Tampilkan postingan dengan label tips. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tips. Tampilkan semua postingan

Jumat, 18 April 2014

Kiat-Kiat Mendidik anak secara Islami


Masa anak-anak adalah masa yang sangat indah, penuh ceria. Dunia dimana saatnya menyiapkan masa depan gemilang. Apa yang kita lakukan sekarang itulah gambaran masa depan kita. Gapailah cita-citamu, raihlah masa depanmu, jangan sia-siakan masa anak-anak dengan perbuatan yang tidak bermanfaat.
Sebagai orang dewasa (orang tua) kita mempunyai beban tanggung jawab untuk menyiapkan generasi yang berkualitas secara intelektual dan bermoral.
Mendidik anak bukan sesuatu yang gampang, tetapi juga bukan hal yang sulit.
Nahh, untuk itulah dibawah ini adalah kiat-kiat mendidik anak secara Islami. 
 
        1. Pahami anak sebagai individu yang berbeda.
Seorang anak dengan yang lainnya memiliki karakter yang berbeda. Memiliki bakat dan minat yang berbeda pula. Karenanya, dalam menyerap ilmu dan mengamalkannya berbeda satu dengan yang lainnya. Sering terjadi kasus, terutama pada pasangan muda, orangtua mengalami “sindroma” anak pertama. Karena didorong idealisme yang tinggi, mereka memperlakukan anak tanpa memerhatikan aspek-aspek perkembangan dan pertumbuhan anak. Misal, anak dipompa untuk bisa menulis dan membaca pada usia 2 tahun, tanpa memperhatikan tingkat kemampuan dan motorik halus (kemampuan mengoordinasikan gerakan tangan) anak.
“Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu”. (At-Taghabun: 16)

Hadits dari Abu Hurairah RA, Nabi SAW  bersabda:
“Apabila aku melarangmu dari sesuatu maka jauhi dia. Bila aku perintahkan kamu suatu perkara maka tunaikanlah semampumu”. (HR. Al-Bukhari, no. 7288)
Kata semampumu menunjukkan kemampuan dan kesanggupan seseorang berbeda-beda, bertingkat-tingkat, satu dengan lainnya tidak bisa disamakan. Ini semua karena pengaruh berbagai macam latar belakang.

       2. Memberi tugas hendaklah sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan anak.
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya”.(Al-Baqarah: 286)

     3.  Berusahalah untuk selalu menghargai niat, usaha dan kesungguhan anak.
Dari Abu Hurairah RA, dia berkata: Rasulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada bentuk rupa dan harta kalian, tapi Allah melihat kepada hati (niat) dan amal-amal kalian. (HR. Muslim no. 2564)
Jangan mencaci maki anak karena kegagalannya. Tapi berikan ungkapan-ungkapan yang bisa memotivasi anak untuk bangkit dari kegagalannya. Misal, ‘Abi tidak marah kok, Ahmad belum hafal surat Yasin. Abi tahu, Ahmad sudah berusaha menghafal. Lain kali, kita coba lagi ya.?                   

     4. Tidak membentak, memaki dan merendahkan anak. Apalagi di hadapan teman-temannya atau di hadapan umum.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
 ‘Dan ucapkanlah kepada mereka kata-kata yang baik.’ (An-Nisa`: 5)

       5. Tidak membuka aib (kekurangan, kejelekan) yang ada pada anak di hadapan orang lain.
Dari Abdullah bin ‘Umar RA, bahwa Nabi SAW bersabda:
Barangsiapa menutup (aib) seorang muslim, Allah akan menutup (aib) dirinya pada hari kiamat. (HR. Al-Bukhari no. 2442)

6   6.  Jika anak melakukan kesalahan, jangan hanya menunjukkan kesalahannya semata.
Tapi berilah solusi dengan memberitahu perbuatan yang benar yang seharusnya dia lakukan. Tentunya, dengan cara yang hikmah. ‘Umar bin Abi Salamah RA berkata:
Saat saya masih kecil dalam asuhan Rasulullah Shallallahu ?alaihi wa sallam, saya menggerak-gerakkan tangan di dalam nampan (yang ada makanannya). Lantas Rasulullah Shallallahu ?alaihi wa sallam menasihatiku, Wahai ananda, sebutlah nama Allah (yaitu bacalah Bismillah saat hendak makan). Makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah dari makanan yang ada di sisi dekatmu. (HR. Al-Bukhari no. 5376)
 
