Selasa, 29 April 2014

Dari mata turun ke hati


Sebuah syair akan mencoba untuk mengilustrasikan kedahsyatan pandangan mata.
Dari Mata Turun ke Hati :
Awal peristiwa,
Dari pandangan mata
Laksana setitik bara api

Saat mata mengembara
Bak jilatan api perlahan pasti
Menerkam semua pemandangan
Merasuk pikiran terbayang-bayang

Hasrat hati mewujudkan impian
Bermain-main mereguk kesenangan
Berbuah gelimang dosa penyesalan.

Aturan Memandang dalam Al Quran dan hadis
Allah swt. dalam Al Quran telah mewanti-wanti, “Katakanlah bagi mukmin (laki-laki) hendaklah menundukkan pandangan mereka dan menjaga kehormatan mereka. Demikian itu lebih bersih bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu perbuat.” “Katakanlah kepada mukmin perempuan, hendaklah menundukkan pandangan mereka dan menjaga kehormatan mereka…”  (Q.S. An-Nur 24: 30-31).
Sesungguhnya Allah telah menetapkan atas diri anak keturunan Adam bagiannya dari zina. Dia mengetahui yang demikian tanpa dipungkiri. Mata itu bisa berzina, dan zinanya adalah pandangan. Lidah itu bisa berzina dan zinanya adalah perkataan. Kaki itu bisa berzina dan zinanya adalah ayunan langkah. Tangan itu bisa berzina dan zinanya adalah sentuhan. Hati bisa berzina dengan keinginan dan angan-angan. Baik kemaluan membenarkan yang demikian itu atau mendustakannya.” (H.R. Bukhari, Muslim, An-Nasai, dan Abu Dawud).
“Wahai Ali, janganlah engkau susuli pandangan dengan pandangan lagi, karena yang pertama menjadi bagianmu dan yang kedua bukan lagi menjadi bagianmu (dosa atasmu)” (H.R. Ahmad, Tirmidzi, dan Abu Dawud).
Perintah menjaga pandangan ditujukan pada para wanita. Sebuah hadis menerangkan, “…Ya Rasulullah, bukankah ia buta (Ibnu Ummi Maktum) sehingga tidak mungkin dapat melihat kami? Maka sabda Rasulullah saw. “Bukankah kamu berdua (Ummu Salamah r.a. dan Maimunah bintiaAl-Harits) melihatnya?” (H.R. Abu Daud). “Sesungguhnya memandang (wanita) adalah salah satu panah beracun dari berbagai macam anak panah iblis. Barangsiapa menahan pandangannya dari keindahan-keindahan wanita karena takut pada-Ku, maka Allah mewariskan kelezatan iman di dalam hatinya.” (H.R. Thabrani).

Me’manage’ Pandangan
Q.S. An-Nuur ayat 30 dan 31, memerintahkan kaum mukminin dan mukminat untuk menjaga pandangan atau menundukkan pandangan dan menjaga kemaluannya agar tidak terjerumus pada perbuatan haram.
Menahan pandangan atas hal-hal yang diharamkan Allah swt., disebutkan paling awal, karena menahan pandangan mata merupakan dasar untuk menjaga kemaluan dan cerminan hati yang beriman. Apabila mengumbar pandangan, otomatis mengumbar syahwat hati dan tidak beriman. Segala pandangan yang tidak sengaja dan tiba-tiba, bisa meninggalkan pengaruh dalam hati, sikapi dengan mengalihkan arah pandangan, terlarang mengulangi atau melanjutkan menatap pandangan yang tidak sengaja tadi. Pandangan yang tidak sengaja merupakan bagian dari sekadar ketidaksengajaan, sedangkan pandangan selanjutnya adalah haram dan hukumnya berdosa.
Apabila pandangan itu ditahan sejak awal, maka cara menuntaskannya menjadi lebih mudah. Senantiasa berupaya preventif (mencegah) dan antisipatif (siap siaga) tidak menyengaja mencari-cari dan mencuri-curi kesempatan menatap dalam-dalam, menatap penuh birahi. Pandangan pertama ibarat panah beracun, terlebih-lebih pandangan selanjutnya mengandung racun mematikan. Sedetik Anda lengah maka panah racun iblis akan tertancap dalam hati, memusnahkan benteng iman menjerumuskan pada perzinahan mata, dan zina seluruh pancaindera, baik diwujudkan dengan berhubungan intim ataupun tidak.
Bagi yang telah menikah, maka bila memandang tidak sengaja lawan jenis hendaklah mengendalikan ketertarikan biologisnya dengan menyadari apa yang ada pada diri wanita (pria) lain dengan istri (suami)-nya sama saja, maka selamatlah dorongan birahi yang tidak pada tempatnya. Menjadi orang yang bermuamalah dengan Allah swt. rido meninggalkan pandangan yang disukai syahwatnya, hatinya kian menjadi tenang. ”Sesungguhnya di dalam tubuh itu ada segumpal darah. Jika ia baik, maka seluruh tubuh akan baik pula dan jika ia rusak maka rusak pula seluruh tubuh. Ketahuilah segumpal darah itu adalah hati.” (H.R. Bukhari dan Muslim).

