dan ajaran luhur yang tersirat dan harus kita lestarikan,” kata Mardiadi, pemerhati adat dan budaya Desa Logandu.

Seperti halnya yang dilakukan oleh warga Desa Logandu pada setiap masuk musim penghujan (bulan Oktober) yakni tradisi wedusan .

Tradisi wedusan, adalah  ritual yang rutin dilakukan oleh warga Desa Logandu pada setiap memasuki musim penghujan, (sebelum menggarap sawah), dengan waktu yang sudah ditentukan, yaitu hari Rabu kliwon-Kamis legi. Mengapa dinamakan tradisi wedusan?  Karena tradisi ritual ini dengan penyembelihan kambing yang dilanjutkan dengan kenduri oleh warga disetiap RT.

“Menurut cerita secara turun temurun, dan dari beberapa catatan tulisan dari sesepuh desa, pada awalnya tradisi penyembelihan kambing atau wedusan, dilakukan sebagai wujud persembahan memohon kepada Sanghyang Agung agar segera diturunkan hujan dari langit dan para petani dapat segera menggarap sawahnya”. Setelah Islam masuk ke Tanah Jawa, tradisi wedusan diubah atau dimodifikasi oleh para wali. Artinya tradisi wedusan (penyembelihan kambing) tetep berjalan, hanya saja yang awalnya kambing sebagai persembahan diubah dengan cara kambingnya disembelih dan dagingnya dimasak untuk kemudian dikenduri bersama.

Secara rinci tata cara atau tata urutan tradisi wedusan di Desa Logandu diawali dengan penyembelihan kambing pada hari Rabu Kliwon sore. Darah penyembihan dibiarkan mengalir ke bumi, sebagai symbol peresembahan kepada penguasa bumi atau dalam istilah jawa ibu pertiwi. Setelah disembelih, diambil atau diris-iris sebagaian tubuh kambing, mulai tanduk, telinga, lidah, kuku kaki dan ekornya. Potongan bagian-bagian tubuh kambing tersebut nantinya sebagai sesaji, sebagai symbol atau pengganti persembahan kambing kepada sanghyang Agung. Saat itu juga, salah satu kasepuhaan atau tokoh adat di desa, ziarah atau dalam bahasa warga Desa Logandu disebut tilik, ke makam tokoh pendiri desa dan para leluhurnya dengan memanjatkan doa memohon kepada Tuhan agar segera diturunkan hujan dan warga Desa Logandu yang mayoritas petani mendapatkan kekuatan untuk segera menggarap sawahnya. Dalam memanjatkan doa di makam para leluhurnya disertai dengan membakar kemenyan dengan menggunakan upet yakni obor yang dibuat dari serpihan mancung dan daun kelapa kering.

Hal yang unik pada tradisi wedusan ini, adalah pengolahan kambing mulai penyembelihan sampai dengan masaknya dilakukan oleh bapak-bapak dan dilakukan diluar rumah (dihalaman atau diteras rumah). Puncak dan inti tradisi wedusan diakhiri dengan kenduri, berdoa bersama agar yang menjadi hajat dan permohonan warga Desa Logaandu dapat terkabul dan dikabulakn oleh Tuhan yang Maha Kuasa.

Sabtu, 03 Mei 2025

Tradisi: SADRAN ATAU NYADRAN


Nyadran berasal dari kata Sadran, mendapat akhiran “an” menjadi Sadranan adalah tradisi masyarakat Islam Jawa berupa membersihkan makam para leluhur yang dilanjutkan dengan kenduri dan doa bersama  yang dilakukan di bulan Sya’ban (menjelang bulan suci Ramadlan).