       7. Tidak memanggil atau menyeru anak dengan sebutan yang jelek.
Seperti perkataan: Dasar bodoh! Ini berdasarkan hadits Ummu Salamah RA, Rasulullah SAW bersabda:
Janganlah kalian menyeru (berdoa) atas diri kalian kecuali dengan sesuatu yang baik. Karena, sesungguhnya malaikat akan mengaminkan atas apa yang kalian ucapkan. (HR. Muslim no. 920)

      8. Perbanyak ucapan-ucapan yang mengandung muatan doa pada saat di hadapan anak.  
    Seperti ucapan:  Semoga Allah memberkahi kalian.
Allah SWT berfirman:
Serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia. (Al-Baqarah: 83)
Juga selalu mendoakan kebaikan bagi sang anak, sebagaimana firman Allah SWT:
“Dan orang-orang yang berkata: Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa”. (Al-Furqan: 74)

   9. Berusahalah untuk senantiasa berlaku hikmah dalam menghadapi masalah anak. Tidak mengedepankan emosi.
Tidak mudah menjatuhkan sanksi. Telusuri setiap masalah yang ada pada anak dengan penuh hikmah, tabayyun (klarifikasi). Allah SWT berfirman:
Dan barangsiapa yang dianugerahi al-hikmah itu, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. (Al-Baqarah: 269)

       10. Berusahalah bersikap adil terhadap anak-anak dan berbuat baik kepadanya.
 ‘Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.’(An-Nahl: 90)

     11. Hindari sikap-sikap dan tindakan yang menjadikan anak mengalami trauma, blocking (mogok), malas atau enggan belajar.
Sebaliknya, ciptakan suasana yang menyenangkan dalam belajar. Dari Anas RA, Rasulullah SAW bersabda:
 ‘Permudah dan jangan kalian persulit. Gembirakan, dan jangan kalian membuat (mereka) lari.’ (HR. Al-Bukhari no. 69)
Demikian, mudah-mudahan bermanfaat bagi kita semua. Amiiin

Kamis, 17 April 2014

Tips: Membangun Keluarga Sakinah


Setiap manusia selalu menginginkan keluarga yang sakinah, mawaddah dan warohmah, untuk itu apa saja sih yang harus dilakukan untuk mencapai keluarga yang di impikan. ikuti yuk tips dari keluarga sakinah ini :

1.       Jangan Melihat ke Belakang
Setiap orang pasti memiliki masa lalu baik yang bagus maupun yang kelam. Termasuk pasangan. Di masa lalu pun mungkin ada sepenggal kisah tak mengenakkan yang pernah mewarnai rumah tangga. Jika tak ingin terseret dalam arus negatif, lupakan hal-hal buruk yang pernah terjadi. Sambutlah masa depan dengan senyuman. Setiap orang pernah melakukan kesalahan dan berhak untuk menjadi lebih baik.
Termasuk, jangan mengingat-ingat lagi mantan orang yang dicintai saat belum menikah dulu. Tidak ada gunanya dan hanya menghalangi kebahagiaan untuk hadir dalam kehidupan anda
.

2.       Selalu Berpikir Objektif
Saat kalut menghadapi suatu hal, kadang kala pikiran jadi ruwet dan segalanya tampak suram. Ini terjadi jika Anda ikut terpancing secara emosional. Padahal, masalah apapun itu, termasuk konflik dengan suami maupun anak-anak, membutuhkan pikiran yang jernih untuk menyelesaikannya. Apalagi jika muncul pihak ketiga yang berusaha memprovokasi. Beri jeda waktu agar pikiran menjadi dingin dan lepas dari segala beban emosional. Setelah merasa tenang, barulah mencari solusi diawali dengan saling mendengarkan antara kedua pihak.