Pandangan yang Dikecualikan
Syariat membolehkan kaum mukminin untuk memandang lawan jenisnya apabila terdapat keperluan-keperluan tertentu yang tidak mungkin dilakukan kecuali dengan memandangnya, yaitu: memandang saat meminang (aurat tetap terjaga), proses pemeriksaan perkara di pengadilan, dokter yang dapat dipercaya dibolehkan melihat anggota badan wanita yang bukan muhrim pada bagian yang perlu dilihat sebatas usaha pengobatan bila tidak terdapat dokter wanita, dan saat khitan.

Manfaat Menahan Pandangan
Menurut Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, manfaat menahan pandangan di antaranya membersihkan hati dari derita penyesalan dosa, mendatangkan cahaya, keceriaan, kegembiraan, kesenangan hati, kenikmatan hidup, mendatangkan kekuatan firasat yang benar (berasal dari zhahir mengikuti sunnah, batinnya merasakan pengawasan Allah swt., menahan mata dari hal-hal yang diharamkan, menahan diri dari syahwat).
Membuka pintu dan memudahkan jalan ilmu, mendatangkan kekuatan, keteguhan, kekuatan hati, membebaskan hati dari tawanan syahwat yang memabukkan, melenakan dan melalaikan, menutup pintu neraka jahanam, cemerlang akalnya tidak hidup gegabah selalu memikirkan akibat di kemudian hari.
Sadarlah kita, “Sesungguhnya bukan mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada.” (Q.S. Al Hajj 22: 46). Wallahu A’lam.
Dari majalah percikan Iman (www.percikan-iman.com)

Minggu, 27 April 2014

Desa Logandu membangun (1)


Sebagian wilayah (desa)  mungkin menganggap  bahwa sekarang ini budaya gotong royong (kerja bakti)  telah pudar. Namun tidak demikian bagi warga masyarakat Desa Logandu. Hal itu dibuktikan dengan adanya kegiatan rutin “gugur gunung” yang dilakukan atas inisiatif warga sendiri untuk membuka jalan antar RW dan jalan pertanian. Kegiatan itu dilakukan seminggu 2 kali (hari Rabu dan Ahad) dalam rangka membuka akses jalan/transportasi untuk meningkatkan hasil produksi  pertanian dan potensi yang ada di Desa Logandu.
“Semangat warga sangat luar biasa, mereka berinisiatif sendiri dan mengatur jadwal sendiri, kami (perangkat desa-red) hanya mendampingi dan memfasilitasi saat pemasangan patok dan pelaksanaan kerja bakti”, kata Sugiman (Kadus V Watuabang, yang membawahi sekitar 130 KK  diwilayah Dukuh Karangmangu, Benda, Cabe, Watuabang dan Kalikukap).
Secara terpisah, Dislam (Kaur Pembangunan) menjelaskan bahwa, mulai pertengahan tahun 2013 warga sudah mengerjakan pembangunan dan pelebaran jalan secara swadaya (gotong royong) sepanjang 6 km lebih yang terdiri dari:
1.      Pelebaran jalan yang menghubungkan Dukuh Karangmangu - Gigil (1,8 km);
2.      Pembukaan jalan pertanian Dusun Jambekerep – Kalikukap timur, (1,7 km);
3.      Pelebaran jalan Menjangan – Kalikukap Barat, (2,5).
Selain untuk kelancaran transportasi antar warga, pembangunan jalan ini juga dalam rangka mempermudah akses pemasaran hasil pertanian warga masyarakat Desa Logandu yang mayoritas bermata pencaharian sebagai petani dan buruh pertanian. Kami dari Pemerintah Desa merespon baik dan akan memasukkan dalam perencanaan pembangunan Desa tahun 2015 sambil menunggu kondisi badan jalan benar-benar mapan mengingat jalan baru dan sebagian melalui medan yang terjal, imbuhnya.
Dengan semangat gotong royong, mari kita wujudkan, mBangun Desa mBangun Negara”.