Menurut penuturan Prof. DR. KH. Raden Ngabehi Agus Sunyoto, M.Pd (Sejarawan  dan Penulis sejarah Walisanga), dalam bukunya “Sejarah masuknya Islam ke Nusantara” disebutkan bahwa istilah atau sebutan sadran berasal dari bahasa sansekerta Sadara yang artinya mengingat roh para leluhur (Ngeling-eling marang leluhur). Atau ada yang mengatakan Seradaan atau Shraddha yang artinya menghormati ruh para leluhur (Ngurmati marang para leluhur). Dari dua sebutan itu kemudian menjadi istilah Sadran/nyadran yang artinya memanjatkan doa atau menaikkan doa kepada arwah para leluhur agar diterima oleh Tuhan Yang Maha Esa Allah SWT. Dan oleh masyarakat Islam Jawa di Desa Logandu Kecamatan Karanggayam disebut unggah-unggahan.

Sejarah

Pada mulanya sadran/shraddha adalah ajaran Kapitayan, berupa tradisi membersihkan makam dan memberikan persembahan kepada roh leluhur yang dilakukan setiap tahun pada hari dan pasaran meninggalnya. Upacara persembahan dilakukan sebagai bentuk penghormatan kepada ruh para leluhurnya dengan keyakinan bahwa ruh para leluhur yang telah memberikan perlindungan keselamatan (ngayomi) dan memberikan anugrah rejeki. Setelah masuknya Islam di tanah Jawa yang dibawa dan disebarkan oleh walisanga,  tradisi Sadran tetap dipertahankan namun ada beberapa perubahan, diantaranya:

  • Sadran menjadi tradisi bersama-sama yang dilaksanakan pada bulan Sa’ban (Ruwah).
  • Acara persembahan menjadi kenduri selamatan (bancakan).
  • Mendoakan roh para leluhur dan bertawashul kepadanya.

Sadranan masyarakat Desa Logandu

Tradisi sadranan bagi masyarakat Islam di Desa Logandu:

  • Puncak dari acara bersih makam (gebasan) yang dilaksanakan setiap 4 bulan sekali.  Baca: https://babehmardiadi.blogspot.com/search?q=gebasan+
  • Ritual Sadranan atau nyadran diawali dengan membuat sesaji dirumah masing-masing dilanjutkan dengan membersihkan makam secara bersama-sama, dan ditutup dengan kenduri di Balai Desa atau rumah Kepala Desa/Kepala Dusun..
  • Membakar kemenyan dengan menggunakan ‘upet” di makam leluhurnya sebagai sarana permohonan / tawashul kepada Allah SWT Tuhan Yang Maha Esa.
  • Upet alat untuk membakar kemenyan adalah alat yang terbuat dari mancung (manggar kelapa yang sudah kering), klari (daun kelapa yang kering) yang diikat dengan tali. Makna yang tersirat, mancung artinya manungsa mesthi arep dikuncung (dipocong) alias mati, klari artinya selagi masih hidup manusia harus selalu “nglalari” menyambung silaturahim dengan sanak saudara. Dua hal tersebut diikat dengan tali, artinya selagi masih hidup manusia harus “hablum minalloh” membangun hubungan baik dan selalu ingat kepada Allah SWT Tuhan Yang Maha Esa dan “hablum minannas” membangun hubungan baik dengan sesama manusia.
  • Pulang dari makam harus minum kopi (ngopi).
  • Dilaksanakan di hari Jum’at terakhir bulan Sya’ban (menjelang bulan suci ramadlan).
  • Sadranan disebut dengan unggah-unggahan, karena adanya keyakinan bahwa selama bulan Ramadlan ruh para leluhurnya tidak berada di makam, tetapi  sedang “munggah” ke langit, sehingga  selama bulan ramadlan tidak baik untuk ziarah “tilik” para leluhurnya.

Mengapa tradisi sadranan dipertahankan?

Tradisi sadranan adalah warisan para leluhur yang didalamnya ada beberapa pelajaran penting dalam kehidupan sosial dan kehidupan beragama, yaitu:

  1. Mengingat dan mengetahui sanak saudaranya, lantaran yang ikut bersih makam adalah yang masih ada hubungan nasab;
  2. Menjaga kerukunan dan mempererat tali persaudaraan;
  3. Mengingat akan adanya kematian;
  4. Mendoakan para leluhurnya sebagai bentuk birrul walidain (berbakti kepada orangtua)
  5. Ajaran bersedekah terhadap sanak saudara. (kgta)