3.      Fokus Pada Kelebihan Pasangan
Anda pasti pernah merasa tidak percaya diri dengan diri sendiri. Atau pernah juga dikritik oleh orang lain. Artinya, kita masih memiliki banyak kekurangan. Begitu pula dengan pasangan kita. Saat masih gadis mungkin kita selalu berangan-angan tentang pendamping hidup yang tampan/cantik, baik hati, terhormat dan berkecukupan.
Namun setelah menjalani rumah tangga beberapa tahun, kita mulai tahu sifat aslinya, kebiasaan buruknya yang mungkin membuat penilaian kita menjadi berubah. Ternyata dia posesif, ternyata dia pelupa
dll. Tapiii.. pasti deh, Anda juga nemu banyak banget kelebihan suami/istri yang dulu ga diketahui. Kalaupun tidak bisa menyingkirkan keburukannya dari depan mata, temukanlah alasan bahwa dibalik itu ada hikmahnya. Owh, dia posesif karna amat mencintai kita.

4.      Saling Percaya
Kunci dari sebuah hubungan adalah rasa percaya. Tanpa rasa saling percaya, kehidupan rumah tangga tentu tak akan berjalan mulus. Rasa aman, nyaman, tenteram yang menjadi salah satu tujuan pernikahan tidak akan muncul. Bagaimana bisa tenang kalau Anda selalu gelisah, curiga dan khawatir memikirkan sedang apa si dia di luar sana? Begitu pula jika suami berlaku demikian. Kuncinya, selalu khusnudzan dan jangan sia-siakan kepercayaan yang diberikan suami/istri.

5.      Kebutuhan Seks
Perkawinan tanpa seks bisa dibilang seperti sayur tanpa garam. Hambar. Ya, seks memang perlu. Dan meski aktivitas seks sebetulnya bertujuan untuk memperoleh keturunan, namun manusia perlu juga mengembangkan seks untuk mencapai kebahagiaan bersama pasangan hidupnya. Prinsip hubungan seks yang baik adalah adanya keterbukaan dan kejujuran dalam mengungkapkan kebutuhan Anda masing-masing. Intinya, kegiatan seks adalah untuk saling memuaskan, namun perlu dihindari adanya kesan mengeksploitasi pasangan. Kegiatan seks yang menyenangkan akan memberikan dampak positif bagi anda.

6.      Hindari Pihak Ketiga
Setelah ijab qabul terucap dan sah menjadi pasangan suami-istri, dalam tatanan masyarakat anda telah diperhitungkan sebagai seorang ratu rumah tangga dari keluarga yang dipimpin oleh suami. Saat ada urusan bermasyarakat, tak lagi dianggap sebagai bagian dari keluarga lama tapi telah menjadi kelompok tersendiri. Maka ketika timbul permasalahan, selesaikanlah berdua saja. Tentunya suami-istri lebih banyak mengetahui keadaan dan arah rumah tangga ke depan. Tak perlulah melibatkan orang lain.
Banyak cerita tentang membesarnya konflik justru setelah pihak ketiga terlibat maupun sengaja dilibatkan, entah itu mertua, saudara ipar, tetangga, dan sebagainya.
Kalau pun ingin mendapat nasehat atau memiliki sudut pandang yang berbeda, maka mintalah pada seseorang yang sudah teruji pengalaman hidupnya, yang telah diketahui baik akhlaknya dan yang kemungkinan tidak akan melibatkan emosi pribadi dalam memberikan nasehat.

7.      Menjaga Romantisme
Terkadang, pasangan  yang sudah cukup lama membangun mahligai rumah tangga tak lagi peduli pada soal yang satu ini. Padahal, menjaga romantisme dibutuhkan oleh pasangan suami-istri sampai kapan pun, tak cuma ketika mereka berpacaran. Sekedar memberikan bunga, mencium pipi, menggandeng tangan, saling memuji, atau berjalan-jalan menyusuri tempat-tempat romantis akan kembali memercikkan rasa cinta kepada pasangan hidup Anda. Tentu, ujung-ujungnya pasangan suami-istri akan merasa semakin erat dan saling membutuhkan. Meski sepele, pujian atau perhatian sangat besar pengaruhnya bagi suami lho, dan sebaliknya. Memberikan pujian ringan seperti “Masakan Mama hari ini luar biasa, lho!” atau “Wah, Papa tambah keren pakai baju itu.” Ucapan-ucapan sepele seperti itu akan memberikan dorongan/semangat yang luar biasa. Pasangan Anda pun akan merasa dihargai.