Kamis, 24 April 2014

Antara cinta dan nafsu

       
Sudah banyak kalangan yang mendefinisikan arti cinta. Mulai dari para pemikir Islam seperti al-Ghazali, ilmuwan, penyair, ahli tafsir, kalangan orang tua, orang muda, dan bahkan berbagai pengertian parsial-individual pun mencoba memaknai arti cinta. Tidak mengherankan, dengan tafsiran parsial-individual itu banyak muda mudi yang terjerumus ke lembah kemaksiatan, zina (seks bebas) yang mengatas namakan cinta.
Puguh Hendrawan dalam buku The Pillow of love kembali menjelajah polemik tersebut. Mengurai arti cinta. Mulai dari pengertian, kemunculan, pembinaan, dan hingga kehancuran atau keharmonisan dalam dunia ini. Cinta adalah persaan sayang kepada lawan jenis. Perasaan ingin memiliki dan menghabiskan waktu bersamanya. Dari pernyataan itu, dapat diketahui bahwa cinta tidak sama dengan seks. Pada kenyataannya, banyak orang yang jatuh cinta dan menunjukkan cintanya dengan seks. Berarti ia tidak dapat memahami arti cinta yang sesungguhnya. Kasih sayang adalah dua hal yang menjadi satu, yang dicurahkan kepada orang yang dicintainya. Sedangkan cinta tidak ada hubungannya dengan seks (The Pillow of love Hal. 97).
Begitulah kiranya orang-orang dan para pemuda dan pemudi mengartikan cinta. Jika sudah cinta berarti segala kepemilikannya menjadi milik pasangannya. Termasuk dalam hal ini alat pemuas nafsu yang diincar. Dan tak jarang pula tren dunia modern sekarang memaknai cinta sama dengan nafsu. Jika sudah cinta berati ada kesukarelaan dalam menikmati tubuh seorang gadis. Sehingga terjadi pergaulan seks bebas. Hamil di luar nikah, yang laki-laki menghilang setelah gadis yang dicintainya dihamili di luar nikah. Setelah itu, penyesalan baru terasa oleh para pemudi yang hamil di luar nikah.
Saat ini, banyak orang menjadikan cinta sebagai alasan untuk melakukan yang di luar batas. Dalam pacaran, sering terjadi kontak fisik saat berduaan, bahkan memilih tempat sepi untuk berduaan. Oleh karena itu, banyak pasangan terjerumus dalam hal negatif karena tidak mampu mengendalikan diri. Hubungan yang mulanya istimewa, berubah menjadi hubungan yang penuh dosa dan menghancurkan masa depan keduanya. Biasanya mereka melakukan semua itu dengan alasan cinta, padahal tidak seharusnya cinta melakukannya (The Pillow of love Hal. 99).
Cinta bukan segalanya yang harus merusak kehidupan ini. Namun, cinta memberi segalanya yang mampu membangun bahterah kehidupan ini. Tentunya melalu cinta yang murni bukan karena pengaruh apapun. Jika cinta hanya karena nafsu belaka, maka cinta itu tidak akan bertahan lama. Jika cinta hanya karena sesuatu yang diinginkan, maka cinta itu akan cepat goyah ketika yang menjadi objeknya tercapai. Cinta dan nafsu tentulah berbeda. Jika cinta, tidak harus melakukan hubungan seksual yang berdasar pada nafsu belaka.
Cinta bukan untuk melakukan perbuatan dosa, tetapi cinta merupakan anugerah Tuhan yang harus dijaga kesuciannya. Cinta sejati tidak menimbulkan kewajiban, tetapi menimbulkan tanggung jawab, tidak menuntut balasan, tetapi lebih banyak memberi. Banyak penjelasan tentang cinta yang tentu saja tidak sama dengan seks. Seks terjadi karena cinta yang menuntut pamrih atau yang digerakkan oleh nafsu. Nafsu tidak bisa mengendalikan dirinya. Sehingga banyak orang melakukan perbuatan yang menyakiti hati orang lain. Orang menjadi sakit hati karena tidak memahami cinta yang sebenarnya (The Pillow of love Hal. 100).
Terkadang pada saat ini para pemuda dan pemudi mengartikan cinta bukan lagi melihat pada masa depan yang akan dijalani. Namun, mayoritas cinta diartikan sebagai bentuk kesetiaan dengan menyerahkan apa yang dimilikinya, utamanya oleh kaum perempuan yang sering mendapata ancaman akan diputus jika tidak mau diajak bersenggapa. Dan tak jarang pula ketika tidak mau melakukan hal tersebut, seorang pemuda akan berkata “kamu sudah tidak cinta lagi padaku”. Ketika begitu, dengan mudah seorang pemudi yang dirinya ingin menunjukkan kesetiaan dan rasa cintanya ia harus kehilangan keperawanannya saat usia muda belia tanpa jalan yang sah (nikah). Sehingga terkadang akibatnya ia harus aborsi, atau masa depannya buram hingga tak jelas arahnya. Dari sini, sudah jelas cinta jangan dimaknai segalanya. Cinta bukan segalanya, cinta itu suci dan tidak akan menodai pemiliknya.
Sering kita mendengar sebuah pepatah yang menyatakan bahwa “cinta itu buta”. Itu merupakan kata-kata yang sering digunakan sebagai alasan. Sebab, cinta membuat seseorang tidak mampu berpikir rasional dan nyata. Jika kita menganggap bahwa cinta itu buta, maka kita harus berhati-hati dalam mengambil langkah agar tidak jatuh jauh ke dalam lubang dan terjerumus ke jalan yang salah (The Pillow of love Hal. 104).
Dalam upaya menanggapi berbagai pamaknaan tentang cinta, arah dan tujuan cinta itu yang yang secara moral disalah artikan, buku ini mengajak para pembaca, khususnya para pemuda dan pemudi yang suka bercinta agar tidak terjerumus ke jurang kenistaan dalam hidup ini. Karena memang banyak teori mengenai cinta, namun masih banyak orang yang kesulitan dalam mendefinisikannya. Maka dari itu, buku ini sebagai alternatif dalam mengupas tentang cinta. Mulai dari pencarian, pemilihan, penyesuaian, hingga cara menjaga keutuhannya.
Peresensi : Junaidi Khab Wakil Direktur Gerakan IAIN Sunan Ampel Menulis (Gisam) IAIN Sunan Ampel Surabaya.
See more at:  suar.okezone.com

Senin, 21 April 2014

Arti CINTA dalam Islam


Kata pujangga, cinta letaknya di hati. Meskipun tersembunyi, namun getarannya tampak sekali. Ia mampu mempengaruhi pikiran sekaligus mengendalikan tindakan. Sungguh, Cinta dapat mengubah pahit menjadi manis, debu beralih emas, keruh menjadi bening, sakit menjadi sembuh, penjara menjadi telaga, derita menjadi nikmat, dan kemarahan menjadi rahmat. Cintalah yang mampu melunakkan besi, menghancurkan batu karang, membangkitkan yang mati dan meniupkan kehidupan padanya serta membuat budak menjadi pemimpin. Inilah dasyatnya cinta (Jalaluddin Rumi).
Namun hati-hati juga dengan cinta, karena cinta juga dapat membuat orang sehat menjadi sakit, orang gemuk menjadi kurus, orang normal menjadi gila, orang kaya menjadi miskin, raja menjadi budak, jika cintanya itu disambut oleh para pecinta palsu. Cinta yang tidak dilandasi kepada Allah. Itulah para pecinta dunia, harta dan wanita. Dia lupa akan cinta Allah, cinta yang begitu agung, cinta yang murni.
Cinta Allah cinta yang tak bertepi. Jikalau sudah mendapatkan cinta-Nya, dan manisnya bercinta dengan Allah, tak ada lagi keluhan, tak ada lagi tubuh lesu, tak ada tatapan kuyu. Yang ada adalah tatapan optimis menghadapi segala cobaan, dan rintangan dalam hidup ini. Tubuh yang kuat dalam beribadah dan melangkah menggapai cita-cita tertinggi yakni syahid di jalan-Nya.
Tak jarang orang mengaku mencintai Allah, dan sering orang mengatakan mencitai Rasulullah, tapi bagaimana mungkin semua itu diterima Allah tanpa ada bukti yang diberikan, sebagaimana seorang arjuna yang mengembara, menyebarangi lautan yang luas, dan mendaki puncak gunung yang tinggi demi mendapatkan cinta seorang wanita. Bagaimana mungkin menggapai cinta Allah, tapi dalam pikirannya selalu dibayang-bayangi oleh wanita/pria yang dicintai. Tak mungkin dalam satu hati dipenuhi oleh dua cinta. Salah satunya pasti menolak, kecuali cinta yang dilandasi oleh cinta pada-Nya.
Di saat Allah menguji cintanya, dengan memisahkanya dari apa yang membuat dia lalai dalam mengingat Allah, sering orang tak bisa menerimanya. Di saat Allah memisahkan seorang gadis dari calon suaminya, tak jarang gadis itu langsung lemah dan terbaring sakit.
Di saat seorang suami yang istrinya dipanggil menghadap Ilahi, sang suami pun tak punya gairah dalam hidup. Di saat harta yang dimiliki hangus terbakar, banyak orang yang hijrah kerumah sakit jiwa, semua ini adalah bentuk ujian dari Allah, karena Allah ingin melihat seberapa dalam cinta hamba-Nya pada-Nya. Allah menginginkan bukti, namun sering orang pun tak berdaya membuktikannya, justru sering berguguran cintanya pada Allah, disaat Allah menarik secuil nikmat yang dicurahkan-Nya.