8.      Selalu Utamakan Komunikasi
Komunikasi juga merupakan salah satu pilar langgengnya hubungan suami-istri. Hilangnya komunikasi berarti hilang pula salah satu pilar rumah tanga. Komunikasi yang dimaksud disini bukan hanya ngobrol-ngobrol saja. Komunikasi beda lho sama gantian bicara.
Komunikasi ini dimaksudkan untuk saling mengerti. So, lepaskan hal-hal berbau prasangka dan emosi. Menjaga komunikasi bisa diawali dengan kebiasaan ngobrol dan duduk bersama. Sampaikan apa yang Bunda/Sista merasa perlu diketahui suami atau anak. Buat iklim rumah tangga menjadi terbuka sehingga tidak ada anggota keluarga yang merasa tidak didengarkan.

9.      Jaga Spiritualitas Rumah Tangga
Salah satu pijakan yang paling utama seorang rela berumah tangga adalah karena adanya ketaatan pada syariat Allah. Padahal, kalau menurut hitung-hitungan materi, berumah tangga itu melelahkan. Justru di situlah nilai pahala yang Allah janjikan.
Ketika masalah nyaris tidak menemui ujung pangkalnya, kembalikanlah itu kepada sang pemilik masalah, Allah SWT. Sertakan rasa baik sangka kepada Allah SWT. Tataplah hikmah d
ibalik setiap masalah. Insya Allah, ada kebaikan dari semua masalah yang kita hadapi.

Minggu, 01 Januari 2012

TIPS AGAR TERHINDAR DARI SIFAT TAKABUR ATAU SOMBONG



Rasa Takabur ataupun sombong merupakan salah satu sifat dasar manusia yang dibawa dari lahir. Temen-temen pasti sebel kalo lihat orang yang sombong, betul nggak?? Hebatnya rasa sombong ini bisa muncul tanpa kita sadari loh!!! Tapi kemunculannya bisa dikendalikan oleh diri kita sendiri. Makanya  praktikkan tips neeh biar sombong nggak jadi muncul dari diri kita.
  1. Manakala melihat anak yang belum dewasa, maka katakanlah dalam hati: “Anak ini masih kecil belum pernah melakukan kemaksiatan kepada Alloh, sedangkan aku sudah pernah melakukan kemaksiatan, maka dia jelas lebih baik daripada diriku”.
  2. Jika melihat orang tua, maka katakanlah dalam hati: ”Orang ini telah banyak beribadah kepada Alloh sebelum aku, maka dia jelas lebih baik daripada aku”.
  3. Bila melihat orang ‘alim, maka katakanlah dalam hati: “Orang telah dianugerahi ilmu yang tidak aku miliki, dia telah menyampaikan sesuatu yang tidak pernah aku sampaikan, dan dia mengetahui sesuatu yang tidak aku ketahui, maka bagaimana aku menyamai dia?! Aku bodoh dan dia pandai, jelas dia lebih mulia”.
  4. Jika melihat orang yang bodoh, maka katakanlah dalam hati: “ Orang ini telah melakukan kemaksiatan kepada Alloh dengan penuh kesadaran. Maka tanggungjawabku kepada Alloh jelas lebih berat daripada dia di akhir hayat nanti”.
  5. Manakala melihat orang kafir, maka katakanlah dalam hati: “ Aku tidak tahu barang kali di akhir hidupnya nanti dia menjadi orang muslim, lalu melakukan amal kebajikan dengan penuh kepasrahan diri kepada Alloh sehingga seluruh dosa-dosanya dihapus oleh Alloh.
Nah sementara tips buat ngatasi sombong itu dulu. Jangan sampe dech sombong bersemayam dan muncul dari diri kita.. Ocey?? See you yach!
Sumber : “Dosa dan Pahala”