Itu semua adalah bentuk cinta palsu, dan cinta semu dari seorang makhluk terhadap Khaliknya. Padahal semuanya sudah diatur oleh Allah, rezki, maut, jodoh, dan langkah kita, itu semuanya sudah ada suratannya dari Allah, tinggal bagi kita mengupayakan untuk menjemputnya. Amat merugi manusia yang hanya dilelahkan oleh cinta dunia, mengejar cinta makhluk, memburu harta dengan segala cara, dan enggan menolong orang yang papah. Padahal nasib di akhirat nanti adalah ditentukan oleh dirinya ketika hidup didunia, Bersungguh-sungguh mencintai Allah, ataukah terlena oleh dunia yang fana ini. Jika cinta kepada selain Allah, melebihi cinta pada Allah, merupakan salah satu penyebab do’a tak terijabah.
Bagaimana mungkin Allah mengabulkan permintaan seorang hamba yang merintih menengadah kepada Allah di malam hari, namun ketika siang muncul, dia pun melakukan maksiat.
Bagaimana mungkin do’a seorang gadis ingin mendapatkan seorang laki-laki sholeh terkabulkan, sedang dirinya sendiri belum sholehah.
Bagaimana mungkin do’a seorang hamba yang mendambakan rumah tangga sakinah, sedang dirinya masih diliputi oleh keegoisan sebagai pemimpin rumah tangga..
Bagaimana mungkin seorang ibu mendambakan anak-anak yang sholeh, sementara dirinya disibukkan bekerja di luar rumah sehingga pendidikan anak terabaikan, dan kasih sayang tak dicurahkan.
Bagaimana mungkin keinginan akan bangsa yang bermartabat dapat terwujud, sedangkan diri pribadi belum bisa menjadi contoh teladan
Banyak orang mengaku cinta pada Allah dan Allah hendak menguji cintanya itu. Namun sering orang gagal membuktikan cintanya pada sang Khaliq, karena disebabkan secuil musibah yang ditimpakan padanya. Yakinlah wahai saudaraku kesenangan dan kesusahan adalah bentuk kasih sayang dan cinta Allah kepada hambanya yang beriman…
Dengan kesusahan, Allah hendak memberikan tarbiyah terhadap ruhiyah kita, agar kita sadar bahwa kita sebagai makhluk adalah bersifat lemah, kita tidak bisa berbuat apa-apa kecuali atas izin-Nya. Saat ini tinggal bagi kita membuktikan, dan berjuang keras untuk memperlihatkan cinta kita pada Allah, agar kita terhindar dari cinta palsu.
Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan hambanya yang betul-betul berkorban untuk Allah Untuk membuktikan cinta kita pada Allah, ada beberapa hal yang perlu kita persiapkan yaitu:
1.      Iman yang kuat.
2.      Ikhlas dalam beramal.
3.      Mempersiapkan kebaikan Internal dan eksternal.
Kebaikan internal yaitu berupaya keras untuk melaksanakan ibadah wajib dan sunah. Seperti qiyamulail, shaum sunnah, bacaan Al-qur’an dan haus akan ilmu.
                    Sedangkan kebaikan eksternal adalah buah dari ibadah yang kita lakukan pada Allah, dengan keistiqamahan mengaplikasikannya dalam setiap langkah, dan tarikan nafas disepanjang hidup ini. Dengan demikian InsyaAllah kita akan menggapai cinta dan keridhaan-Nya.





(sumber: remajaislamcerdas)